Skenario
Nyeri
perut kanan atas
Seorang karyawan, 54 tahun, berobat ke RS YARSI. Pasien mengeluhkan
nyeri perut kanan atas yang dialami sejak 6 bulan lalu, kumat-kumatan namun dua
bulan terakhir semakin sering. Merasa mual dan selera makan berkurang 15kg.
Dari anamnesis diketahui pasien pernah terkena hepatitis 15 tahun yang lalu dan
sering mengkonsumsi alkohol.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan BB 45kg dengan TB 165cm. Tekanan
darah dan tanda vital lainnya normal. Pemeriksaan abdomen hepatomegali,dengan
permukaan hati bernodul,tepi tumpul dan nyeri tekan (+). Pada pemeriksaan laboratoriumdidapatkan
peningkatan serum transaminase SGPT 110 U/L dan SGOT 60 U/L dengan bilirubin
normal, alpha feto-protein (AFP) 1000 U/L (normal: <10 U/L), anti-HCV positif.
Setelah diberikan analgetik dan hepatoprotektor nyeri mereda. Setelah dilakukan
pemeriksaan USG dan biopsi hati, pasien didiagnosis karsinoma hepatoseluler.
Pasien dianjurkan untuk menjalani transplantasi hati. Pasien meminta waktu
untuk berkonsultasi dengan seorang ulama.
Lo
1. Memahami dan Menjelaskan Karsinoma Hepatoseluler
Li
1. Definisi
Kanker hati adalah penyakit kronis
pada hepar dengan inflamasi dan fibrosis hepar yang mengakibatkan distorsi
struktur hepar dan hilangnya sebagian besar fungsi hepar.( Gips & Willson
:1989 )
Kanker hati adalah penyakit gangguan
pada hati yang disebabkan karna hepatis kronik dalam jangka panjang yang
menyebabkan gangguan pada fungsi hati. ( Ghofar , Abdul : 2009 ).
Kanker hati berasal dari satu sel yang
mengalami perubahan mekanisme kontrol dalam sel yang mengakibatkan pembelahan
sel yang tidak terkontrol. Sel abnormal tersebut akan membentuk jutaan kopi,
yang disebut klon. Mereka tidak dapat melakukan fungsi normal sel hati dan sel
terus menerus memperbanyak diri. Sel-sel tidak normal ini akan membentuk tumor
(Anonim, 2004).
Li 2. Epidemiologi
Hepatoma meliputi 5,6% dari seluruh
kasus kanker pada manusia serta menempati peringkat kelima pada laki-laki dan
kesembilan pada perempuan sebagai kanker yang paling sering terjadi di dunia,
dan urutan ketiga dari kanker system saluran cerna setelah kanker kolorektal
dan kanker lambung. Di Amerika Serikat sekitar 80%-90% dari tumor ganas hati
primer adalah hepatoma. Angka kejadian tumor ini di Amerika Serikat hanya
sekitar 2% dari seluruh karsinoma yang ada. Sebaliknya di Afrika dan Asia hepatoma
adalah karsinoma yang paling sering ditemukan dengan angka kejadian 100/100.000
populasi. Sekitar 80% dari kasus hepatoma di dunia berada di negara berkembang
seperti Asia Timur dan Asia Tenggara serta Afrika Tengah yang diketahui sebagai
wilayah dengan prevalensi tinggi hepatitis virus.
Hepatoma
jarang ditemukan pada usia muda, kecuali di wilayah yang endemic infeksi
hepatitis B virus (HBV) serta banyak terjadi transmisi HBV perinatal. Umumnya
di wilayah dengan kekerapan hepatoma tinggi, umur pasian hepatoma 10-20 tahun
lebih muda daripada umur pasien hepatoma di wilayah dengan angka kekerapan
hepatoma rendah. Di wilayah dengan angka kekerapan hepatoma tinggi, rasio kasus
laki-laki dan perempuan dapat sampai 8:1.
