Minggu, 08 April 2012

Asma


LANGKAH - 1 ( menentukan sasaran belajar )
Tiu 1 : Memahami dan menjelaskan tentang etiologi dan patogenesis asma
1.1  Definisi asma
1.2  Etiologi asma
1.3  Klasifikasi asma
1.4  Epidemiologi asma
1.5  Patogenesis asma
Tiu 2 : Memahami dan menjelaskan tentang diagnosis asma
2.1  Manifestasi klinik
2.2  Pemeriksaan fisik
2.3  Pemeriksaan penunjang
Tiu 3 : Memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan asma
3.1  Farmakoterapi
3.2  Prognosis
3.3  Pencegahan
Tiu 4 : Memahami dan menjelaskan tentang kebersihan dalam islam

















LANGKAH - 2 ( belajar mandiri)




























LANGKAH - 3
Tiu 1 : Memahami dan menjelaskan tentang etiologi dan patogenesis asma
Definisi Asma
Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran respiratorik denga n banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Dalam penerapan klinis untuk anak, Pedoman Nasional Asma Anak, menggunakan definisi operasional untuk asma, yaitu : timbul secara episodik dan/ atau kronik, cenderung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus, dan riwayat asma keluarga. Penyakit asma paling banyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Alergi dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Disamping itu banyak permasalahan kesehatan lain yang menyertai berupa gangguan organ tubuh lain dan gangguan perilaku.
Etiologi Asma
Trigger (pemicu) yang berbeda-beda dapat menyebabkan eksaserbasi asma oleh karena inflamasi saluran napas atau bronkhospasme akut atau keduanya. Sesuatu yang dapat memicu serangan asma sangat bervariasi antara satu individu dengan individu yang lain dan dari satu waktu ke waktu yang lain.
  1. Faktor pada pasien :
    • Aspek genetik
    • Kemungkinan alergi
    • Saluran napas yang memang mudah terangsang
    • Jenis kelamin
    • Ras/etnik
  2. Faktor lingkungan :
    • Bahan-bahan di dalam ruangan :
      • Tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronyssinus)
      • Binatang seperti kecoa
    • Bahan-bahan di luar ruangan :
      • Sari bunga
      • Jamur
    • Makanan-makanan tertentu, bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
    • Obat-obatan tertentu
    • Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
    • Ekspresi emosi yang berlebihan
    • Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
    • Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
    • Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu
    • Perubahan cuaca
3.      Faktor keadaan lain :
o   Rinitis
o   Sinusitis bakterial
o   Poliposis
o   Menstruasi
o   Refluks gastroesopageal
o   Kehamilan
Tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronyssinus)
Terkadang disebut kutu debu rumah (dust house mite) adalah hewan sangat kecil yang umum dijumpai di pemukiman manusia. Dengan ukuran tubuhnya sekitar 420 µm (sekitar 0,5 mm) panjang dan 250-320 µm lebar, sehingga tidak kasat mata. Binatang ini baru terlihat di bawah mikroskop dengan pembesaran setidaknya 20 kali. Bentuk badannya lonjong dengan kaki berjumlah 8.
Tungau ini memakan sisa-sisa materi organik seperti kelupasan kulit manusia yang banyak ditemui di tempat tinggal manusia. Tungau ini diketahui dapat memicu serangan asma dan gejala-gejala alergi di seluruh dunia. Penyebabnya adalah enzim-enzim (terutama protease) yang keluar dari perut bersama-sama kotorannya.
Hewan mikroskopis ini diembel-embeli kata debu dibelakang namanya, karena ia memang hidup di dan dari debu. Debu sendiri sebenarnya adalah tumpukan dari bermacam-macam partikel yang berasal dari sel kulit mati, rontokan bulu hewan peliharaan, remah-remah roti, spora jamur, dll. Serpihan kulit adalah makanan tungau debu. Bahan pengisi bantal, kasur, kursi, mainan dan buku-buku yang sudah lama, korden, karpet, selimut, dan sebagainya merupakan tempat mengumpulnya debu rumah. Pada orang yang alergi terhadap debu rumah, biasanya gejala akan muncul bila terpapar oleh debu rumah tersebut. Gejalanya berupa bersin-bersin, hidung berair dan rasa gatal pada hidung. Kadang rasa gatal dapat dirasakan pada mata ataupun langit-langit mulut.

