SKENARIO II
ANYANG-ANYANGAN
Seorang perempuan, usia 23 tahun datang ke dokter
puskesmas dengan keluhan nyeri saat
buang air kecil dan anyang-anyangan. Eluhan ini dirassakan sejak dua hari
yang lalu. Dalam pemeriksaan fisik tida ditemukan kelainan kecuali nyeri tekan
supra simpisis. Pada pemeriksaan urinalisis didapatkan peningakatan leukosit
dalam sedimen urin kemudian disarankan untuk melakukan pemeriksaan kultur urin.
STEP I
Sasaran Belajar
L.O
1 Memahami dan menjelaskan Anatomi makroskopis
dan mikroskopis vesika urinaria dan uretra
1.1 Makroskopis
vesika urinaria dan uretra
1.2 Mikroskopis
vesika urinaria dan uretra
L.O
2 Memahami dan menjelaskan Fisiologis proses
berkemih
L.O
3 Memahami dan menjelaskan Infeksi
Saluran Kemih
3.1
Definisi
3.2
Epidemiologi
3.3
etiologi dan klasifikasi
3.5
manifestasi klinis
3.6
diagnosis
3.7
pemeriksaan penunjang
3.8
penatalaksanaan
3.9
komplikasi
3.10
prognosis
3.11
pencegahan
L.O
4 Memahami dan menjelaskan salasil baul (rukhshah dalam
thaharah)
STEP II
MANDIRI
STEP III
L.O 1 Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis dan mikroskopis vesika urinaria dan uretra
1.1
Makroskopis vesika urinaria
dan uretra
Vesika Urinaria

Vesica
urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan tempat
untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui ureter, untuk selanjutnya
diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi
sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum,
organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik
dan saraf.
Dalam
keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atas tiga
bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan
(superior dan inferolateral dextra dan sinistra) serta empat tepi (anterior,
posterior, dan lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri
dari otot m.detrusor (otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum
vesicae pada bagian posteroinferior dan collum vesicae. Trigonum vesicae
merupakan suatu bagian berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium
kedua ureter dan collum vesicae, bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak
memiliki rugae walaupun dalam keadaan kosong.
PENDARAHAN
Vesicae
urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior. Namun pada
perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis.
PERSYARAFAN
Sedangkan
persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan
parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus
imus, dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis melalui
n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan motorik.
Uretra
Uretra
merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju
lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita.
Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai
organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada
wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria memiliki dua otot sphincter
yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat
involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat
volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior
dari kandung kemih dan bersifat volunter).
Ø
Saluran terakhir dari sistem
urinarius
Ø
Mulai dari orificium urethra
internum sampai orificium urethra externum
Ø
Pada laki-laki, urethra terbagi
atas 3 daerah :
1.
Urethra pars prostatica
2.
Urethra pars membranacea
3.
Urethra pars cavernosa
Urethra Pars Prostatica
Þ Mulai dari orifisium urethra internum sampai urethra
yang ditutupi oleh Glandula prostat & berada di rongga pelvis.
Uretra Pars Membranacea
Þ Mulai dari urethra pars prostatica sampai bulbus penis
pars cavernosa (paling pendek= 1-2 cm)
Uretra Pars Cavernosa
Þ Mulai dari daerah bulbus penis sampai orifisium
urethra externum, berjalan dalam corpus cavernosa urethra (penis)
12-15 cm.
Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih
pendek (3.5 cm) dibanding uretra pada pria. Setelah melewati diafragma
urogenital, uretra akan bermuara pada orifisiumnya di antara klitoris dan
vagina (vagina opening). Terdapat m. spchinter urethrae yang bersifat
volunter di bawah kendali somatis, namun tidak seperti uretra pria, uretra pada
wanita tidak memiliki fungsi reproduktif.
PERDARAHAN
Ø a.dorsalis penis
Ø a.bulbo urethralis
PERSARAFAN
Cabang-cabang n.pudendus

1.2 Mikroskopis vesika urinaria
dan uretra
VesikaUrinaria
•
Mukosa
–
Dilapisi epitel
transisional, dengan ketebalan 5-6 lapisan sel, pada saat teregang menjadi 2-3
lapis sel
–
Pada permukaan
terdapat sel payung
·
Waktu vesika
teregang, sel pada lapisan paling atas menjadi gepeng

•
Tunika
muskularis terdiri dari otot polos tiga lapis, sebelah dalam longitudinal,
tengah sirkular dan sebelah luar longitudinal
![]() |
Uretra
•
Pada wanita
lebih pendek
•
Hanya berfungsi
membawa urin dari vesika urinaria
•
Urethra laki2 selain membawa urin juga berfungsi menyalurkan sperma pada
ejakulasi
Urethra laki2 selain membawa urin juga berfungsi menyalurkan sperma pada
ejakulasi
Uretra Wanita
•
Pendek, 4-5 cm
•
Dilapisi epitel berlapis gepeng, dibeberapa
tempat terdapat epitel bertingkat
torak
•
Dipertengahan
urethra terdapat sphinter eksterna (muskular bercorak)
Uretra Laki-Laki
–
Pars prostatica
•
Paling dekat ke
vesica urinaria
•
Ductus
ejaculatorius bermuara dekat
verumontanum, (tonjolan kedalam
lumen),
dimana cairan seminal msk
dlm uretra
•
Dilapisi epitel transitional
–
Pars membranosa
•
Dilapisi epitel bertingkat torak
•
Dibungkus oleh
sphincter urethra externa
(voluntary)
–
Pars
bulbosa/spongiosa
•
Terletak didalam
corpus spongiosum penis
•
Umumnya dilapisi
epitel bertingkat torak
dibeberapa
tempat terdapat epitel berlapis gepeng
–
Pars pendulosa
•
Ujung distal
lumen urethra melebar: fossa navicularis
•
Kelenjar Littre,
kelenjar mukosa yang terdapat disepanjang urethra, terutama pada
pars
pendulosa

Uretra Laki-laki![]() |
L.O 2 Memahami dan menjelaskan Fisiologis proses berkemih
PROSES MIKSI
Mekanisme proses Miksi ( Mikturisi ) Miksi (
proses berkemih ) ialah proses di mana kandung kencing akan mengosongkan
dirinya waktu sudah penuh dgn urine. Mikturisi ialah proses pengeluaran urine
sebagai gerak refleks yang dapat dikendalikan (dirangsang/dihambat) oleh sistim
persarafan dimana gerakannya dilakukan oleh kontraksi otot perut yg menambah
tekanan intra abdominalis, dan organ organ lain yang menekan kandung kencing
sehigga membantu mengosongkan urine.
Reflex mikturisi adalah reflex medulla spinalis
yang bersifat otonom, yg dikendalikan oleh suatu pusat di otak dan korteks
cerebri. Reflex mikturisi merupakan penyebab dasar berkemih, tetapi biasanya
pusat yang lebih tinggi yang akan melakukan kendali akhir untuk proses
mikturisi sebagai berikut :
1.
Pusat yang lebih tinggi
menjaga agar reflex mikturisi tetap terhambat sebagian, kecuali bila mikturisi
diinginkan
2.
Pusat yang lebih tinggi
dapat mencegah mikturisi, bahkan jika terjadi reflex mikturisi, dengan cara
sfingter kandung kemih eksterna terus-menerus melakukan kontraksi tonik hingga
saat yang tepat datang dengan sendirinya
3.