Li 3. Etiologi dan
faktor resiko
Dewasa
ini hepatoma dianggap terjadi dari hasil interaksi sinergis multifaktor dan
multifasik, melalui inisiasi, akselerasi, dan transformasi, serta peran onkogen
dan gen terkait. Walaupun penyebab pasti hepatoma belum diketahui, tetapi sudah
dapat diprediksi factor risiko yang memicu hepatoma, yaitu:
1. Virus hepatitis B (HBV)
Karsinogenitas
virus hepatitis B terhadap hati mungkin terjadi melalui proses inflamasi
kronik, peningkatan proliferasi hepatosit, integrasi HBV DNA ke dalam DNA sel
penjamu, dan aktifitas protein spesifik-HBV berintegrasi dengan gen hati. Pada
dasarnya, perubahan hepatosit dari kondisi inaktif (quiescent) menjadi
sel yang aktif bereplikasi menentukan tingkat karsinogenitas hati. Siklus sel
dapat diaktifkan secara tidak langsung oleh kompensasi proliferatif merespons
nekroinflamasi sel hati, atau akibat dipicu oleh ekspresi berlebihan suatu atau
beberapa gen yang berubah akibat HBV.
2. Virus hepatitis C (HCV)
Hepatokarsinogenesis
akibat infeksi HCV diduga melalui aktifitas nekroinflamasi kronik dan sirosis
hati. Dalam meta analisis penelitian, disimpulkan bahwa risiko terjadinya
hepatoma pada pengidap infeksi HCV adalah 17 kali lipat dibandingkan dengan
risiko pada bukan pengidap.
3. Sirosis hati
Sirosis hati
merupakan faktor risiko utama hepatoma di dunia dan melatarbelakangi lebih dari
8% kasus hepatoma. Komplikasi yang sering terjadi pada sirosis adalah asites,
perdarahan saluran cerna bagian atas, ensefalopati hepatika, dan sindrom
hepatorenal. Sindrom hepatorenal adalah suatu keadaan pada pasien dengan
hepatitis kronik, kegagalan fungsi hati, hipertensi portal, yang ditandai
dengan gangguan fungsi ginjal dan sirkulasi darah. Sindrom ini mempunyai risiko
kematian yang tinggi.
4. Aflatoksin
Aflatoksin B1
(AFB1) merupakan mikotoksin yang diproduksi oleh jamur Aspergillus. Dari
percobaan binatang, diketahui bahwa AFB1 bersifat karsinogenik. Metabolit AFB1
yaitu AFB 1-2-3-epoksid merupakan karsinogen utama dari kelompok aflatoksin
yang mampu membentuk ikatan dengan DNA maupun RNA. Salah satu mekanisme
hepatokarsinogenesisnya ialah kemampuan AFB1 menginduksi mutasi pada kodon 249
dari gen supresor tumor p53.
5. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko
utama untuk non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), khususnya nonalcoholic
steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan
kemudian dapt berlanjut menjadi Hepatocelluler Carcinoma (HCC).
6. Diabetes mellitus
Pada penderita DM, terjadi
perlemakan hati dan steatohepatis non-alkoholik (NASH). Di samping itu, DM
dihubungkan dengan peningkatan kadar insulin dan insulin-like growth hormone
faktors (IGFs) yang merupakan faktor promotif potensial untuk kanker
7. Alkohol
Meskipun alkohol tidak memiliki
kemampuan mutagenik, peminum berat alkohol berisiko untuk menderita hepatoma
melalui sirosis hati alkoholik.
8. Faktor risiko lain
Bahan atau kondisi lain yang
merupakan faktor risiko hepatoma namun lebih jarang ditemukan, antara lain:
a. Penyakti hati autoimun :
hepatitis autoimun, PBS/sirosis bilier primer
b. Penyakit hati metabolik :
hemokromatosis genetik, defisiensi antiripsin-alfa1, Wilson disease
c. Kontrasepsi oral
d. Senyawa kimia : thorotrast,
vinil klorida, nitrosamine, insektisida organoklorin, asam tanik
Li 4. Klasifikasi
Standar klasifikasi stadium klinis hepatoma primer:
Ia :
tumor tunggal berdiameter 3 cm tanpa emboli tumor, tanpa metastasis kelenjar
limfe peritoneal ataupun jauh: Child A
Ib :
tumor tunggal atau dua tumor dengan diameter gabungan 5 cm, di separuh hati,
tanpa emboli tumor, tanpa metastasis kelenjar limfe peritoneal ataupun jauh:
Child A
IIa
: Tumor tunggal atau dua tumor dengan diameter gabungan 10cm, di separuh hati,
atau dua tumor dengan gabungan 5cm, dikedua belahan hati kiri dan kanan, tanpa
emboli tumor, tanpa metastasis kelenjar limfe peritoneal ataupun jauh; Child A
IIb : Tumor tunggal
atau multiple dengan diameter gabungan 10cm, di separuh hati, atau tumor
multiple dengan gabungan 5cm, dikedua belahan hati kiri dan kanan, tanpa emboli
tumor, tanpa metastasis kelenjar limfe peritoneal ataupun jauh; Child A.