Klasifikasi asma
Ada 2 penggolongan besar asma bronkial, yaitu asma bronkial yang berkaitan dengan penderita yang mempunyai riwayat pribadi atau riwayat keluarga dengan kelainan atopi; dan asma bronkial pada penderita yang tidak ada kaitannya dengan diatesis atopik. Atopi adalah suatu keadaan respon seseorang yang tinggi terhadap protein asing yang sering bermanifestasi berupa rinitis alergika, urtikaria, atau dermatitis. Asma yang berkaitan dengan atopi  digolongkan sebagai asma ekstrinsik atau alergik, sedangkan yang tidak berkaitan dengan atopi digolongkan sebagai asma intrinsik atau asma idiosinkratik.
1.    Asma Ekstrinsik            : episode asma biasanya disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas tipe I yang dipicu oleh pajanan ke suatu antigen ekstrinsik. 3 jenis asma ekstrinsik yang dikenal : asma atopik, asma pekerjaan, asma pergilosis bronkopulmonal alergik. Asma atopik merupakan jenis asma tersering. Kadar IgE serum biasanya meningkat, demikian juga hitung eosinofil darah.
2.    Asma Intrinsik   : yang mekanisme pemicuna bersifat nonimun. Pada bentuk ini, sejumlah rangsangan yang kecil atau tidak berefek pada orang normal dapat menyebabkan bronkospasme pada pasien.



Asma Ekstrinsik (alergik)
Asma Intrinsik (Idiosinkratik)
Mulai terjadinya
Saat Kanak-kanak
Saat Dewasa
Kadar igE serum
Meningkat
Normal
Mekanisme terjadinya
Mekanisme imun
Non-imun

Epidemiologi asma
Asma merupakan penyakit respiratorik kronik yang paling sering ditemukan, terutama di negara maju. Dilaporkan bahwa sejak dua dekade terkahir prevalens asma meningkat, baik pada anak-anak maupun dewasa. Asma punya dampak negatif pada kehidupan penderitanya. Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2 % ( 6 % pada dewasa dan 10 % pada anak). Prevalensi tersebut sangat bervariasi di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 300 juta orang di dunia mengidap penyakit asma dan 225 ribu orang meninggal karena penyakit asma pada tahun 2005 lalu. Hasil penelitian International Study on Asthma and Alergies in Childhood pada tahun yang sama menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar 4,2% menjadi 5,4 %.
            Untuk mengatasi hal tersebut maka telah dilaksanakan penelitian multisenter di beberapa negara menggunakan definisi ama yang sama, dengan menggunakan kuosioner standar, prevalens dan berbagai faktor resiko yang mempengaruhinya dapat dibandingkan. Salah satu penelitian multisenter yang dilaksanakan yaitu International Study of Asthma and Allergy in Children (ISAAC).
            Penelitian ISAAC fase I telah dilaksanakan di 56 negara, meliputi 155 senter, pada usia 6-7 tahun dan 13-14 tahun. Penelitian ISAAC menggunakan kuosioner standar dengan pertanyaan : “Have you (your child) had wheezing or whistling in the chest in the last 12 months?” Untuk mengelompkkan dalam diagnosis asma bila jawabannya “Ya”. Hasilnya ternyata sangat bervariasi. Untuk usia 13-14 tahun yang terendah di Indonesia (1,6 %) dan yang tertinggi di Inggris, sebesar 36,8%.
            Berikut adalah tabel  beberapa hasil survei prevalensi asma pada anak di Indonesia
Peneliti(kota)
Tahun
Jumlah Sampel
Umur (Tahun)
Prevalens (%)
Djajanto(Jakarta)
1991
1200
6-12
16,4
Rosmayudi O (Bandung)
1993
4865
6-12
6,6
Dahlan(Jakarta)
1996
-
6-12
17,4
Arifin(Palembang)
1996
1296
13-15
5,7
Rosalina I (Bandung)
1997
3118
13-15
2,6
Yunus F (Jakarta)
2001
2234
13-14
11,5
Kartasamita CB (Bandung)
2002
2678
6-7
3,0