Jika waktu berkemih
tiba, pusat kortikal dapat memfasilitasi pusat mikturisi sacral untuk membantu
memulai reflex mikturisi dan pada saat yang sama menghambat sfingter eksterna
sehingga pengeluaran urin dapat terjadi.
MEKANISME BERKEMIH
Dalam keadaan normal kandung kemih dan uretra
berhubungan secara simultan dalam penyimpanan dan pengeluaran urin.Selam
penyimpanan, leher kandung kemih dan uretra proksimal menutup, dan tekanan
intra uretra berkisar antara 20-50 cmH2O.Sementara itu otot detrusor
berelaksasisehingga tekanan kandung kemih tetap rendah.
Mekanisme berkemih terdiri dari 2 fase, yaitu
fase pengisian dan fase pengosongan kandung kemih
1. Fase pengisian (filling phase)
Untuk mempertahankan
kontinensia urin, tekanan intra uretra selamanya harus melebihi tekanan intra
vesikal kecuali pada saat miksi.Selama masa pengisian, ternyata hanya terjadi
sedikit peningkatan tekanan intra vesika, hal ini disebabkan oleh kelenturan
dinding vesikal dan mekanisme neural yang diaktifkan pada saat pengisian vesika
urinaria.Mekanisme neural ini termasuk refelk simpatis spinal yang mengatifkan
reseptor ᵦ pada vesika urinaria dan menghambat
aktifitas parasimpatis. Selama masa pengisian vesika urinaria tidak ada
aktivitas kontraktil involunter pada detrusor.
Tekanan normal intra
vesika maksimal adalah 50 cm H2O sedangkan tekanan intrauretra dalam keadaan
istirahat antar 50-100 cm H2O.
Selama pengisian vesika
urinaria,tekanan uretra perlahan meningkat. Peningkatan pada saat pengisian
vesika urinaria cenderung kerah peningkatan aktifitas otot lurik
spinchter.Refelek simpatis juga meningkatkan stimulasi reseptor a pada otot
polos uretra dan meningkatkan kontraksi uretra pada saat pengisian vesika
urinaria.
2. Fase miksi (Voiding phase)
Selama fase miksi
terjadi penurunan tekanan uretra yang mendahului kontraksi otot detrusor.
Terjadi peningkatan intravesika selama peningkatan sensasi distensi untuk
miksi.Pusat miksi terletak pada batang otak.Reflek simpatis dihambat, aktifitas
efferent somatic pada oto lurik spinchter dihambat dan aktifitas parasimpatis
pada otot detrusor ditingkatkan.Semua ini menghasilkan kontraksi yang
terkoordinasi dari otot detrusor bersamaan dengan penurunan resistensi yang
melibatkan otot lurik dan polos uretra.Terjadi penurunan leher vesika urinaria
dan terjadi aliran urin. Ketika miksi secara volunter, dasar panggul
berkontraksi untuk meninggikan leher vesika urinaria kearah simfisis
pubis,leher vesika tertutup dan tekanan detrusor menurun.
Pengeluaran urin secara volunter biasanya
dimulai dengan cara sebagai berikut : Mula-mula, orang tersebut
secara volunter mengkontraksikan otot perutnya, yang akan meningkatkan tekanan
di dalam kandung kemih dan memunkinkan urin tambahan memasuki leher kandung
kemih dan uretra posterior dalam keadaan di bawah tekanan, sehingga meregangkan
dindingnya. Hal ini memicu reseptor regang, yang mencetuskan reflex mikturisi
dan secara bersamaan menghambat sfingter uretra eksterna. Biasanya, seluruh
urin akan dikeluarkan, dan menyisakan tidak lebih dari 5-10 milimeter urin di
dalam kandung kemih.
Atau dapat dijelaskan melalui skema berikut :
Pertambahan vol urine → tek intra vesicalis ↑ →
keregangan dinding vesicalis (m.detrusor) → sinyal-sinyal miksi ke pusat saraf
lebih tinggi (pusat kencing) → untuk diteruskan kembali ke saraf saraf spinal →
timbul refleks spinal → melalui n. Pelvicus → timbul perasaan tegang pada
vesica urinaria shg akibatnya menimbulkan permulaan perasaan ingin berkemih.
L.O 3 Memahami dan
menjelaskan Infeksi Saluran Kemih
3.1
Definisi
Infeksi
saluran kemih ( ISK ) adalah ditemukannya bakteri pada urin kandung kemi, yang
umumnya steril
3.2
Epidemiologi
Infeksi
saluran kemih ( ISK ) tergantung banyak faktor, seperti usia, gender,
prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan
struktur saluran kemih termasuk ginjal.
Selama
priode usia berapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita
ISK di bandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarag di laporkan,
kecuali disertai faktor predisposisi( pencetus ).
Prevalensi
bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan. Prevalensi
selama priode sekolah (school girls) 1% meningkat mencapai 30% baik laki-laki maupun
perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti di bawah ini :
·
Litiasis
·
Obstruksi
salarun kemih
·
Penyakit
ginjal polikistik
·
Nekrosis
papilar
·
Diabetes
melitus pasca transplantasi ginjal
·
Nefropati
analgesik
·
Penyakit
sikle-cell
·
Senggama
·
Kehamilan
dan peserta KB dengan tablet progesteron
·
Kateterisasi
3.3
etiologi dan
klasifikasi
Etiologi
Biasanya
bakteri enterik, terutama escherichia coli pada wanita. Gejala bervariasi
tergantung dari variasi jenis bakteri tersebut. Pada pria dan pasien rumah
sakit, 30-40% disebabkan proteus, stafilokok, dan bahkan pseudomonas. Bola
ditemukan, kemungkinan besar tedapat kelainan saluran kemih. Namun harus
diperhitungkan kemungkinan kontaminasi jika ditemukan lebih dari satu
organisme.
Klasifikasi
Infeksi saluran kemih ( ISK ) bawah
Presentasi
klinis ISK bawah tergantung dari gender :
1.
Perempuan
-
Sistitis.
Sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai bakteriuria
bermakna
-
Sindrom
uretra akut ( SUA ). Sindrom uretra akut adalah presentasi klinis sintitis tanpa
ditemukan mikroorganisme ( steril), sering dinamakan sistitis bakterialis.
Penelitian terkini SUA disebabkan MO anaerobik.
2.
Laki-laki
Persentasi
klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostetitis, epidimidis dan
uretris.
Infeksi saluran kemih ( ISK ) atas
1.
Pielonefritis
akut ( PNA ) adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan infeksi
bakteri.
2.
Pielonefritis
kronik ( PNK ) mungkin akibat lanjut dari infeksi berkepanjangan atau infeksi
sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter dengan atau
tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim
ginjal yang ditandai pielonefritis kronik yang spesifik. Bakteriuria
asimtomatik kronik pada orang dewasa tanpa faktor predisposisi tidak pernah mennyebabkan
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal.
Data
epidemiologi klinik tidak pernah melaporkan hubungn antara bakteriuria
asimtomatik dengan pielonefritis kronik
3.4
patogenesis
Bakteri masuk ke saluran kemih
manusia dapat melalui beberapa cara yaitu :
-
Penyebaran
endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat
-
Hematogen
-
Limfogen
-
Eksogen
sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi
Dua jalur utama masuknya bakteri ke saluran
kemih adalah jalur hematogen dan asending, tetapi asending lebih sering
terjadi.
1.