Terdapat emboli tumor dipercabangan vena portal, vena hepatika atau saluran
empedu dan atau Child B.
IIIa
: Tidak peduli kondisi tumor, terdapat emboli tumor di pembuluh utamavena porta
atau vena kava inferior, metastasis kelenjar limfe peritoneal atau jauh, salah
satu daripadanya; Child A atauB
IIIb : Tidak peduli
kondisi tumor, tidak peduli emboli tumor, metastasis; Child C.
Li 5.
Patofisiologi
Mekanisme karsinogenesis hepatoma belum sepenuhnya
diketahui, apapun agen penyebabnya, transformasi maligna hepatosit, dapat
terjadi melalui peningkatan perputaran (turnover) sel hati yang
diinduksi oleh cedera (injury) dan regenerasi kronik dalam bentuk
inflamasi dan kerusakan oksidatif DNA. Hal ini dapat menimbulkan perubahan
genetik seperti perubahan kromosom, aktivasi oksigen sellular atau inaktivasi
gen suppressor tumor, yang mungkin bersama dengan kurang baiknya penanganan DNA
mismatch, aktivasi telomerase, serta induksi faktor-faktor pertumbuhan
dan angiogenik. Hepatitis virus kronik, alkohol dan penyakit hati metabolik
seperti hemokromatosis dan defisiensi antitrypsin-alfa1, mungkin menjalankan
peranannya terutama melalui jalur ini (cedera kronik, regenerasi, dan sirosis).
Aflatoksin dapat menginduksi mutasi pada gen suppressor tumor p53 dan ini
menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga berperan pada tingkat molekular untuk
berlangsungnya proses hepatogenesis.
Li 6. Manifestasi klinis
Hepatoma Sub Klinis
Yang dimaksud
hepatoma fase subklinis atau satdium dini adalah pasien yang tanpa gejala dan
tanda fisik hepatoma yang jelas, biasanya ditemukan melalui pemeriksaan AFP dan
teknik pencitraan.
Hepatoma Fase Klinis
Hepatoma fase
klinis tergolong hepatoma stadium sedang, lanjut, manifestasi utama yang sering
ditemukan adalah:
1. Nyeri abdomen kanan atas:
hepatoma stadium sedang dan lanjut sering datang berobat karena kembung dan tak
nyaman atau nyeri samar di abdomen kanan atas. Nyeri umumnya bersifat tumpul
atau menusuk intermitten atau terus-menerus, sebagian merasa area hati terbebat
kencang, disebabkan tumor tumbuh dengan cepat hingga menambah regangan pada
kapsul hati. Jika nyeri abdomen bertambah hebat atau timbul akut abdomen harus
pikirkan rupture hepatoma.
2. Massa abdomen atas: hepatoma
lobus kanan dapat menyebabkan batas atas hati bergeser ke atas, pemeriksaan
fisik menemukan hepatomegali di bawah arcus costa tapi tanpa nodul, hepatoma
segmen inferior lobus kanan sering dapat langsung teraba massa di bawah arcus
costa kanan. Hepatoma lobus kiri tampil sebagai massa di bawah processus
xiphoideus atau massa di bawah arcus costa kiri.
3. Perut kembung: timbul karena
massa tumor sangat besar, asites, dan gangguan fungsi hati.
4. Anoreksia: timbul karena fungsi
hati terganggu, tumor mendesak saluran gastrointestinal.
5. Letih, mengurus: dapat
disebabkan metabolit dari tumor ganas dan berkurangnya asupan makanan.
6. Demam: timbul karena nekrosis
tumor, disertai infeksi dan metabolit tumor, jika tanpa bukti infeksi disebut
demam kanker, umumnya tidak disertai menggigil.
7. Ikterus: kulit dan sklera tampak
kuning, umumnya karena gangguan fungsi hati, juga dapat karena sumbatan kanker
di saluran empedu atau tumor mendesak saluran empedu hingga timbul ikterus
obstruktif.
8. Lainnya: perdarahan, diare,
nyeri bahu belakang kanan, edema kedua tungkai bawah, kulit gatal dan lainnya,
juga manifestasi sirosis hati seperti splenomegali, palmar eritema, lingua
hepatik, spider nevi, venadilatasi dinding abdomen, dll. Pada stadium akhir
hepatoma sering tombul metastasis paru, tulang, dan banyak organ lain.
Li 7. Diagnosis, diagnosis banding dan
pemeriksaan penunjang.
Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih
dan maju pesat, maka berkembang pula
cara-cara diagnosis dan terapi yang
lebih menjanjikan dewasa ini. Kanker hati selular yang kecil pun sudah bisa
dideteksi lebih awal terutamanya dengan pendekatan radiologi yang akurasinya 70
– 95%1,4,8 dan pendekatan laboratorium alphafetoprotein yang akurasinya
60 – 70%.
Kriteria diagnosa Kanker Hati Selular (KHS) menurut PPHI
(Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia), yaitu:
1. Hati membesar berbenjol-benjol dengan/tanpa disertai bising
arteri.
2. AFP (Alphafetoprotein) yang meningkat lebih dari 500 ng
per ml.
3. Ultrasonography (USG), Nuclear
Medicine, Computed Tomography Scann (CT Scann), Magnetic
Resonance Imaging (MRI), Angiography, ataupun Positron Emission
Tomography (PET) yang menunjukkan adanya KHS.
4. Peritoneoscopy dan
biopsi menunjukkan adanya KHS.
5. Hasil biopsi atau aspirasi biopsi jarum halus menunjukkan KHS.
Diagnosa
KHS didapatkan bila ada dua atau lebih dari lima kriteria atau hanya satu yaitu
kriteria empat atau lima.
Pemeriksaan Penunjang
Penanda Tumor
Alfa-fetoprotein (AFP) adalah protein serum normal
yang disintesis oleh sel hati fetal, sel yolk sac dan sedikit sekali oleh
saluran gastrointestinal fetal. Rentang normal AFP serum adalah 0-20 ng/ml.
Kadar AFP meningkat pada 60% -70% dari pasien HCC, dan kadar lebih dari 400
ng/ml adalah diagnostik atau sangat sugestif untuk HCC. Nilai normal juga dapat
ditemukan juga pada kehamilan. Penanda tumor lain untuk HCC adalah des-gamma
carboxy prothrombin (DCP) atau PIVKA-2, yang kadarnya meningkat pada
hingga 91% dari pasien HCC, namun juga dapat meningkat pada defisiensi vitamin
K, hepatitis kronis aktif atau metastasis karsinoma. Ada beberapa lagi penanda
HCC, seperti AFP-L3 (suatu subfraksi AFP), alfa-L-fucosidase serum,
dll, tetapi tidak ada yang memiliki agregat sensitivitas dan spesifitas
melebihi AFP, AFP-L3 dan PIVKA-2.
Gambaran
Radiologis
A. Gambaran Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan
USG hati merupakan alat skrining yang sangat baik. Dua karakteristik kelainan
vaskular berupa hipervaskularisasi massa tumor (neovaskularisasi) dan trombosis
oleh invasi tumor. (1) Perkembangan yang cepat dari gray-scaleultrasonografi
menjadikan gambaran parenkim hati lebih jelas. Keuntungan hal ini menyebabkan
kualitas struktur eko jaringan hati lebih mudah dipelajari sehingga
identifikasi lesi-lesi lebih jelas, baik merupakan lesi lokal maupun kelainan
parenkim difus.
Pada hepatoma/karsinoma hepatoselular
sering diketemukan adanya hepar yang membesar, permukaan yang bergelombang dan
lesi-lesi fokal intrahepatik dengan struktur eko yang berbeda dengan parenkim
hati normal.
B. Computed Tomography (CT) Scan
Di
samping USG diperlukanCT scan sebagai pelengkap yang dapat menilai
seluruh segmen hati dalam satu potongan gambar yang dengan USG gambar hati itu
hanya bisa dibuat sebagian-sebagian saja.
CT scan yang saat ini teknologinya berkembang pesat telah pula
menunjukkan akurasi yang tinggi apalagi dengan menggunakan teknik hellicalCT
scan, multislice yang sanggup membuat irisan-irisan yang
sangat halus sehingga kanker yang paling kecil pun tidak terlewatkan.
Untuk menentukan ukuran
dan besar tumor, dan adanya invasi vena portal secara akurat, CT / heliks
trifasik scan perut dan panggul dengan teknik bolus kontras secara cepat harus
dilakukan untuk mendeteksi lesi vaskular khas pada HCC. Invasi vena portal
biasanya terdeteksi sebagai hambatan dan ekspansi dari pembuluh darah. CT scan
dada digunakan untuk menghilangkan diagnosis adanya metastasis.
C. Angiografi
Pada setiap pasien yang akan menjalani
operasi reseksi hati harus dilakukan pemeriksaan angiografi. Dengan
angiografi ini dapat dilihat berapa luas kanker yang sebenarnya. Kanker yang
kita lihat dengan USG yang diperkirakan kecil sesuai dengan ukuran pada USG
bisa saja ukuran sebenarnya dua atau tiga kali lebih besar. Angigrafi bisa
memperlihatkan ukuran kanker yang sebenarnya.
D. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan dengan MRI ini langsung dipilih
sebagai alternatif bila ada gambaran CT scann yang meragukan
atau pada penderita yang ada risiko bahaya radiasi sinar X dan pada penderita
yang ada kontraindikasi (risiko bahaya) pemberian zat contrast sehingga
pemeriksaan CT angiography tak memungkinkan padahal diperlukan
gambar peta pembuluh darah.
Diagnosis banding
1. Hemangioma
2. Abses hepar
Li 8. Penatalaksanaan
A. Terapi Operasi
1. Reseksi Hepatik
Untuk pasien dalam kelompok non
sirosis yang biasanya mempunyai fungsi hati normal pilihan utama terapi adalah
reseksi hepatik. Namun untuk pasien sirosis diperlukan kriteria seleksi karena
operasi dapat memicu timbulnya gagal hati yang dapat menurunkan angka harapan
hidup. Kontra indikasi tindakan ini adalah metastasis ekstrahepatik,
hepatoseluler karsinoma difus atau multifokal, sirosis stadium lanjut dan
penyakit penyerta yang dapat mempengaruhi ketahanan pasien menjalani operasi.
2. Transplantasi Hati
Transplantasi
hati memberikan kemungkinan untuk menyingkirkan tumor dan menggantikan parenkim
hati yang mengalami disfungsi. Kematian pasca transplantasi tersering
disebabkan oleh rekurensi tumor di dalam maupun di luar transplant. Tumor yang
berdiameter kurang dari 3 cm lebih jarang kambuh dibandingkan dengan tumor yang
diameternya lebih dari 5 cm.
3. Terapi Operatif non
Reseksi
Karena tumor menyebar atau alasan lain yang
tidak dapat dilakukan reseksi, dapat dipertimbangkan terapi operatif non
reseksi mencakup injeksi obat melalui kateter transarteri hepatik atau
kemoterapi embolisasi saat operasi, kemoterapi melalui keteter vena porta saat
operasi, ligasi arteri hepatika, koagulasi tumor hati dengan gelombang mikro,
ablasi radiofrekuensi, krioterapi dengan nitrogen cair, efaforisasi dengan
laser energi tinggi saat operasi, injeksi alkohol absolut intratumor saat
operasi.
B. Terapi Lokal
1. Ablasi
radiofrekuensi (RFA)
Ini adalah
metode ablasi local yang paling sering dipakai dan efektif dewasa ini.
Elektroda RFA dimasukkan ke dalam tumor, melepaskan energi radiofrekuensi
hingga jaringan tumor mengalami nekrosis koagulatifn panas, denaturasi, jadi
secara selektif membunuh jaringan tumor. Satu kali RFA menghasilkan nekrosis
seukuran bola berdiameter 3-5 cm sehingga dapat membasmi tuntas mikrohepatoma,
dengan hasil kuratif.
2. Injeksi alkohol
absolut intratumor perkutan
Di bawah panduan
teknik pencitraan, dilakukan pungsi tumor hati perkutan, ke dalam tumor
disuntikkan alkohol absolut. Penggunaan umumnya untuk hepatoma kecil yang tak
sesuai direseksi atau terapi adjuvant pasca kemoembolisasi arteri hepatik.
C. Kemoembolisasi arteri
hepatik perkutan
Kemoembolisasi
arteri hepatik transketer (TAE, TACE) merupakan cara terapi yang sering
digunakan untuk hepatoma stadium sedang dan lanjut yang tidak sesuai dioperasi
reseksi. Hepatoma terutama mendapat pasokan darah dari arteri hepatik, setelah
embolisasi arteri hepatik, nodul kanker menjadi iskemik, nekrosis, sedangkan
jaringan hati normal mendapat pasokan darah terutama dari vena porta sehingga
efek terhadap fungsi hati secara keseluruhan relative kecil. Sesuai digunakan
untuk tumor sangat besar yang tak dapat direseksi, tumor dapat direseksi tapi
diperkirakan tak tahan operasi, hepatoma rekuren yang tak dapat direseksi,
hepatoma rekuren yang tak dapat direseksi, pasca reseksi hepatoma, suksek
terdapat residif, dll.
D. Kemoterapi
Hepatoma relatif
kurang peka terhadap kemoterapi, efektivas kemoterapi sistemik kurang baik.
Yang tersering dipaki adalah 5FU, ADR, MMC, karboplatin, MTX, 5-FUDR, DDP,
TSPA, kamtotesin, dll.
E. Radioterapi
Radioterapi
eksternal sesuai untuk pasien dengan lesi hepatoma yang relatif terlokalisasi,
medan radiasi dapat mencakup seluruh tumor, selain itu sirosis hati tidak
parah, pasien dapat mentolerir radioterapi. Radioterapi umumnya digunakan
secara bersama metode terapi lain seperti herba, ligasi arteri hepatik,
kemoterapi transarteri hepatik, dll. Sedangkan untuk kasus metastasis stadium
lanjut dengan metastasis tulang, radiasi lokal dapat mengatasi nyeri. Dapat
juga memakai biji radioaktif untuk radioterapi internal terhadap hepatoma.
Li 9. Komplikasi
1.
Gagal
hati
2.
Melena
3.
Haematemesis
4.
Koma
hepatikum
Li 10. Prognosis
Biasanya hasilnya tidak ada harapan.
Prognosis tergantung atas stadium penyakit dan penyebaran pertumbuhan tumor.
Tumor kecil (diameter < 3 cm) berhubungan dengan kelangsungan hidup satu tahun
90.7%, 2 tahun 55% dan 3 tahun 12.8%. kecepatan pertumbuhan bervariasi dari
waktu kewaktu. Pasien tumor massif kurang mungkin dapat bertahap hidup selama 3
bulan. Kadang-kadang dengan tumor yang tumbuh lambat dan terutama yang
berkapsul kecil, kelanngsungan hidup 2-3 tahun atau bahkan lebih lama. Jenis
massifperjalanannya lebih singakat dibandingkan yang nodular. Metastasis paru
dan peningkatan bilirubin serum mempengaruhi kelangsungan hidup.pasien berusia
< 45 tahun bertahan hidup lebih lama dibandingkan usia tua. Ukuran tumor
yang melebihi 50% ukuran hati dan albumin serul < 3 g/dl merupakan gambaran
yang tidak menyenangkan.
Lo 2. Memahami dan menjelaskan tentang
transplantasi organ menurut islam
Bagaimana hukum transplantasi tersebut menurut hukum Islam? Dibolehkan
ataukah diharamkan?
Untuk menentukan
hukum boleh tidaknya transplantasi organ tubuh, perlu dilihat kapan
pelakasanaannya.
Sebagaimana
dijelaskan ada tiga keadaan transplantasi dilakukan, yaitu pada saat donor
masih hidup sehat, donor ketika sakit (koma) dan didiuga kuat akan meninggal
dan donor dalam keadaan sudah meninggal. Berikut hukum transplantasi sesuai
keadaannya masing-masing.
Pertama, apabila pencangkokan tersebut dilakukan, di mana
donor dalam keadaan sehat wal afiat, maka hukumnya menurut Prof Drs. Masyfuk
Zuhdi, dilarang (haram) berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
Firman Allah
dalam surat Al-Baqaroah: 195
Artinya:”Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu hke dalam kebinasaan”
Dalam kasus ini,
orang yang menyumbangkan sebuah mata atau ginjalnya kepada orang lain yang buta
atau tidak mempunyai ginjal… ia (mungkin) akan menghadapi resiko sewaktu-waktu
mengalami tidak normalnya atau tidak berfungsinya mata atau ginjalnya yang
tinggal sebuah itu (Ibid, 88).
2. Kaidah
hukum Islam:
Artinya:”Menolak
kerusakan harus didahulukan atas meraih kemaslahatan”
Dalam kasus ini,
pendonor mengorbankan dirinya dengan cara melepas organ tubuhnya untuk
diberikan kepada dan demi kemaslahatan orang lain, yakni resipien.
3. Kaidah
Hukum Islam:
Artinya” Bahaya
tidak boleh dihilangkan dengan bahaya lainnya.”
Dalam kasus ini
bahaya yang mengancam seorang resipien tidak boleh diatasi dengan cara membuat
bahaya dari orang lain, yakni pendonor.
Kedua, apabila transplantasi dilakukan terhadap donor yang
dalam keadaan sakit (koma) atau hampir meninggal, maka hukum Islam pun tidak
membolehkan (Ibid, 89), berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
Hadits
Rasulullah:
Artinya:”Tidak
boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membayakan diri orang lain.”
(HR. Ibnu Majah).
Dalam kasus ini
adalah membuat madaharat pada diri orang lain, yakni pendonor yang dalam
keadaan sakit (koma).
2. Orang
tidak boleh menyebabkan matinya orang lain. Dalam kasus ini orang yang sedang
sakit (koma) akan meninggal dengan diambil organ tubuhnya tersebut.
Sekalipun tujuan dari pencangkokan tersebut adalah mulia, yakni
untuk menyembuhkan sakitnya orang lain (resipien).
Ketiga, apabila pencangkokan dilakukan ketika pendonor
telah meninggal, baik secara medis maupun yuridis, maka menurut hukum Islam ada
yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang membolehkan menggantungkan
pada dua syarat sebagai berikut:
1. Resipien
dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia sudah menempuh
pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak berhasil. (ibi, 89).
2. Pencangkokan
tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat bagi repisien
dibandingkan dengan keadaan sebelum pencangkokan.
Adapun alasan
membolehkannya adalah sebagai berikut:
Al-Qur’an Surat
Al-Baqarah 195 di atas.
Ayat tersebut
secara analogis dapat difahami, bahwa Islam tidak membenarkan pula orang
membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya atau tidak berfungsi organ tubuhnya
yang sangat vital, tanpa ausaha-usaha penyembuhan termasuk pencangkokan di
dalamnya.
Surat Al-Maidah:
32.
Artinya;”Dan
barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia
memelihara kehidupan manusia seluruhnya.”
Ayat ini sangat
menghargai tindakan kemanusiaan yang dapat menyelematkan jiwa manusia.
Dalam kasus ini
seseorang yang dengan ikhlas menyumbangkan organ tubuhnya setelah meninggal,
maka Islam membolehkan. Bahkan memandangnya sebagai amal perbuatan kemanusiaan
yang tinggi nilainya, lantaran menolong jiwa sesama manuysia atau membanatu
berfungsinya kembali organ tubuh sesamanya yang tidak berfungsi. (Keputusan
Fatwa MUI tentang wasiat menghibahkan kornea mata).
Artinya:”Berobatlah
wahai hamba Allah, karen sesungguhnya Allah tidak meletakkan penyakit kecuali
Dia meletakkan jua obatnya, kecuali satu penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu
penyakit tua.”
Dalam kasus ini,
pengobatannya adalah dengan cara transplantasi organ tubuh.
1. Kaidah
hukum Islam
Artinya:”Kemadharatan
harus dihilangkan”
Dalam kasus ini
bahaya (penyakit) harus dihilangkan dengan cara transplantasi.
2. Menurut
hukum wasiat, keluarga atau ahli waris harus melaksanakan wasiat orang yang
meninggal.Dalam kasus ini adalah wasiat untuk donor organ tubuh. Sebaliknya,
apabila tidak ada wasiat, maka ahli waris tidak boleh melaksanakan
transplantasi organ tubuh mayat tersebut.
Pendapat yang
tidak membolehkan kornea mata adalah seperti Keputusan Majelis Tarjih
Muhammadiyah.
Daftar Pustaka :
1.
Nurjanah
S, carsinoma hepatoseluler, buku ajar penyakit dalam edisi IV jilid 2. Jakarta.
2.
Robbins
and Cottran, buku saku dasar patologis penyakit. Jakarta.
3.
terimakasih buat artikelnya.. informasi yang sangat bermanfaat..
BalasHapushttp://tokoonlineobat.com/obat-penyakit-kanker-hati-alami/