2836
13-14
5,2
Rahajoe NN (Jakarta)
2002
1296
13-14
6,7


Patogenesis asma
Triger (pemicu) yang berbeda-beda dapat menyababkan eksaserbasi asma oleh karena inflamasi saluran napas atau bronkhospasme akut atau keduanya. Mekanisme keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini bervariasi sesuia dengan rangsangannya. Allergen akan memicu terjadinya bronkhokonstriksi akibat dari pelepasan Ig-E dependent dari mast sel saluran napas berupa mediator inflamasi diantaranya histamin, prostatglandin, leukotrien sehingga akan terjadi kontraksi otot polos. Keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini kemungkinan juga terjadi oleh karena saluran napas pasien sangat hiper responsif terhadap macam-macan jenis rangsangan. Yang menyebabkan bronkhokonstriksi pada asma akut merupakan kombinasi antara pelepasan mediator sel inflamasi dan rangsangan yang bersifat lokal atau refleks saraf pusat. Akibatnya keterbatasan aliran udara timbul oleh karena adanya pembengkakan dinding saluran napas dengan atau tanpa kontraksi otot polos. Peningkatan permeabilitas dan kebocoran mikrovaskular berperan terhadap penebalan dan pembengkakan pada sisi luar otot polos saluran pernapasan.
Penyempitan saluran pernapasan yang bersifat progressif yang disebabkan oleh inflamasi saluran pernapasan dan atau peningkatan tonus otot polos bronkioler merupakan gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan resistensi aliran, hiperinflasi pulmoner dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. (V/Q).

Tiu 2 : Memahami dan menjelaskan tentang diagnosis asma
Manifestasi klinik
Pasien hampir selalu mengalami batuk dan mengi (wheezing) serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan. Menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala. Suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing) batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya (saat ekspirasi). Yang pertama kali dirasakan oleh pasien asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam bahkan selama beberapa hari.
Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olah raga. Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.
Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan.
Kadang beberapa alveoli (kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. Hal ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.

Pemeriksaan Fisik
Perhatian terutama ditujukan kepada keadaan umum pasien, pasien dengan kondisi sangat berat akan duduk tegak. Penggunaan oto-otot tambahan untuk membantu bernapas juga harus menjadi perhatian., sebagai indikator adanya obstruksi yang berat. Adanya retraksi otot sternokleidomastoideus dan suprasternal menunjukan adanya kelemahan fungsi paru.
Frekuensi pernapasan Respiratory Rate (RR) > 30 X/ menit, takikardi > 120 X/menit atau pulsus paradoksus > 12 mmHg merupakan tanda vital adanya serangan asma akut yang berat. Lebih dari 50% pasien dengan asma akut berat, frekuensi jantungnya berkisar antara 90-120 X/menit. Beberap pasien tetap mengalami takikardi oleh karena efek bronkotropik dari bronkodilator.
Pemeriksaan Penunjang
1.      Pulse oximetry.
Pengukuran saturasi oksigen berguna untuk mengeksklusi hipoksemia.
Indikasi : bila pasien memerlukan penatalaksanaan yang lebih intensif dan bila pasien kemungkinan akan mengalami gagal napas.
2.      Analisa gas darah (AGD)
Indikasi : pasien dengan terapi SpO2 yang tidak membaik sampai > 90 %
3.      Fhoto thoraks
Indikasi : pasien dengan pneumothoraks, emfisema subkutis, instabilitas IVS/suara napas yang asimetris.
4.      Monitor irama jantung
Indikasi : pasien lansia dan pasien asma dengan penyakit jantung. Irama jantung menunjukan sinus takikardi dan supraventrikular takikardi
5.      Respon terhadap terapi
Pengukuran terhadap perubahan PEFR atau FEV1 dilakukan setiap saat. Respon awal terhadap pengobatan (PEFR/FEV1 pada 30 menit pertama) merupakan indikator terpenting terhadap hasil terapi. PEFR > 50 L/menit dan PEF > 40% adalah prediktor yang baik.
Tiu 3 : Memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan asma
Farmakoterapi
Tujuan pengobatan asma adalah untuk mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal (seoptimal mungkin) ditambah dengan menghambat proses radang yang terjadi pada saluran pernafasan.
Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan, prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini ditujukan untuk mengontrol gejala. Kontrol yang baik ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan, obat-obatan yang ada saat ini hanya berfungsi menghilangkan gejala. Kontrol yang baik ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat dicapai dengan jalan mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi atau mencegah serangan penyakit asma jangan sampai terjadi.
Obat-obatan bisa membuat penderita penyakit asma menjalani kehidupan normal. Pengobatan segera untuk mengendalikan serangan penyakit asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan penyakit asma. Untuk mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi diperlukan obat yang dapat menghilangkan gejala penyakit asma dengan segera. Obat tersebut terdiri atas golongan bronkodilator dan golongan kortikosteroid sistemik.
Bronkodilator adalah obat yang dapat melebarkan saluran napas dengan jalan melemaskan otot-otot saluran napas yang sedang mengkerut, sedangkan kortikosteroid adalah obat antialergi dan anti peradangan yang diberikan dengan tujuan sistemik yaitu disalurkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.
Terdapat sekelompok penderita yang begitu sering mendapat serangan sehingga hampir tidak pernah mengalami masa bebas gejala penyakit asma. Keadaaan ini disebut kronis yang dapat berlangsung berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Pengobatannya memerlukan jangka waktu yang lama dan penderita tiap hari harus memakai obat.
Pengobatan asma secara garis besar dapat dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.
Pengobatan farmakologik
Obat-obat yang digunakan ialah:
A.  Bronkodilator