Infeksi
hematogen (desending)
Infeksi
hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah, karena
menderita suatu penyakit kronik, atau pada pasien yang sementara mendapat
pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen dapat juga terjadi akibat adanya
fokus infeksi di salah satu tempat. Contoh mikroorganisme yang dapat menyebar
secara hematogen adalah Staphylococcus aureus, Salmonella sp, Pseudomonas,
Candida sp., dan Proteus sp.
Ginjal yang
normal biasanya mempunyai daya tahan terhadap infeksi E.coli karena itu jarang
terjadi infeksi hematogen E.coli. Ada beberapa tindakan yang mempengaruhi
struktur dan fungsi ginjal yang dapat meningkatkan kepekaan ginjal sehingga
mempermudah penyebaran hematogen. Hal ini dapat terjadi pada keadaan sebagai
berikut :
ü
Adanya
bendungan total aliran urin
ü
Adanya
bendungan internal baik karena jaringan parut maupun terdapatnya presipitasi
obat intratubular, misalnya sulfonamide
ü
Terdapat
faktor vaskular misalnya kontriksi pembuluh darah
ü
Pemakaian
obat analgetik atau estrogen
ü
Pijat
ginjal
ü
Penyakit
ginjal polikistik
ü
Penderita
diabetes melitus
2.
Infeksi
asending
- Kolonisasi uretra dan daerah
introitus vagina
Saluran kemih
yang normal umumnya tidak mengandung mikroorganisme kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya juga dihuni
oleh bakteri normal kulit seperti basil difteroid, streptpkokus. Di samping
bakteri normal flora kulit, pada wanita, daerah 1/3 bagian distal uretra ini
disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis yang juga banyak dihuni
oleh bakteri yang berasal dari usus karena letak usus tidak jauh dari tempat
tersebut. Pada wanita, kuman penghuni terbanyak pada daerah tersebut adalah
E.coli di samping enterobacter dan S.fecalis. Kolonisasi E.coli pada wanita didaerah
tersebut diduga karena :
ü
adanya
perubahan flora normal di daerah perineum
ü
Berkurangnya
antibodi lokal
ü
Bertambahnya
daya lekat organisme pada sel epitel wanita
- Masuknya mikroorganisme
dalam kandung kemih
Proses masuknya
mikroorganisme ke dalam kandunh kemih belum diketahui dengan jelas. Beberapa
faktor yang mempengaruhi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih adalah
:
1)
Faktor
anatomi
Kenyataan bahwa infeksi saluran
kemih lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki disebabkan karena :
ü
Uretra
wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat anus
ü
Uretra
laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret prostat merupakan
antibakteri yang kuat
2)
Faktor
tekanan urin pada waktu miksi
Mikroorganisme naik ke kandung
kemih pada waktu miksi karena tekanan urin. Selama miksi terjadi refluks ke
dalam kandung kemih setelah pengeluarann urin.
3)
Faktor
lain, misalnya
ü
Perubahan
hormonal pada saat menstruasi
ü
Kebersihan
alat kelamin bagian luar
ü
Adanya
bahan antibakteri dalam urin
ü
Pemakaian
obat kontrasepsi oral
- Multiplikasi bakteri dalam
kandung kemih dan pertahanan kandung kemih
Dalam keadaan
normal, mikroorganisme yang masuk ke dalam kandung kemih akan cepat menghilang,
sehingga tidak sempat berkembang biak dalam urin. Pertahanan yang normal dari
kandung kemih ini tergantung tiga faktor yaitu :
1)
Eradikasi
organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan pemgenceran urin
2)
Efekantibakteri
dari urin, karena urin mengandung asam organik yang bersifat bakteriostatik.
Selain itu, urin juga mempunyai tekanan osmotik yang tinggi dan pH yang rendah
3)
Mekanisme
pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik
Mekanisme
pertahanan mukosa ini diduga ada hubungannya dengan mukopolisakarida dan
glikosaminoglikan yang terdapat pada permukaan mukosa, asam organik yang bersifat
bakteriostatik yang dihasilkan bersifat lokal, serta enzim dan lisozim. Selain
itu, adanya sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu
sendiri, juga IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa. Terjadinya
infeksi sangat tergantung pada keseimbangan antara kecepatan proliferasi
bakteri dan daya tahan mukosa kandung kemih.
Eradikasi
bakteri dari kandung kemih menjadi terhambat jika terdapat hal sebagai berikut
: adanya urin sisa, miksi yang tidak kuat, benda asing atau batu dalam kandung
kemih, tekanan kandung kemih yang tinggi atau inflamasi sebelumya pada kandung
kemih.
- Naiknya bakteri dari kandung
kemih ke ginjal
Hal ini
disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi dari pelvis ke
korteks karena refluks internal. Refluks vesikoureter adalah keadaan patologis
karena tidak berfungsinya valvula vesikoureter sehingga aliran urin naik dari
kandung kemih ke ginjal. Tidak berfungsinya valvula vesikoureter ini disebabkan
karena :
ü
Memendeknya
bagian intravesikel ureter yang biasa terjadi secara kongenital
ü
Edema
mukosa ureter akibat infeksi
ü
Tumor
pada kandung kemih
ü
Penebalan
dinding kandung kemih
3.5
manifestasi
klinis
►
Gejala
– gejala dari cystitis sering meliputi:
· Gejala yang
terlihat, sering timbulnya dorongan untuk berkemih
· Rasa terbakar
dan perih pada saat berkemih
· Seringnya
berkemih, namun urinnya dalam jumlah sedikit (oliguria)
· Adanya sel darah
merah pada urin (hematuria)
· Urin berwarna
gelap dan keruh, serta adanya bau yang menyengat dari urin
· Ketidaknyamanan
pada daerah pelvis renalis
· Rasa sakit pada
daerah di atas pubis
· Perasaan
tertekan pada perut bagian bawah
· Demam
· Anak – anak yang
berusia di bawah lima tahun menunjukkan gejala yang nyata, seperti lemah, susah
makan, muntah, dan adanya rasa sakit pada saat berkemih.
· Pada wanita yang
lebih tua juga menunjukkan gejala yang serupa, yaiu kelelahan, hilangnya
kekuatan, demam
· Sering berkemih
pada malam hari
Pada anak –
anak, mengompol juga menandakan gejala adanya infeksi saluran kemih.
Gejala- gejala
dari cystitis di atas disebabkan karena beberapa kondisi:
· Penyakit seksual
menular, misalnya gonorrhoea dan chlamydia
· Terinfeksi
bakteri, seperti E-coli
· Jamur (Candida)
· Terjadinya
inflamasi pada uretra (uretritis)
· Wanita atau
gadis yang tidak menjaga kebersihan bagian kewanitaannya
· Wanita hamil
· Inflamasi pada
kelerjar prostat, tau dikenal dengan prostatitis
· Seseorang yang
menggunakan cateter
· Anak muda yang
melakukan hubungan seks bebas
Jika infeksi
dibiarkan saja, infeksi akan meluas dari kandung kemih hingga ginjal. Gejala –
gejala dari adanya infeksi pada ginjal berkaitan dengan gejala pada cystitis,
yaitu demam, kedinginan, rasa nyeri pada punggung, mual, dan muntah. Cystitis
dan infeksi ginjal termasuk dalam infeksi saluran kemih.
►
Tidak
setiap orang dengan infeksi saluran kemih dapat dilihat tanda – tanda dan
gejalanya, namun umumnya terlihat beberapa gejala, meliputi:
· Desakan yang
kuat untuk berkemih
· Rasa terbakar
pada saat berkemih
· Frekuensi
berkemih yang sering dengan jumlah urin yang sedikit (oliguria)
· Adanya darah
pada urin (hematuria)
Setiap tipe dari
infeksi saluran kemih memilki tanda – tanda dan gejala yang spesifik,
tergantung bagian saluran kemih yang terkena infeksi:
- Pyelonephritis
akut. Pada tipe ini, infeksi pada ginjal mungkin terjadi setelah meluasnya
infeksi yang terjadi pada kandung kemih. Infeksi pada ginjal dapat
menyebabkan rasa salit pada punggung atas dan panggul, demam tinggi,
gemetar akibat kedinginan, serta mual atau muntah.
- Cystitis.
Inflamasi atau infeksi pada kandung kemih dapat dapat menyebabkan rasa
tertekan pada pelvis, ketidaknyamanan pada perut bagian bawah, rasa sakit
pada saat urinasi, dan bau yang mnyengat dari urin.
- Uretritis.
Inflamasi atau infeksi pada uretra menimbulkan rasa terbakar pada saat
urinasi. Pada pria, uretritis dapat menyebabkan gangguan pada penis.
Gejala infeksi
saluran kemih pada anak – anak, meliputi:
- Diarrhea
- Menangis
tanpa henti yang tidak dapat dihentikan dengan usaha tertentu (misalnya:
pemberian makan, dan menggendong)
- Kehilangan
nafsu makan
- Demam
- Mual dan muntah
Untuk anak –
anak yang lebih dewasa, gejala yang ditunjukkan berupa:
- rasa sakit
pada panggul dan punggung bagian bawah (dengan infeksi pada ginjal)
- seringnya
berkemih
- ketidakmampuan
memprodukasi urin dalam jumlah yang normal, dengan kata lain, urin
berjumlah sedikit (oliguria)
- tidak dapat
mengontrol pengeluaran kandung kemih dan isi perut
- rasa sakit
pada perut dan daerah pelvis
- rasa sakit
pada saat berkemih (dysuria)
- urin
berwarna keruh dan memilki bau menyengat
Gejala pada
infeksi saluran kemih ringan (misalnya: cystitis, uretritis) pada orang dewasa,
meliputi:
- rasa sakit
pada punggung
- adanya
darah pada urin (hematuria)
- adanya
protein pada urin (proteinuria)
- urin yang
keruh
- ketidakmampuan
berkemih meskipun tidak atau adanya urin yang keluar
- demam
- dorongan
untuk berkemih pada malam hari (nokturia)
- tidak nafsu
makan
- lemah dan
lesu (malaise)
- rasa sakit
pada saat berkemih (dysuria)
- rasa sakit
di atas bagian daerah pubis (pada wanita)
- rasa tidak
nyaman pada daerah rectum (pada pria)
Gejala yang
mengindikasikan infeksi saluran kemih lebih berat (misalnya: pyelonephritis)
pada orang dewasa, meliputi:
- kedinginan
- demam
tinggi dan gemetar
- mual
- muntah
(emesis)
- rasa sakit
di bawah rusuk
- rasa sakit
pada daerah sekitar abdome
Merokok,
ansietas, minum kopi terlalu banyak, alergi makanan atau sindrom pramenstruasi
bisa menyebabkan gejala mirip infeksi saluran kemih.Gejala infeksi saluran
kemih pada bayi dan anak kecil. Infeksi
saluran kemih pada bayi dan anak usia belum sekolah memilki kecendrungan lebih
serius dibandingkan apabila terjadi pada wanita muda, hal ini disebabkan karena
memiliki ginjal dan saluran kemih yang lebih rentan terhadap infeksi.
Gejala pada bayi dan anak kecil yang sering terjadi,
meliputi:
- Kecendrungan
terjadi demam tinggi yang tidak diketahui sebabnya, khususnya jika
dikaitkan dengan tanda – tanda bayi yang lapar dan sakit, misalnya: letih
dan lesu.
- Rasa sakit
dan bau urin yang tidak enak. ( orang tua umumnya tidak dapat
mengidentifikasikan infeksi saluran kemih hanya dengan mencium urin bayinya.
Oleh karena itu pemeriksaan medis diperlukan).
- Urin yang
keruh. (jika urinnya jernih, hal ini hanya mirip dengan penyakit, walaupun
tidak dapat dibuktikan kebenarannya bahwa bayi tersebut bebas dari Infeksi
saluran kemih).
4. rasa sakit pada bagian abdomen
dan punggung.
5. muntah dan sakit pada daerah
abdomen (pada bayi)
6. jaundice (kulit yang kuning dan
mata yang putih) pada bayi, khususnya bayi yang berusia setlah delapan hari.
3.6
diagnosis
Untuk
pemeriksaan infeksi saluran kemih, digunakan urin segar (urin pagi). Urin pagi
adalah urin yang pertama – tama diambil pada pagi hari setelah bangun tidur.
Digunakan urin pagi karena yang diperlukan adalah pemeriksaan pada sedimen dan
protein dalam urin. Sampel urin yang sudah diambil, harus segera diperiksa dalam
waktu maksimal 2 jam. Apabila tidak segera diperiksa, maka sampel harus
disimpan dalam lemari es atau diberi pengawet seperti asam format.
Bahan untuk
sampel urin dapat diambil dari:
·
Urin
porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna dicuci dulu dengan air sabun dan
NaCl 0,9%.
·
Urin
yang diambil dengan kateterisasi 1 kali.
·
Urin
hasil aspirasi supra pubik.
Bahan
yang dianjurkan adalah dari urin porsi tengah dan aspirasi supra pubik.
Pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:
- Pemeriksaan
laboratorium
1.
Analisa Urin (urinalisis)
Pemeriksaan
urinalisis meliputi:
·
Leukosuria
(ditemukannya leukosit dalam urin).
Dinyatakan
positif jika terdapat 5 atau lebih leukosit (sel darah putih) per lapangan
pandang dalam sedimen urin.
·
Hematuria
(ditemukannya eritrosit dalam urin).
Merupakan
petunjuk adanya infeksi saluran kemih jika ditemukan eritrosit (sel darah
merah) 5-10per lapangan pandang sedimen urin. Hematuria bisa juga karena adanya
kelainan atau penyakit lain, misalnya batu ginjal dan penyakit ginjal lainnya.
2.
Pemeriksaan
bakteri (bakteriologis)
Pemeriksaan bakteriologis meliputi:
·
Mikroskopis.
Bahan:
urin segar (tanpa diputar, tanpa pewarnaan).
Positif
jika ditemukan 1 bakteri per lapangan pandang.
·
Biakan bakteri.
Untuk
memastikan diagnosa infeksi saluran kemih.
3.
Pemeriksaan
kimia
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri
dalam urin. Contoh, tes reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram
negatif. Batasan: ditemukan lebih 100.000 bakteri. Tingkat kepekaannya mencapai
90 % dengan spesifisitas 99%.
4.
Tes
Dip slide (tes plat-celup)
Untuk menentukan jumlah bakteri per cc urin.
Kelemahan cara ini tidak mampu mengetahui jenis bakteri.
5.
Pemeriksaan
penunjang lain
Meliputi:
radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan Scanning.
Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya batu atau
kelainan lainnya.
- Pemeriksaan penunjang dari
infeksi saluran kemih terkomplikasi:
1.
Bakteriologi / biakan urin
Tahap ini dilakukan untuk pasien dengan
indikasi:
·
Penderita
dengan gejala dan tanda infeksi saluran kemih (simtomatik).
·
Untuk
pemantauan penatalaksanaan infeksi saluran kemih.
·
Pasca
instrumentasi saluran kemih dalam waktu lama, terutama pasca keteterisasi urin.
·
Penapisan
bakteriuria asimtomatik pada masa kehamilan.
·
Penderita
dengan nefropati / uropati obstruktif, terutama sebelum dilakukan
Beberapa
metode biakan urin antara lain ialah dengan plat agar konvensional, proper
plating technique dan rapid methods. Pemeriksaan dengan rapid
methods relatif praktis digunakan dan memiliki ambang sensitivitas sekitar
104 sampai 105 CFU (colony forming unit) kuman.
2.
Interpretasi hasil biakan urin
Setelah
diperoleh biakan urin, maka dilakukan interpretasi. Pada biakan urin dinilai
jenis mikroorganisme, kuantitas koloni (dalam satuan CFU), serta tes
sensitivitas terhadap antimikroba (dalam satuan millimeter luas zona hambatan).
Pada uretra bagian distal, daerah perianal, rambut kemaluan, dan sekitar vagina
adalah habitat sejumlah flora normal seperti laktobasilus, dan streptokokus
epidermis. Untuk membedakan infeksi saluran kemih yang sebenarnya dengan
mikroorganisme kontaminan tersebut, maka hal yang sangat penting adalah jumlah
CFU. Sering terdapat kesulitan dalam mengumpulkan sampel urin yang murni tanpa kontaminasi
dan kerap kali terdapat bakteriuria bermakna tanpa gejala, yang menyulitkan
penegakkan diagnosis infeksi saluran kemih. Berdasarkan jumlah CFU, maka
interpretasi dari biakan urin adalah sebagai berikut:
a.
Pada
hitung koloni dari bahan porsi tengah urin dan dari urin kateterisasi.
·
Bila
terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah disebut dengan
bakteriuria bermakna
·
Bila
terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis
disebut bakteriuria asimtomatik
·
Bila
terdapat mikroba 102 – 103 CFU/ml urin kateter pada
wanita muda asimtomatik yang disertai dengan piuria disebut infeksi saluran
kemih.
b.
Hitung
koloni dari bahan aspirasi supra pubik.
Berapapun jumlah
CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi saluran
kemih.
Interpretasi praktis
biakan urin oleh Marsh tahun 1976, ialah sebagai berikut:
Kriteria praktis
diagnosis bakteriuria. Hitung bakteri positif bila didapatkan:
·
>
100.000 CFU/ml urin dari 2 biakan urin porsi tengah yang dilakukan seara
berturut – turut.
·
>
100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah dengan leukosit > 10/ml
urin segar.
·
>
100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah disertai gejala klinis
infeksi saluran kemih.
·
>
10.000 CFU/ml urin kateter.
·
Berapapun
CFU dari urin aspirasi suprapubik.
Berbagai faktor
yang mengakibatkan penurunan jumlah bakteri biakan urin pada infeksi saluran
kemih:
·
Faktor
fisiologis
ü Diuresis yang
berlebihan
ü Biakan yang
diambil pada waktu yang tidak tepat
ü Biakan yang
diambil pada infeksi saluran kemih dini (early state)
ü Infeksi
disebabkan bakteri bermultiplikasi lambat
ü Terdapat
bakteriofag dalam urin
·
Faktor
iatrogenic
ü Penggunaan
antiseptic pada waktu membersihkan genitalia
ü Penderita yang
telah mendapatkan antimikroba sebelumnya
Cara biakan yang
tidak tepat:
·
Media
tertentu yang bersifat selektif dan menginhibisi
·
Infeksi
E. coli (tergantung strain), baketri anaerob, bentuk K, dan basil tahan asam
Jumlah koloni
mikroba berkurang karena bertumpuk.
3.
Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari piuria
a.
Urin
tidak disentrifus (urin segar)
Piuria
apabila terdapat ≥10 leukosit/mm3 urin dengan menggunakan kamar
hitung.
b.
Urin
sentrifus
Terdapatnya
leukosit > 10/Lapangan Pandang Besar (LPB) disebut sebagai piuria. Pada
pemeriksaan urin porsi tengah dengan menggunakan mikroskop fase kontras, jika
terdapat leukosit >2000/ml, eritrosit >8000/ml, dan casts leukosit
>1000/ml, maka disebut sebagai infeksi saluran kemih.
c.
Urin
hasil aspirasi suprapubik
Disebut
piuria jika didapatkan >800 leukosit/ml urin aspirasi supra pubik. Keadaan
piuria bukan merupakan indikator yang sensitif terhadap adanya infeksi saluran
kemih, tetapi sensitif terhadap adanya inflamasi saluran kemih.
4.
Tes Biokimia
Bakteri tertentu
golongan enterobacteriae dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit (Griess
test), dan memakai glukosa (oksidasi). Nilai positif palsu prediktif tes
ini hanya <5%. Kegunaan tes ini terutama untuk infeksi saluran kemih rekurens
yang simtomatik. Pada infeksi saluran kemih juga sering terdapat proteinuria
yang biasanya < 1 gram/24 jam. Membedakan bakteriuria dan infeksi saluran
kemih yaitu, jika hanya terdapat piuria berarti inflamasi, bila hanya terdapat
bakteriuria berarti kolonisasi, sedangkan piuria dengan bakteriuria disertai
tes nitrit yang positif adalah infeksi saluran kemih.
5.
Lokalisasi infeksi
Tes ini dilakukan dengan indikasi:
a.
Setiap
infeksi saluran kemih akut (pria atau wanita) dengan tanda – tanda sepsis.
b.
Setiap
episode infeksi saluran kemih (I kali) pada penderita pria.
c.
Wanita
dengan infeksi rekurens yang disertai hipertensi dan penurunan faal ginjal.
d.
Biakan
urin menunjukkan bakteriuria pathogen polimikrobal.
Penentuan
lokasi infeksi merupakan pendekatan empiris untuk mengetahui etiologi infeksi
saluran kemih berdasarkan pola bakteriuria, sekaligus memperkirakan prognosis,
dan untuk panduan terapi. Secara umum dapat dikatakan bahwa infeksi saluran
kemih atas lebih mudah menjadi infeksi saluran kemih terkomplikasi. Suatu tes
noninvasif pembeda infeksi saluran kemih atas dan bawah adalah dengan ACB (Antibody-Coated
Bacteria). Pemeriksaan ini berdasarkan data bahwa bakteri yang berasal dari
saluran kemih atas umumnya diselubungi antibody, sementara bakteri dari infeksi
saluran kemih bawah tidak. Pemeriksaan ini lebih dianjurkan untuk studi
epidemiologi, karena kurang spesifik dan sensitif.
Identifikasi /
lokalisasi sumber infeksi:
a.
Non
invasif
·
Imunologik
ü ACB (Antibody-Coated
Bacteria)
ü Autoantibodi
terhadap protein saluran Tam-Horsfall
ü Serum antibodi
terhadap antigen polisakarida
ü Komplemen C
·
Nonimunologik
ü Kemampuan
maksimal konsentrasi urin
ü Enzim urin
ü Protein Creaktif
ü Foto polos
abdomen
ü Ultrasonografi
ü CT Scan
ü Magnetic
Resonance Imaging
(MRI)
ü Bakteriuria
polimikrobial / relaps setelah terapi (termasuk pada terapi tunggal)
b.
Invasif
ü Pielografi IV / Retrograde
/ MCU
ü Kultur dari
bahan urin kateterisasi ureteroan bilasan kandung kemih
ü Biopsi ginjal
(kultur pemeriksaan imunofluoresens)
6.
Pemeriksaan radiologis dan penunjang lainnya
Prinsipnya
adalah untuk mendeteksi adanya faktor predisposisi infeksi saluran kemih, yaitu
hal – hal yang mengubah aliran urin dan stasis urin, atau hal – hal yang
menyebabkan gangguan fungsional saluran kemih. Pemeriksaan tersebut antara lain
berupa:
a.
Foto
polos abdomen
Dapat
mendeteksi sampai 90% batu radio opak
b.
Pielografi
intravena (PIV)
Memberikan
gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi system
pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode infeksi
saluran kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat hipertensi,
pielonefritis akut, riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan kreatinin plasma
sampai < 2 mg/dl, bakteriuria asimtomatik pada kehamilan, lebih dari 3
episode infeksi saluran kemih dalam setahun. PIV dapat mengkonfirmasi adanya
batu serta lokasinya. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi batu radiolusen dan
memperlihatkan derajat obstruksi serta dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini
sebaiknya dilakukan setelah > 6 minggu infeksi akut sembuh, dan tidak
dilakukan pada penderita yang berusia lanjut, penderita DM, penderita dengan
kreatinin plasma > 1,5 mg/dl, dan pada keadaan dehidrasi.
c.
Sistouretrografi
saat berkemih
Pemeriksaan ini
dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral, terutama pada anak –
anak.
d.
Ultrasonografi
ginjal
Untuk melihat
adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process, ukuran dan
bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada ginjal.
e.
Pielografi
antegrad dan retrograde
Pemeriksaan ini
dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive dan mengandung factor
resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu dilakukan pada refluks vesikoureteral
dan pada infeksi saluran kemih berulang untuk mencari factor predisposisi
infeksi saluran kemih.
f.
CT-scan
Pemeriksaan ini
paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada parenkim ginjal, termasuk
mikroabses ginjal dan abses perinefrik. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk
menunjukkan adanya kista terinfeksi pada penyakit ginjal polikistik. Perlu
diperhatikan bahwa pemeriksaan in lebih baik hasilnya jika memakai media
kontras, yang meningkatkan potensi nefrotoksisitas.
g.
DMSA
scanning
Penilaian
kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat dilakukan dengan
skintigrafi yang menggunakan (99mTc) dimercaptosuccinicacid (DMSA).
Pemeriksaan ini terutama digunakan untuk anak – anak dengan infeksi saluran
kemih akut dan biasanya ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih.
Pemeriksaan ini 10 kali lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks ginjal
dibanding ultrasonografi.
3.7
pemeriksaan
penunjang
PEMERIKSAAN
Bagi yang mampu (banyak uang cak), bisa jadi pemeriksaan lengkap tidak menjadi masalah berarti. (hiks, tetap masalah kalo terlampau mahal ya) Masalah besar jika ISK menimpa pasien tak mampu, mahal sih, alih-alih mau periksa nan lengkap dengan biaya aduhai, untuk makan saja sudah teramat berat.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:
Bagi yang mampu (banyak uang cak), bisa jadi pemeriksaan lengkap tidak menjadi masalah berarti. (hiks, tetap masalah kalo terlampau mahal ya) Masalah besar jika ISK menimpa pasien tak mampu, mahal sih, alih-alih mau periksa nan lengkap dengan biaya aduhai, untuk makan saja sudah teramat berat.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:
- Analisa Urin
(urinalisis)
- Pemeriksaan bakteri
(bakteriologis)
- Pemeriksaan kimia
- Tes Dip slide
- Pemeriksaan penunjang
lain meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan
Scanning. Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada
tidaknya batu atau kelaianan lainnya.
Analisa Urin (urinalisis)
- Leukosuria (ditemukannya leukosit dalam urin).
Dinyatakan positif jika terdapat 5 atau lebih leukosit (sel darah putih)
per lapangan pandang dalam sedimen urine.
- Hematuria (ditemukannya eritrosit dalam urin).
Merupakan petunjuk adanya ISK jika ditemukan eritrosit (sel darah merah)
5-10 per lapangan pandang sedimen urin. Hematuria bisa juga karena adanya
kelainan atau penyakit lain, misalnya batu ginjal dan penyakit ginjal
lainnya.
Pemeriksaan bakteri (bakteriologis)
Pemeriksaan ini meliputi
pemeriksaan secara mikroskopis dan biakan bakteri.
- Mikroskopis.
Bahan: urin segar (tanpa diputar, tanpa pewarnaan). Positif jika ditemukan
1 bakteri per lapangan pandang.
- Biakan bakteri.
Ditujukan untuk memastikan diagnosa ISK.
Pemeriksaan kimia (tes kimiawi)
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Tingkat kepekaannya mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes reduksi griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Tingkat kepekaannya mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.
Tes Dip slide (tes plat-celup)
Berguna untuk menentukan jumlah bakteri per cc urin. Kelemahan cara ini tidak mampu mengetahui jenis bakteri.
Berguna untuk menentukan jumlah bakteri per cc urin. Kelemahan cara ini tidak mampu mengetahui jenis bakteri.
3.8
penatalaksanaan
Obat
Tepat Indikasi untuk Infeksi Saluran Kemih
Pada ISK yang tidak
memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila sudah terjadi
keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika.(5) Antibiotika
yang diberikan berdasarkan atas kultur kuman dan test kepekaan antibiotika.(1)
Tujuan pengobatan ISK
adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia,
mencegah dan mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul
dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping
yang minimal. (6)
Banyak obat-obat
antimikroba sistemik diekskresikan dalam konsentrasi tinggi ke dalam urin.
Karena itu dosis yang jauh dibawah dosis yang diperlukan untuk mendapatkan efek
sistemik dapat menjadi dosis terapi bagi infeksi saluran kemih.(7)
Untuk menyatakan adanya ISK
harus ditemukan adanya bakteri di dalam urin. Indikasi yang paling penting
dalam pengobatan dan pemilihan antibiotik yang tepat adalah mengetahui jenis
bakteri apa yang menyebabkan ISK.(8) Biasanya yang paling sering
menyebabkan ISK adalah bakteri gram negatif Escherichia coli. Selain itu
diperlukan pemeriksaan penunjang pada ISK untuk mengetahui adanya batu atau
kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK sehingga mampu
menganalisa penggunaan obat serta memilih obat yang tepat. (1)
Bermacam cara pengobatan
yang dilakukan pada pasien ISK, antara lain :
-
pengobatan dosis tunggal
-
pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
-
pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
-
pengobatan profilaksis dosis rendah
-
pengobatan supresif (1)
Berikut obat yang tepat
untuk ISK :
Sulfonamide :
Sulfonamide dapat
menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara struktur analog
dengan asam p-amino benzoat (PABA).(7) Biasanya diberikan per oral,
dapat dikombinasi dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di
ekskresi di ginjal. Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran
kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi yang menyebabkan produksi
PABA berlebihan. (9)
Efek samping yang
ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan
pencernaan (nausea, vomiting, diare), Hematotoxicity (granulositopenia,
(thrombositopenia, aplastik anemia) dan lain-lain. (9,10) Mempunyai
3 jenis berdasarkan waktu paruhnya :
- Short
acting
- Intermediate
acting
- Long
acting (9)
Trimethoprim :
Mencegah sintesis THFA, dan
pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim dihydrofolate reductase
yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic acid.
Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan
ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas
spp. Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat
diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut (7,11)
Efek samping :
megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia. (9)
Trimethoprim +
Sulfamethoxazole (TMP-SMX):
Jika kedua obat ini
dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat, mencegah resistensi, dan
bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati infeksi pada saluran
kemih, pernafasan, telinga dan infeksi sinus yang disebabkan oleh Haemophilus
influenza dan Moraxella catarrhalis. (7,9,10) Karena
Trimethoprim lebih bersifat larut dalam lipid daripada Sulfamethoxazole, maka
Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar dibandingkan dengan
Sulfamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg +
Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat efektif pada
infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah. (7) Dua
tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam waktu lama infeksi saluran
kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali seminggu untuk
berbulan-bulan sebagai pencegahan infeksi saluran kemih yang berulang-ulang
pada beberapa wanita. (7)
Efek samping : pada pasien
AIDS yang diberi TMP-SMX dapat menyebabkan demam, kemerahan, leukopenia dan
diare.(9)
Fluoroquinolones :
Mekanisme kerjanya adalah
memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat topoisomerase II (DNA gyrase)
topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah relaksasi supercoiled DNA
yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal. (9)
Fluoroquinolon menghambat bakteri batang gram negatif termasuk enterobacteriaceae,
Pseudomonas, Neisseria. Setelah pemberian per oral,
Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan didistribusikan secara luas dalam
cairan tubuh dan jaringan, walaupun dalam kadar yang berbeda-beda. (7)
Fluoroquinolon terutama diekskresikan di ginjal dengan sekresi tubulus dan
dengan filtrasi glomerulus. Pada insufisiensi ginjal, dapat terjadi akumulasi
obat. (7)
Efek samping yang paling
menonjol adalah mual, muntah dan diare. Fluoroquinolon dapat merusak kartilago
yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah umur 18
tahun. (7)
- Norfloxacin :
Merupakan generasi pertama
dari fluoroquinolones dari nalidixic acid, sangat baik untuk infeksi
saluran kemih. (9)
- Ciprofloxacin :
Merupakan generasi kedua
dari fluoroquinolones, mempunyai efek yang bagus dalam melawan bakteri gram
negatif dan juga melawan gonococcus, mykobacteria, termasuk Mycoplasma
pneumoniae. (9)
- Levofloxacin
Merupakan generasi ketiga
dari fluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua tetapi lebih
baik untuk bakteri gram positif. (9)
Nitrofurantoin :
Bersifat bakteriostatik dan
bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negatif. Nitrofurantoin
diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan
diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri
sistemik.(12) Obat ini diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian
rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang dewasa adalah 50 sampai 100
mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan. (7)
Efek samping : anoreksia,
mual, muntah merupakan efek samping utama. Neuropati dan anemia hemolitik
terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase.(7)
Obat tepat digunakan untuk
pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal
Ginjal merupakan organ yang
sangat berperan dalam eliminasi berbagai obat sehingga gangguan yang terjadi
pada fungsi ginjal akan menyebabkan gangguan eliminasi dan mempermudah
terjadinya akumulasi dan intoksikasi obat. (1)
Faktor penting dalam
pemberian obat dengan kelainan fungsi ginjal adalah menentukan dosis obat agar
dosis terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya efek toksik. (13)
Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik obat akan terganggu
sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi tubuh.
Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis, beberapa obat dapat mudah
terdialisis, sehingga diperlukan dosis obat yang lebih tinggi untuk mencapai
dosis terapeutik.(1) Gagal ginjal akan menurunkan absorpsi dan
menganggu kerja obat yang diberikan secara oral oleh karena waktu pengosongan
lambung yang memanjang, perubahan PH lambung, berkurangnya absorpsi usus dan
gangguan metabolisme di hati.(1) Untuk mengatasi hal ini dapat
dilakukan berbagai upaya antara lain dengan mengganti cara pemberian,
memberikan obat yang merangsang motilitas lambung dan menghindari pemberian
bersama dengan obat yang menggangu absorpsi dan motilitas.(1)
Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pemberian obat pada kelainan fungsi ginjal adalah :
-
penyesuaian dosis obat agar tidak terjadi akumulasi dan intoksikasi obat
- pemakaian obat yang bersifat nefrotoksik
seperti aminoglikosida, Amphotericine B, Siklosporin. (1)
Bentuk dan dosis obat yang
tepat untuk diberikan kepada pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal
Pada pasien ISK yang
terinfeksi bakteri gram negatif Escherichia coli dengan kelainan fungsi
ginjal adalah dengan mencari antibiotik yang tidak dimetabolisme di ginjal.
Beberapa jurnal dan text book dikatakan penggunaan Trimethoprim +
Sulfamethoxazole (TMP-SMX) mempunyai resiko yang paling kecil dalam hal
gangguan fungsi ginjal. Hanya saja penggunaanya memerlukan dosis yang lebih
kecil dan waktu yang lebih lama.
Pada ekskresi obat perlu
diperhatikan fungsi ginjal, yang diikuti dengan penurunan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG), terutama obat yang diberi dengan jangka panjang harus selalu
memperhitungkan fungsi ginjal pasien. Secara praktis dapat diukur dengan creatine
clearance test.(1) LFG sangat berguna untuk menilai
fungsi ginjal karena kreatinin merupakan zat yang secara prima difiltrasi
dengan jumlah yang cuma sedikit akan tetap bervariasi terhadap bahan yang
disekresi.
Trimethoprim +
Sulfamethoxazole (TMP-SMX) :
Dosis yang diberikan pada
pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal haruslah lebih rendah. Pada pasien
dengan creatine clearance 15 hingga 30 ml/menit, dosis yang diberikan
adalah setengah dari dosis Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg yang
diberikan tiap 12 jam. (9) Cara pemberiannya dapat dilakukan secara
oral maupun intravena. (7,9)
Penghitungan creatine
clearance: TKK = (140 – umur) x berat badan
72 x kreatinin serum
3.9
komplikasi
Sedehana (
uncomplicated ) dan tipe berkomplikasi (
complicated )
§ ISK sederhana (
uncomplicated ) ISK akut tipe sederhana (
sistitis ) yaitu non-obstruksi dan bukan perempuan hamil merupakan penyakitringan
( self limited disease ) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka
lama
§ ISK tipe berkomplikasi
( complicated )
v ISK selama kehamilan dari umur kehamilan;
seperti terlihat pada morbiditas
ISK selama kehamilan
v ISK pada
diabetes mellitus, penelitian epidemilologi klinik melaporkan bakteriuria dan
ISK lebih sering ditemukan pada
DM dibandingkan dengan perempuan tanpa
DM
·
Morbiditas ISK selamakehamilan
v Kondisi : BAS* tidak diobati
Resikopotensial : pielonefritis, bayi
premature, anemia, pregnance-induced hypertension
v Kondisi : ISK trimesker III
Resikopotensial :bayi mengalami retardasimental, pertumbuhan bayi lambat, cerebralpalsy, fetal
death
*BAS : basiluria asimtomatik
Basuluria asimtomati
(BAS) merupakan resiko untuk pielonefritis diikuti penurunan laju filtrasi glomerulus
(LFG). Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis
yang terkait spesies candida dan infeksi
gram-negatif lainnya dapat dijumpai pada
DM. Pielonefritisemfisematosa disebabkan MO
pembentuk gas seperti E.coli, candida spp dan klostridium tidak jarang dijumpai pada
DM. pembentuk gas sangat intensif pada parenkim ginjal dan jaringan nekrosis disertai hematom
yang luas. Pielonefritisemfisematosa sering disertai syok septik dan nefrotik akut
vasomotor (AVH). Abses perinefrik merupakan komplikasi
ISK pada pasien dengan DM (47%), nefrolitiasis
(41%), dan obstruksi ureter
(20%)
3.10
prognosis
1. Bila segera diobati umumnya baik
2. Dapat terjadi gagal ginjal
3. Pada sistitis hampir selalu reinfeksi
4. Pada saluran kemih atas lebih banyak terjadi relaps
3.11
pencegahan
Data
epidemiologi klinik mengungkapkan uji saring bakteriuria asimtomatik bersifat
selektif dengan tujuan utama untuk mencegah menjadi bakteriuria disertai
presentasi klinik ISK.Uji saring bakteriuri aasimtomatik harus rutin dengan
jadwal tertentu untuk kelompok pasien perempuan hamil, pasien DM terutama perempuan, dan pasca tranplantasi ginjal
perempuan dan laki-laki dan kateterisasi perempuan dan laki-laki.
L.O 4 Memahami dan
menjelaskan salasil baul (rukhshah dalam thaharah)
Kesucian lahir dan batin
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan
pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar
berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir
atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian
kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);
sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha
Pengampun.
Bersuci merupakan persyaratan dari beberapa macam ibadah,
karena itu bersuci memperoleh tempat yang utama dalam ajaran Islam. Berbagai
aturan dan hukum ditetapkan oleh syara dengan maksud antara lain agar manusia
menjadi suci dan bersih baik lahir maupun batin.
Kesucian dan kebersihan lahir dan batin merupakan pangkal keindahan dan kesehatan. Oleh karena itu hubungan kesucian dan kebersihan dengan keindahan dan kesehatan erat sekali. Pokok dari ajaran islam tentang pengaturan hidup bersih, suci dan sehat bertujuan agar setiap muslim dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi.
Kebersihan dan kesucian lahir dan batin merupakan hal yang utama dan terpuji dalam ajaran Islam, karena dengan kesucian an kebersihan dapat meningkatkan derajat harkat dan martabat manusia di hadirat Allah SWT
Kesucian dan kebersihan lahir dan batin merupakan pangkal keindahan dan kesehatan. Oleh karena itu hubungan kesucian dan kebersihan dengan keindahan dan kesehatan erat sekali. Pokok dari ajaran islam tentang pengaturan hidup bersih, suci dan sehat bertujuan agar setiap muslim dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi.
Kebersihan dan kesucian lahir dan batin merupakan hal yang utama dan terpuji dalam ajaran Islam, karena dengan kesucian an kebersihan dapat meningkatkan derajat harkat dan martabat manusia di hadirat Allah SWT
Tayamum
Ø
Tayamum adalah pengganti wudhu atau
mandi wajib yang tadinya seharusnya menggunakan air bersih digantikan dengan
menggunakan tanah atau debu yang bersih. Yang boleh dijadikan alat tayamum
adalah tanah suci yang ada debunya. Dilarang bertayamum dengan tanah berlumpur,
bernajis atau berbingkah. Pasir halus, pecahan batu halus boleh dijadikan alat
melakukan tayamum.
Orang yang melakukan tayamum lalu shalat, apabila air sudah
tersedia maka ia tidak wajib mengulang sholatnya. Namun untuk menghilangkan
hadas, harus tetap mengutamakan air daripada tayamum yang wajib hukumnya bila
sudah tersedia. Tayamum untuk hadas hanya bersifat sementara dan darurat hingga
air sudah ada.
Tayamum yang telah dilakukan bisa batal apabila ada air
dengan alasan tidak ada air atau bisa menggunakan air dengan alasan tidak dapat
menggunakan air tetapi tetap melakukan tayamum serta sebab musabab lain seperti
yang membatalkan wudu dengan air.
Ø Sebab / Alasan Melakukan Tayamum :
Ø Dalam perjalanan jauh
Ø Jumlah air tidak mencukupi karena jumlahnya sedikit
Ø Telah berusaha mencari air tapi tidak diketemukan
Ø Air yang ada suhu atau kondisinya mengundang kemudharatan
Ø Air yang ada hanya untuk minum
Ø Air berada di tempat
yang jauh yang dapat membuat telat shalat
Ø Pada sumber air yang ada memiliki bahaya
Ø
Sakit dan tidak boleh terkena air
Ø
Syarat Sah Tayamum :
Ø
Telah masuk waktu salat
Ø
Memakai tanah berdebu yang bersih
dari najis dan kotoran
Ø
Memenuhi alasan atau sebab melakukan
tayamum
Ø
Sudah berupaya / berusaha mencari
air namun tidak ketemu
Ø
Tidak haid maupun nifas bagi wanita
/ perempuan
Ø
Menghilangkan najis yang yang
melekat pada tubuh
Ø
Sunah / Sunat Ketika Melaksanakan
Tayamum :
Ø
Membaca basmalah
Ø
Menghadap ke arah kiblat
Ø
Membaca doa ketika selesai tayamum
Ø
Medulukan kanan dari pada kiri
Ø
Meniup debu yang ada di telapak
tangan
Ø
Menggodok sela jari setelah menyapu
tangan hingga siku
Ø
Rukun Tayamum :
Ø
Niat Tayamum.
Ø
Menyapu muka dengan debu atau tanah.
Ø
Menyapu kedua tangan dengan debu
atau tanah hingga ke siku.
Ø
Tata Cara / Praktek Tayamum :
Ø
Membaca basmalah
Ø
Renggangkan jari-jemari, tempelkan
ke debu, tekan-tekan hingga debu melekat.
Ø
Angkat kedua tangan lalu tiup telapat
tangan untuk menipiskan debu yang menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari
sumber debu tadi.
Ø
Niat tayamum : Nawaytuttayammuma
listibaa hatishhalaati fardhollillahi ta'aala (Saya niat tayammum untuk
diperbolehkan melakukan shalat karena Allah Ta'ala).
Ø
Mengusap telapak tangan ke muka
secara merata
Ø
Bersihkan debu yang tersisa di
telapak tangan
Ø
Ambil debu lagi dengan merenggangkan
jari-jemari, tempelkan ke debu, tekan-tekan hingga debu melekat.
Ø
Angkat kedua tangan lalu tiup
telapat tangan untuk menipiskan debu yang menempel, tetapi tiup ke arah
berlainan dari sumber debu tadi.
Ø
Mengusap debu ke tangan kanan lalu
ke tangan kiri
DAFTAR PUSTAKA
·
Prince, Sylvia. A. 2005. Patofisiologi Buku 2 Edisi 6. Jakarta: EGC
·
Sudoyo, Aru,
dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi V. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI
·
Sherwood,
Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari
Sel ke Sistem Edisi 2. EGC : Jakarta
·
Putz, Reinhard
& Reinhard Pabst. 2006. Atlas Anatomi
Manusia Sobotta, Jilid 2 Edisi 22. Jakarta: EGC
·
Syam, Edward
& Inmar Raden. 2009. Bahan Kuliah
Anatomi Sistem Urinarius. Jakarta: FK YARSI
·
Purnomo,
Basuki. 2009. Dasar-dasar Urologi ed. 2.
Jakarta : Sagung Seto
·
Rifa`i,
M. 2006. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap.
Semarang : PT. Karya Toha Putra


Tidak ada komentar:
Posting Komentar