1.    Adrenergik
Obat-obat adrenergik mempunyai efek alfa, beta-1, dan beta-2. Obat-obat yang mempunyai efek beta-2 dominan dan beta-1 minimal lebih tepat untuk pengobatan asma.
Sediaan obat adrenergik antara lain:
1)   Epinefrin
Obat ini mempunyai aktivitas adrenergik alfa dan beta, sangat bermanfaat untuk pasien status asmatikus dan asma akut.  Obat ini tidak dapat diberikan peroral karena cepat dirusak di lambung. Diberikan secara subkutan 0,2-0,5 ml (0,01 ml/KgBB pada anak ) dalam bentuk larutan 1/1000. Respon pengobatan cepat biasanya sudah terlihat dalam waktu 15 menit. Bila dalam jangka 20 menit belum ada perbaikan, suntikan dapat diulangi. Masa kerja epinefrin singkat.
Efek samping : takikardia, nausea, sakit kepala, peningkatan tekanan darah, tremor dan rasa melayang.
Kontra indikasi : epinefrin perlu dipakai secara hati-hati pada  orang tua dan sebaiknya tidak digunakan pada penderita penyakit jantung, hipertensi dan hipertiroid.
2)   Efedrin
Obat ini masih banyak dipakai karena harganya murah. Obat ini juga mempunyai aktivitas adrenergik alfa dan beta. Efek bronkodilatornya kurang dibandingkan dengan epinefrin, tetapi obat ini dapat digunakan secara oral. Dosis obat ini 25-50 mg (0,5-1 mg/KgBB pada anak) setiap 4-6 jam. Berbeda dengan epinefrin, efedrin tidak dirusak di lambung dan dapat memasuki sawar darah otak sehingga mempunyai efek stimulasi SSP. Perbedaan lain dengan epinefrin yaitu efedrin mempunyai masa kerja yang lebih panjang.
Efek samping : takikardia, nausea, sakit kepala, peningkatan tekanan darah, tremor dan rasa melayang.
Kontra indikasi : hipertensi, penyakit jantung dan hipertiroid.
3)   Isoproterenol
            Nama lain obat ini ialah isopropilnorepinefrin. Obat ini merupakan agonis beta yang kuat, efek terhadap reseptor alfa hampir tidak ada. Obat ini merupakan bronkodilator yang kuat, tapi masih dapat menimbulkan stimulasi jantung dan vasodilatasi. Biasanya digunakan dalam bentuk aerosol atau infus. Bila diberikan secara inhalasi obat ini bekerja cepat, dalam beberapa menit sudah memperlihatkan efek, tapi masa kerjanya juga pendek. Efek akan hilang setelah 1-2 jam. Bila diberikan pada keadaan hipoksemia dapat memperburuk hipoksemia karena efek vasodilatasi paru.
4)   Agonis beta-2 selektif
Yang termasuk golongan ini antara lain salbutamol, terbutalin, fenoterol, dan ritodrin.
            Obat golongan ini pada dosis kecil mempengaruhi reseptor beta-2 dan pada dosis besar juga akan mempengaruhi beta-1. Di Indonesia dewasa ini tersedia banyak obat golongan beta-2 selektif. Sebagian besar dalam bentuk oral dan metered dose inhaler tapi ada juga sediaan dalam bentuk suntikan dan larutan untuk nebulizer. Dalam memilih obat ini perlu diperhatikan dosis obat dan lama kerja obat. Obat golongan beta-2 yang mempunyai masa kerja panjang yang digunakan 2 kali sehari diantaranya fenoterol dan prokaterol.
2.    Golongan Xantin
            Efek bronkodilator dari golongan xantin adalah melalui penghambatan enzim fosfodiesterase.
1)   Teofilin
            Obat ini diabsorbsi dengan baik, karena itu pemberian per oral cukup bermanfaat. Pemberian dengan cara infus hanya dilakukan bila pemberian oral tidak mungkin. Kadar teofilin dipengaruhi oleh bersihan (klirens). Bersihan teofilin dipengaruhi oleh umur, kebiasaan merokok, alkohol, makanan (karbohidrat tinggi), obat (eritromisin , barbiturat, simetidin, aloporinol, propranolol). Eksresi teofiin sebagian besar (90%) melalui hati dan sebagian kecil (10%) melalui ginjal. Pada penyakit hati, jantung dan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis. Pada penyakit hati dan gagal jantung dosis dapat dikurangi separuh, gagal ginjal sekitar 10%
2)   Aminofilin
            Aminofilin adalah teofilin dalam bentuk garam. Aminofilin mengandung 80% teofilin. Bila obat diberikan dalam bentuk aminofilin, maka dosis perlu dinaikkan sekitar 20% dari dosis teofilin. Untuk mengatasi serangan asma akut yang berat diberikan aminofilin secara intravena. Untuk mencegah peninggian kadar teofilin secara mendadak pada organ vital, maka pemberian suntikan harus secara lambat sekitar 30 menit, dengan dosis 6 mg/KgBB. Bila penderita sedang menggunakan teofilin 12 jam terakhir, maka dosis suntikan dikurangi separuhnya. Setelah suntikan (bolus) pemberian dilanjutkan secara infus 0,9 mg/KgBB/jam.
            Efek samping yang dapat timbul pada pemakaian teofilin antara lain mual, muntah, diare dan diuresis, nyeri kepala, tremor, takikardia dan kejang.
B.  Penghambat Mediator Bronkokontriksi

1.    Steroid
            Steroid sangat bermanfaat pada status asmatikus dan asma kronik berat. Steroid tidak mempunyai efek bronkodilator langsung tetapi meningkatkan respon terhadap adrenergik beta dan menghambat mediator inflamasi yang terjadi pada asma. Onset steroid lama. Bila diberikan secara intravena, maka efek baru terlihat setelah 60 menit kemudian.
Tetapi penggunaan tablet atau suntikan kortikosteroid jangka panjang bisa menyebabkan:
o    gangguan proses penyembuhan luka
o    terhambatnya pertumbuhan anak-anak
o    hilangnya kalsium dari tulang
o    perdarahan lambung
o    katarak prematur
o    peningkatan kadar gula darah
o    penambahan berat badan
o    kelaparan
o    kelainan mental
Sesuai dengan pemahaman patogenesis asma saat ini, maka steroid merupakan obat utama dalam pengobatan maupun pencegahan asma. Oleh karena steroid sistemik dapat menimbulkan berbagai efek samping, maka pemakaian steroid sistemik harus dibatasi hanya pengobatan jangka pendek, sedangkan untuk pengobatan jangka panjang digunakan steroid topikal (inhalasi). Dalam menggunakan steroid perlu dihitung dosis dan masa paruh di darah. Berdasarkan waktu paruh obat, steroid dibagi menjadi : masa kerja pende misalnya kortison dan hidrokortison, masa kerja menengah misalnya prednison, prednisolon, metil prednisolon dan triamsinolon dan masa kerja panjang misalnya deksametason dan betametason.
2.    Natrium Kromolin dan Ketotifen
Kedua obat tersebut diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk penyakit asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.
            Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat degranulasi sel mast sehingga pembentukan histamin terhambat. Karena obat ini bukan bronkodilator, maka tidak digunakan pada serangan asma, tetapi bermanfaat sebagai profilaksis. Natrium kromolin sukar diserap, oleh karena itu penggunaannya secara inhalasi, sedangkan ketotifen dapat digunakan per oral karena absorbsinya baik.
3.    Ipatropium bromida
            Obat ini merupakan antikolinergik. Bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. Obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik. Mempunyai efek bronkodilatasi karena menurunkan iritabilitas otot polos bronkus akibat rangsangan kolinergik. Pemberian secara oral memerlukan dosis besar sehingga. Obat ini diberikan dalam bentuk aerosol.
Efek samping : mulut kering, mata kabur, palpitasi dan susah kencing menonjol.
4.    Antihistamin
            Antihistamin yang digunakan dalam hal ini adalah kelompok antihistamin-1 (AH-1). Obat ini dgunakan pada serangan asma akut yang ringan sampai sedang. Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat efek bronkokontriksi yang disebabkan oleh histamine dan menghambat produksi secret dari bronchus.
5.    Pengubah leukotrien
Merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan penyakit asma. Obat ini mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala penyakit asma). Contohnya montelucas, zafirlucas dan zileuton.
Pengobatan untuk serangan penyakit asma akut.
Suatu serangan penyakit asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati penyakit asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda. Agonis reseptor beta-2 adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat berat). Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita.
Pengobatan penyakit asma juga bisa dilakukan dengan memberikan suntikan epinefrin atau terbutalin di bawah kulit dan aminofilin (sejenis teofilin) melalui infus intravena.
Penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan suntikan kortikosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah). Pada serangan penyakit asma yang berat biasanya kadar oksigen darahnya rendah, sehingga diberikan tambahan oksigen. Jika terjadi dehidrasi, mungkin perlu diberikan cairan intravena. Jika diduga terjadi infeksi, diberikan antibiotik.
Selama suatu serangan penyakit asma yang berat, dilakukan kontrol :
  • pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah
  • pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
  • pemeriksaan rontgen dada
Prognosis
            Tidak ada perawatan untuk asma, meskipun gejalanya kadang kambuh. Dengan management diri yang tepat dan pengobatan medis, sebagian orang dengan asma bisa menjalani hidup dengan normal.
Pencegahan
            Serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui dan bisa dihindari.Serangan yang dipicu oleh olahraga bisa dihindari dengan memminum obat sebelum melakukan olahraga.
Usaha-usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah datangnya serangan penyakit asma, antara lain :
  1. Menjaga kesehatan
  2. Menjaga kebersihan lingkungan
  3. Menghindarkan faktor pencetus serangan penyakit asma
  4. Menggunakan obat-obat antipenyakit asma
Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan tindakan pencegahan. Tetapi bila gejala-gejala sedang timbul maka diperlukan obat asma untuk menghilangkan gejala dan selanjutnya dipertahankan agar penderita bebas dari gejala penyakit asma.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan :
1.      Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah untuk mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya. Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai.
Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, dan sulit untuk dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan dalam.
2.      Menjaga kebersihan lingkungan

            Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus.
Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok, semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan antara lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya.

3.      Menghindari faktor pencetus

Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu sehingga cara-cara menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing, burung, perlu mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti kecoak dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma.
Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang terserang influenza.
Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh sesak.
Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan.Jika akan berolahraga, lakukan latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah.
Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan udara kotor lainnya harus dihindari.
Perhatikan obat-obatan yang diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung (beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga dapat mencetuskan asma.
Tiu 4 : Memahami dan menjelaskan tentang kebersihan dalam islam
Kebersihan dalam Islam
Agama dan ajaran Islam menaruh perhatian amat tinggi pada kebersihan, baik lahiriyah maupun bathin. Kebersihan lahiriyah itu tidak dapat dipisahkan dengan kebersihan batin. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim melaksanakan ibadah tertentu harus membersihkan terlebih dahulu aspek lahiriyahnya. Ajaran Islam yang memiliki aspek akhidah, ibadah, muamalah, dan akhlak ada kaitan dengan kebersihan. Hal ini terdapat dalam tata cara ibadah secara keseluruhan. Orang yang mau shalat misalnya, diwajibkan bersih lahir dan bathinnya. Secara fisik badan, pakaian, dan tempat salat harus bersih, bahkan suci. Secara psikhis atau akidah harus suci juga dari perbuatan syirik.
Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. Umpamanya, tazkiyah, thaharah, nazhafah, dan fitrah, seperti dalam hadis yang memerintahkan khitan, sementara dalam membangun perilaku bersih ada istilah ikhlas, thib al-nafs, ketulusan kalbu, bersih dari dosa, tobat, dan lain-lain sehingga makna bersih amat holistik karena menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat.
Sebagaimana disinggung al-Quran dan Sunnah banyak menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan kebersihan atau kesucian. Dalam al-Quran ada istilah thaharah sebanyak 31 kata dan tazkiyah 59 kata. Dalam al-Quran istilah nazhafah, sementara dalam hadis kata nazhafah dapat kita lihat dalam riwayat bukan hadis, “al-Nazhafatu min al-Iman” walaupun hadis tersebut dipertanyakan keabsahannya.
Dalam implementasinya, maka istilah thaharah dan nazhafah kebersihan yang bersifat lahiriyah dan maknawiyah, sementara nazhafah atau fikih, istilah thaharah digunakan. Pada kitab-kitab klasik dikhususkan Bab al-Thaharah yang bisasanya disandingkan dengan Bab al-Najasah yang selanjutnya juga dibahas masalah air dan tanah, wudu, mandi, mandi janabat, tayamum, dan lain-lain. Namun demikian, ketika Allah menerangkan tentang penggunaan air untuk thaharah disandingkan pula dengan kesucian secara maknawiyah. Maknawiyah ialah kesucian dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil, sehingga dapat melaksanakan ibadah, seperti salat dan thawaf.
Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata ada yang dilihat dari aspek kebersihan harta dan jiwa dengan menggunakan istilah tazkiyah. Umpamanya, ungkapan Allah dalam al-Quran ketika menyebutkan bahwa zakat yang seakar dengan tazkiyah, memang maksudnya untuk membersihkan harta, sehingga harta yang dizakati adalah bersih dan yang yang tidak dizakati dinilai kotor. Kebersihan dan kotor harta sebenarnya ada korelasinya dengan jiwa.
Al-Quran dan hadis banyak menggunakan lafal atau kosa-kata thaharah yang mengindikasikan pada kesucian badan dari kotoran atau najis atau sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan jasmaniah seseorang. Dalam Surat al-Maidah: 6 dan surat al-Nisa: 43, ayat yang mewajibkan wudlu dan atau mandi sebelum shalat, misalnya tampak mengandung dua makna sekaligus, yaitu thaharah secara hissiyah -jasmaniah (konkrit-nyata) karena dibersihkan dengan air dan thaharah maknawiah (abstrak) karena dibersihkan dengan air atau tanah ketika air itu tidak ada. Dikatakan mengandung dua makna sekaligus karena pada ayat itu disebutkan juga makna, “Sesungguhnya Allah adalah pengampun dan penyayang” pada akhir surat al-Nisa: 43 karena wudu dan mandi juga shalat adalah jalan membersihkan dosa. Kesucian secara rohani karena dia sudah dengan ketaatan, istigfar dan taubat kepada Allah. Pada ibadah-ibadah tersebut. Memang dalam kehidupan keseharian makna suci ini, sering diungkapkan kepada seseorang yang sedang haid atau dalam keadaan junub, misalnya. Orang yang sudah bersih atau suci dari haid, disebut, “Hatta yath-hurna” (al-Baqarah: 222) bila sudah mandi junub, bukan hanya dicuci.
Dalam Islam kebersihan adalah kesucian itu sendiri dan kesucian adalah kebersihan, walaupun istilah ini tidak sama sekali merupakan garis lurus. Mungkin secara jasmaniyah bersih, tetapi belum tentu suci sekaligus karena dia orang yang tak pernah berwudu atau sedang dalam keadaan hadast. Namun, seringkali kebersihan dan kesucian tak berimbang. Ada yang asal bersih di rumah, tapi tak bertanggung jawab atas kebersihan jalan, sungai, halaman orang, dan lain-lain.



Daftar Pustaka
Price. 2004. Patofisiologi. Jakarta. EGC
Sudoyono et all. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. FKUI
Sherwood, Lauralee (2001).”Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem”. Jakarta : EGC
Kumar.R.C.1999.Dasar Patologi Penyakit.Jakarta.EGC
Rahajoe, N. 2004. Pedoman Nasional Asma Anak. Jakarta.UKK Pulmonologi IDAI
Nelson, waldo e. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC
Robbins, stanley l. 2007. Patologi. Jakarta. EGC
http://udarabersih.wordpress.com/2007/10/02/3-langkah-basmi-tungau-debu/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar