LANGKAH - 1 ( menentukan sasaran belajar )
Tiu 1 : Memahami dan menjelaskan tentang etiologi
dan patogenesis asma
1.1
Definisi
asma
1.2
Etiologi
asma
1.3
Klasifikasi
asma
1.4
Epidemiologi
asma
1.5
Patogenesis
asma
Tiu 2 : Memahami dan menjelaskan tentang diagnosis
asma
2.1
Manifestasi
klinik
2.2
Pemeriksaan
fisik
2.3
Pemeriksaan
penunjang
Tiu 3 : Memahami dan menjelaskan tentang
penatalaksanaan asma
3.1
Farmakoterapi
3.2
Prognosis
3.3
Pencegahan
Tiu 4 : Memahami dan menjelaskan tentang kebersihan
dalam islam
LANGKAH - 2 ( belajar mandiri)
LANGKAH - 3
Tiu 1 : Memahami dan menjelaskan tentang etiologi
dan patogenesis asma
Definisi Asma
Asma didefinisikan sebagai gangguan
inflamasi kronik saluran respiratorik denga n banyak sel yang berperan,
khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Dalam penerapan klinis untuk anak,
Pedoman Nasional Asma Anak, menggunakan definisi operasional untuk asma, yaitu
: timbul secara episodik dan/ atau kronik, cenderung pada malam/dini hari
(nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus, dan riwayat asma keluarga.
Penyakit asma paling banyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan anak. Alergi dapat menyerang semua organ dan
fungsi tubuh tanpa terkecuali. Disamping itu banyak permasalahan kesehatan lain
yang menyertai berupa gangguan organ tubuh lain dan gangguan perilaku.
Etiologi Asma
Trigger
(pemicu) yang berbeda-beda dapat menyebabkan eksaserbasi asma oleh karena
inflamasi saluran napas atau bronkhospasme akut atau keduanya. Sesuatu yang
dapat memicu serangan asma sangat bervariasi antara satu individu dengan
individu yang lain dan dari satu waktu ke waktu yang lain.
- Faktor pada pasien :
- Aspek genetik
- Kemungkinan alergi
- Saluran napas yang memang
mudah terangsang
- Jenis kelamin
- Ras/etnik
- Faktor lingkungan :
- Bahan-bahan di dalam ruangan :
- Tungau
debu rumah (Dermatophagoides
pteronyssinus)
- Binatang
seperti kecoa
- Bahan-bahan di luar ruangan :
- Sari
bunga
- Jamur
- Makanan-makanan tertentu,
bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
- Obat-obatan tertentu
- Iritan (parfum, bau-bauan merangsang,
household spray )
- Ekspresi emosi yang berlebihan
- Asap rokok dari perokok aktif
dan pasif
- Polusi udara dari luar dan
dalam ruangan
- Exercise induced asthma,
mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu
- Perubahan cuaca
3.
Faktor
keadaan lain :
o
Rinitis
o
Sinusitis
bakterial
o
Poliposis
o
Menstruasi
o
Refluks
gastroesopageal
o
Kehamilan
Tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronyssinus)
Terkadang
disebut kutu debu rumah (dust house mite) adalah hewan sangat kecil
yang umum dijumpai di pemukiman manusia. Dengan ukuran
tubuhnya sekitar 420 µm (sekitar 0,5 mm) panjang dan 250-320 µm lebar, sehingga
tidak kasat mata. Binatang ini baru terlihat di bawah mikroskop dengan
pembesaran setidaknya 20 kali. Bentuk badannya lonjong dengan kaki berjumlah 8.
Tungau
ini memakan sisa-sisa materi organik seperti kelupasan kulit manusia yang banyak
ditemui di tempat tinggal manusia. Tungau ini diketahui dapat memicu serangan asma dan
gejala-gejala alergi di seluruh
dunia. Penyebabnya adalah enzim-enzim (terutama protease) yang keluar dari
perut bersama-sama kotorannya.
Hewan
mikroskopis ini diembel-embeli kata debu dibelakang namanya, karena ia memang
hidup di dan dari debu. Debu sendiri sebenarnya adalah tumpukan dari bermacam-macam
partikel yang berasal dari sel kulit mati, rontokan bulu hewan peliharaan,
remah-remah roti, spora jamur, dll. Serpihan kulit adalah makanan tungau debu. Bahan
pengisi bantal, kasur, kursi, mainan dan buku-buku yang sudah lama, korden,
karpet, selimut, dan sebagainya merupakan tempat mengumpulnya debu rumah. Pada
orang yang alergi terhadap debu rumah, biasanya gejala akan muncul bila
terpapar oleh debu rumah tersebut. Gejalanya berupa bersin-bersin, hidung
berair dan rasa gatal pada hidung. Kadang rasa gatal dapat dirasakan pada mata
ataupun langit-langit mulut.
Klasifikasi asma
Ada 2 penggolongan besar asma bronkial, yaitu
asma bronkial yang berkaitan dengan penderita yang mempunyai riwayat pribadi
atau riwayat keluarga dengan kelainan atopi; dan asma bronkial pada penderita
yang tidak ada kaitannya dengan diatesis atopik. Atopi adalah suatu keadaan
respon seseorang yang tinggi terhadap protein asing yang sering bermanifestasi
berupa rinitis alergika, urtikaria, atau dermatitis. Asma yang berkaitan dengan
atopi digolongkan sebagai asma
ekstrinsik atau alergik, sedangkan yang tidak berkaitan dengan atopi
digolongkan sebagai asma intrinsik atau asma idiosinkratik.
1. Asma Ekstrinsik : episode asma biasanya disebabkan oleh reaksi
hipersensitifitas tipe I yang dipicu oleh pajanan ke suatu antigen ekstrinsik.
3 jenis asma ekstrinsik yang dikenal : asma atopik, asma pekerjaan, asma
pergilosis bronkopulmonal alergik. Asma atopik merupakan jenis asma tersering.
Kadar IgE serum biasanya meningkat, demikian juga hitung eosinofil darah.
2. Asma Intrinsik :
yang mekanisme pemicuna bersifat nonimun. Pada bentuk ini, sejumlah rangsangan
yang kecil atau tidak berefek pada orang normal dapat menyebabkan bronkospasme
pada pasien.
|
|
Asma Ekstrinsik (alergik)
|
Asma Intrinsik (Idiosinkratik)
|
|
Mulai terjadinya
|
Saat Kanak-kanak
|
Saat Dewasa
|
|
Kadar igE serum
|
Meningkat
|
Normal
|
|
Mekanisme terjadinya
|
Mekanisme imun
|
Non-imun
|
Epidemiologi asma
Asma merupakan penyakit respiratorik kronik
yang paling sering ditemukan, terutama di negara maju. Dilaporkan bahwa sejak
dua dekade terkahir prevalens asma meningkat, baik pada anak-anak maupun
dewasa. Asma punya dampak negatif pada kehidupan penderitanya. Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2 % ( 6 %
pada dewasa dan 10 % pada anak). Prevalensi tersebut sangat bervariasi di berbagai
belahan dunia.
Berdasarkan
data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 300 juta orang di dunia mengidap
penyakit asma dan 225 ribu orang meninggal karena penyakit asma pada tahun 2005
lalu. Hasil penelitian International Study on Asthma and Alergies in Childhood
pada tahun yang sama menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi gejala penyakit
asma melonjak dari sebesar 4,2% menjadi 5,4 %.
Untuk mengatasi hal tersebut maka telah
dilaksanakan penelitian multisenter di beberapa negara menggunakan definisi ama
yang sama, dengan menggunakan kuosioner standar, prevalens dan berbagai faktor
resiko yang mempengaruhinya dapat dibandingkan. Salah satu penelitian
multisenter yang dilaksanakan yaitu International Study of Asthma and Allergy
in Children (ISAAC).
Penelitian ISAAC fase
I telah dilaksanakan di 56 negara, meliputi 155 senter, pada usia 6-7 tahun dan
13-14 tahun. Penelitian ISAAC menggunakan kuosioner standar dengan pertanyaan :
“Have you (your child) had wheezing or whistling in the chest in the last 12
months?” Untuk mengelompkkan dalam diagnosis asma bila jawabannya “Ya”.
Hasilnya ternyata sangat bervariasi. Untuk usia 13-14 tahun yang terendah di
Indonesia (1,6 %) dan yang tertinggi di Inggris, sebesar 36,8%.
Berikut adalah
tabel beberapa hasil survei prevalensi asma pada anak di Indonesia
|
Peneliti(kota)
|
Tahun
|
Jumlah
Sampel
|
Umur
(Tahun)
|
Prevalens
(%)
|
|
Djajanto(Jakarta)
|
1991
|
1200
|
6-12
|
16,4
|
|
Rosmayudi
O (Bandung)
|
1993
|
4865
|
6-12
|
6,6
|
|
Dahlan(Jakarta)
|
1996
|
-
|
6-12
|
17,4
|
|
Arifin(Palembang)
|
1996
|
1296
|
13-15
|
5,7
|
|
Rosalina
I (Bandung)
|
1997
|
3118
|
13-15
|
2,6
|
|
Yunus
F (Jakarta)
|
2001
|
2234
|
13-14
|
11,5
|
|
Kartasamita
CB (Bandung)
|
2002
|
2678
|
6-7
|
3,0
|
|
|
|
2836
|
13-14
|
5,2
|
|
Rahajoe
NN (Jakarta)
|
2002
|
1296
|
13-14
|
6,7
|
Patogenesis asma
Triger
(pemicu) yang berbeda-beda dapat menyababkan eksaserbasi asma oleh karena
inflamasi saluran napas atau bronkhospasme akut atau keduanya. Mekanisme
keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini bervariasi sesuia dengan
rangsangannya. Allergen akan memicu terjadinya bronkhokonstriksi akibat dari
pelepasan Ig-E dependent dari mast sel saluran napas berupa mediator inflamasi
diantaranya histamin, prostatglandin, leukotrien sehingga akan terjadi
kontraksi otot polos. Keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini
kemungkinan juga terjadi oleh karena saluran napas pasien sangat hiper
responsif terhadap macam-macan jenis rangsangan. Yang menyebabkan
bronkhokonstriksi pada asma akut merupakan kombinasi antara pelepasan mediator
sel inflamasi dan rangsangan yang bersifat lokal atau refleks saraf pusat.
Akibatnya keterbatasan aliran udara timbul oleh karena adanya pembengkakan
dinding saluran napas dengan atau tanpa kontraksi otot polos. Peningkatan
permeabilitas dan kebocoran mikrovaskular berperan terhadap penebalan dan
pembengkakan pada sisi luar otot polos saluran pernapasan.
Penyempitan
saluran pernapasan yang bersifat progressif yang disebabkan oleh inflamasi
saluran pernapasan dan atau peningkatan tonus otot polos bronkioler merupakan
gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan resistensi aliran,
hiperinflasi pulmoner dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. (V/Q).
Tiu 2 : Memahami dan menjelaskan tentang diagnosis
asma
Manifestasi klinik
Pasien hampir selalu mengalami batuk dan mengi (wheezing)
serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga
atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan. Menangis atau tertawa keras
juga bisa menyebabkan timbulnya gejala. Suatu serangan asma dapat terjadi
secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing) batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar
ketika penderita menghembuskan nafasnya (saat ekspirasi). Yang pertama kali dirasakan
oleh pasien asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan
bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam
bahkan selama beberapa hari.
Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di
dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olah raga.
Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul
rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan
banyak keringat.
Kebingungan, letargi
(keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi
dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis
(kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita
sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan.
Kadang beberapa alveoli
(kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di
dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. Hal
ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.
Pemeriksaan Fisik
Perhatian
terutama ditujukan kepada keadaan umum pasien, pasien dengan kondisi sangat
berat akan duduk tegak. Penggunaan oto-otot tambahan untuk membantu bernapas
juga harus menjadi perhatian., sebagai indikator adanya obstruksi yang berat.
Adanya retraksi otot sternokleidomastoideus dan suprasternal menunjukan adanya
kelemahan fungsi paru.
Frekuensi
pernapasan Respiratory Rate (RR) >
30 X/ menit, takikardi > 120 X/menit atau pulsus paradoksus > 12 mmHg merupakan tanda vital adanya
serangan asma akut yang berat. Lebih dari 50% pasien dengan asma akut berat,
frekuensi jantungnya berkisar antara 90-120 X/menit. Beberap pasien tetap
mengalami takikardi oleh karena efek bronkotropik dari bronkodilator.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pulse oximetry.
Pengukuran saturasi
oksigen berguna untuk mengeksklusi hipoksemia.
Indikasi : bila
pasien memerlukan penatalaksanaan yang lebih intensif dan bila pasien
kemungkinan akan mengalami gagal napas.
2.
Analisa gas
darah (AGD)
Indikasi :
pasien dengan terapi SpO2 yang tidak membaik sampai > 90 %
3.
Fhoto thoraks
Indikasi :
pasien dengan pneumothoraks, emfisema subkutis, instabilitas IVS/suara napas
yang asimetris.
4.
Monitor irama
jantung
Indikasi :
pasien lansia dan pasien asma dengan penyakit jantung. Irama jantung menunjukan
sinus takikardi dan supraventrikular takikardi
5.
Respon terhadap
terapi
Pengukuran
terhadap perubahan PEFR atau FEV1 dilakukan setiap saat. Respon awal terhadap
pengobatan (PEFR/FEV1 pada 30 menit pertama) merupakan indikator terpenting
terhadap hasil terapi. PEFR > 50 L/menit dan PEF > 40% adalah prediktor
yang baik.
Tiu 3 : Memahami dan menjelaskan tentang
penatalaksanaan asma
Farmakoterapi
Tujuan
pengobatan asma adalah untuk mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal
(seoptimal mungkin) ditambah dengan menghambat proses radang yang terjadi pada saluran
pernafasan.
Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan,
prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini ditujukan untuk mengontrol
gejala. Kontrol yang baik ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi
(kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas
sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan, obat-obatan
yang ada saat ini hanya berfungsi menghilangkan gejala. Kontrol yang baik ini
diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit
asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas sosial yang baik dan
meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat dicapai dengan jalan
mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi atau mencegah serangan
penyakit asma jangan sampai terjadi.
Obat-obatan bisa membuat penderita penyakit asma
menjalani kehidupan normal. Pengobatan segera untuk mengendalikan serangan
penyakit asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan penyakit
asma. Untuk mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi diperlukan
obat yang dapat menghilangkan gejala penyakit asma dengan segera. Obat tersebut
terdiri atas golongan bronkodilator dan golongan kortikosteroid sistemik.
Bronkodilator adalah obat yang dapat melebarkan
saluran napas dengan jalan melemaskan otot-otot saluran napas yang sedang
mengkerut, sedangkan kortikosteroid adalah obat antialergi dan anti peradangan
yang diberikan dengan tujuan sistemik yaitu disalurkan ke seluruh tubuh melalui
peredaran darah.
Terdapat sekelompok penderita yang begitu sering
mendapat serangan sehingga hampir tidak pernah mengalami masa bebas gejala
penyakit asma. Keadaaan ini disebut kronis yang dapat berlangsung
berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Pengobatannya memerlukan jangka waktu
yang lama dan penderita tiap hari harus memakai obat.
Pengobatan asma
secara garis besar dapat dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan
pengobatan farmakologik.
Pengobatan
farmakologik
Obat-obat yang digunakan ialah:
A. Bronkodilator
1.
Adrenergik
Obat-obat
adrenergik mempunyai efek alfa, beta-1, dan beta-2. Obat-obat yang mempunyai
efek beta-2 dominan dan beta-1 minimal lebih tepat untuk pengobatan asma.
Sediaan obat
adrenergik antara lain:
1) Epinefrin
Obat
ini mempunyai aktivitas adrenergik alfa dan beta, sangat bermanfaat untuk
pasien status asmatikus dan asma akut.
Obat ini tidak dapat diberikan peroral karena cepat dirusak di lambung.
Diberikan secara subkutan 0,2-0,5 ml (0,01 ml/KgBB pada anak ) dalam bentuk
larutan 1/1000. Respon pengobatan cepat biasanya sudah terlihat dalam waktu 15
menit. Bila dalam jangka 20 menit belum ada perbaikan, suntikan dapat diulangi.
Masa kerja epinefrin singkat.
Efek
samping : takikardia, nausea, sakit kepala, peningkatan tekanan darah, tremor
dan rasa melayang.
Kontra
indikasi : epinefrin perlu dipakai secara hati-hati pada orang tua dan sebaiknya tidak digunakan pada
penderita penyakit jantung, hipertensi dan hipertiroid.
2)
Efedrin
Obat
ini masih banyak dipakai karena harganya murah. Obat ini juga mempunyai aktivitas
adrenergik alfa dan beta. Efek bronkodilatornya kurang dibandingkan dengan
epinefrin, tetapi obat ini dapat digunakan secara oral. Dosis obat ini 25-50 mg
(0,5-1 mg/KgBB pada anak) setiap 4-6 jam. Berbeda dengan epinefrin, efedrin
tidak dirusak di lambung dan dapat memasuki sawar darah otak sehingga mempunyai
efek stimulasi SSP. Perbedaan lain dengan epinefrin yaitu efedrin mempunyai
masa kerja yang lebih panjang.
Efek
samping : takikardia, nausea, sakit kepala, peningkatan tekanan darah, tremor
dan rasa melayang.
Kontra indikasi
: hipertensi, penyakit jantung dan hipertiroid.
3)
Isoproterenol
Nama lain obat ini ialah
isopropilnorepinefrin. Obat ini merupakan agonis beta yang kuat, efek terhadap
reseptor alfa hampir tidak ada. Obat ini merupakan bronkodilator yang kuat,
tapi masih dapat menimbulkan stimulasi jantung dan vasodilatasi. Biasanya
digunakan dalam bentuk aerosol atau infus. Bila diberikan secara inhalasi obat
ini bekerja cepat, dalam beberapa menit sudah memperlihatkan efek, tapi masa
kerjanya juga pendek. Efek akan hilang setelah 1-2 jam. Bila diberikan pada
keadaan hipoksemia dapat memperburuk hipoksemia karena efek vasodilatasi paru.
4)
Agonis beta-2
selektif
Yang
termasuk golongan ini antara lain salbutamol,
terbutalin, fenoterol, dan ritodrin.
Obat golongan ini pada dosis kecil
mempengaruhi reseptor beta-2 dan pada dosis besar juga akan mempengaruhi
beta-1. Di Indonesia dewasa ini tersedia banyak obat golongan beta-2 selektif.
Sebagian besar dalam bentuk oral dan metered
dose inhaler tapi ada juga sediaan dalam bentuk suntikan dan larutan untuk
nebulizer. Dalam memilih obat ini perlu diperhatikan dosis obat dan lama kerja
obat. Obat golongan beta-2 yang mempunyai masa kerja panjang yang digunakan 2
kali sehari diantaranya fenoterol dan prokaterol.
2.
Golongan Xantin
Efek bronkodilator dari golongan
xantin adalah melalui penghambatan enzim fosfodiesterase.
1) Teofilin
Obat ini diabsorbsi dengan baik,
karena itu pemberian per oral cukup bermanfaat. Pemberian dengan cara infus
hanya dilakukan bila pemberian oral tidak mungkin. Kadar teofilin dipengaruhi
oleh bersihan (klirens). Bersihan teofilin dipengaruhi oleh umur, kebiasaan
merokok, alkohol, makanan (karbohidrat tinggi), obat (eritromisin , barbiturat,
simetidin, aloporinol, propranolol). Eksresi teofiin sebagian besar (90%)
melalui hati dan sebagian kecil (10%) melalui ginjal. Pada penyakit hati,
jantung dan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis. Pada penyakit hati dan
gagal jantung dosis dapat dikurangi separuh, gagal ginjal sekitar 10%
2)
Aminofilin
Aminofilin adalah teofilin dalam
bentuk garam. Aminofilin mengandung 80% teofilin. Bila obat diberikan dalam
bentuk aminofilin, maka dosis perlu dinaikkan sekitar 20% dari dosis teofilin.
Untuk mengatasi serangan asma akut yang berat diberikan aminofilin secara
intravena. Untuk mencegah peninggian kadar teofilin secara mendadak pada organ
vital, maka pemberian suntikan harus secara lambat sekitar 30 menit, dengan
dosis 6 mg/KgBB. Bila penderita sedang menggunakan teofilin 12 jam terakhir,
maka dosis suntikan dikurangi separuhnya. Setelah suntikan (bolus) pemberian
dilanjutkan secara infus 0,9 mg/KgBB/jam.
Efek samping yang dapat timbul pada
pemakaian teofilin antara lain mual, muntah, diare dan diuresis, nyeri kepala,
tremor, takikardia dan kejang.
B. Penghambat Mediator Bronkokontriksi
1.
Steroid
Steroid sangat bermanfaat pada
status asmatikus dan asma kronik berat. Steroid tidak mempunyai efek
bronkodilator langsung tetapi meningkatkan respon terhadap adrenergik beta dan
menghambat mediator inflamasi yang terjadi pada asma. Onset steroid lama. Bila
diberikan secara intravena, maka efek baru terlihat setelah 60 menit kemudian.
Tetapi penggunaan tablet atau suntikan kortikosteroid
jangka panjang bisa menyebabkan:
o gangguan proses penyembuhan luka
o terhambatnya pertumbuhan anak-anak
o hilangnya kalsium dari tulang
o perdarahan lambung
o katarak prematur
o peningkatan kadar gula darah
o penambahan berat badan
o kelaparan
o kelainan mental
Sesuai
dengan pemahaman patogenesis asma saat ini, maka steroid merupakan obat utama
dalam pengobatan maupun pencegahan asma. Oleh karena steroid sistemik dapat
menimbulkan berbagai efek samping, maka pemakaian steroid sistemik harus
dibatasi hanya pengobatan jangka pendek, sedangkan untuk pengobatan jangka
panjang digunakan steroid topikal (inhalasi). Dalam menggunakan steroid perlu
dihitung dosis dan masa paruh di darah. Berdasarkan waktu paruh obat, steroid
dibagi menjadi : masa kerja pende misalnya kortison
dan hidrokortison, masa kerja
menengah misalnya prednison,
prednisolon, metil prednisolon dan
triamsinolon dan masa kerja panjang misalnya deksametason dan betametason.
2.
Natrium Kromolin
dan Ketotifen
Kedua obat
tersebut diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan
menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini
digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk penyakit asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk penyakit asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.
Mekanisme kerja obat ini adalah
menghambat degranulasi sel mast sehingga pembentukan histamin terhambat. Karena
obat ini bukan bronkodilator, maka tidak digunakan pada serangan asma, tetapi
bermanfaat sebagai profilaksis. Natrium kromolin sukar diserap, oleh karena itu
penggunaannya secara inhalasi, sedangkan ketotifen dapat digunakan per oral
karena absorbsinya baik.
3.
Ipatropium
bromida
Obat ini merupakan antikolinergik. Bekerja dengan menghalangi kontraksi
otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh
asetilkolin. Obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita
yang sebelumnya telah mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik. Mempunyai efek
bronkodilatasi karena menurunkan iritabilitas otot polos bronkus akibat
rangsangan kolinergik. Pemberian secara oral memerlukan dosis besar sehingga.
Obat ini diberikan dalam bentuk aerosol.
Efek samping : mulut
kering, mata kabur, palpitasi dan susah kencing menonjol.
4.
Antihistamin
Antihistamin yang digunakan dalam
hal ini adalah kelompok antihistamin-1 (AH-1). Obat ini dgunakan pada serangan
asma akut yang ringan sampai sedang. Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat
efek bronkokontriksi yang disebabkan oleh histamine dan menghambat produksi
secret dari bronchus.
5. Pengubah leukotrien
Merupakan
obat terbaru untuk membantu mengendalikan penyakit asma. Obat ini mencegah aksi
atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh yang
menyebabkan terjadinya gejala-gejala penyakit asma). Contohnya montelucas,
zafirlucas dan zileuton.
Pengobatan
untuk serangan penyakit asma akut.
Suatu
serangan penyakit asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk
membuka saluran pernafasan. Obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan
untuk mengobati penyakit asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam
bentuk yang berbeda. Agonis reseptor beta-2 adrenergik digunakan dalam bentuk
inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat
berat). Nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui suatu
larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita.
Pengobatan penyakit asma juga bisa dilakukan dengan
memberikan suntikan epinefrin atau terbutalin di bawah kulit dan aminofilin
(sejenis teofilin) melalui infus intravena.
Penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan
perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan suntikan
kortikosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah). Pada
serangan penyakit asma yang berat biasanya kadar oksigen darahnya rendah,
sehingga diberikan tambahan oksigen. Jika terjadi dehidrasi, mungkin perlu
diberikan cairan intravena. Jika diduga terjadi infeksi, diberikan antibiotik.
Selama suatu serangan penyakit asma yang berat,
dilakukan kontrol :
- pemeriksaan kadar oksigen dan
karbondioksida dalam darah
- pemeriksaan fungsi paru-paru
(biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
- pemeriksaan rontgen dada
Prognosis
Tidak ada perawatan untuk asma,
meskipun gejalanya kadang kambuh. Dengan management diri yang tepat dan
pengobatan medis, sebagian orang dengan asma bisa menjalani hidup dengan
normal.
Pencegahan
Serangan asma dapat dicegah jika
faktor pemicunya diketahui dan bisa dihindari.Serangan yang dipicu oleh
olahraga bisa dihindari dengan memminum obat sebelum melakukan olahraga.
Usaha-usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk
mencegah datangnya serangan penyakit asma, antara lain :
- Menjaga kesehatan
- Menjaga kebersihan lingkungan
- Menghindarkan faktor pencetus
serangan penyakit asma
- Menggunakan obat-obat
antipenyakit asma
Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan
tindakan pencegahan. Tetapi bila gejala-gejala sedang timbul maka diperlukan
obat asma untuk menghilangkan gejala dan selanjutnya dipertahankan agar
penderita bebas dari gejala penyakit asma.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan :
1.
Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak
terpisahkan dari pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang
gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah untuk
mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya. Usaha menjaga kesehatan
ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak,
istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai.
Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila
dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau
ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran
pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita
kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, dan sulit untuk dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita
yang kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang
berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran
napas akibat bernapas cepat dan dalam.
2. Menjaga
kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus.
Sebaiknya
kamar tidur sesedikit mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu
rumah. Hewan peliharaan, asap rokok, semprotan nyamuk, atau semprotan rambut
dan lain-lain mencetuskan penyakit asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu
mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan antara lingkungan
kerja dengan serangan penyakit asmanya.
3. Menghindari
faktor pencetus
Alergen yang
tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu sehingga cara-cara
menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing,
burung, perlu mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang
tidak diduga seperti kecoak dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma.
Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang terserang influenza.
Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang terserang influenza.
Juga
dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh sesak.
Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan.Jika akan berolahraga, lakukan latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah.
Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan.Jika akan berolahraga, lakukan latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah.
Zat-zat yang merangsang saluran
napas seperi asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia
dan udara kotor lainnya harus dihindari.
Perhatikan obat-obatan yang diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung (beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga dapat mencetuskan asma.
Perhatikan obat-obatan yang diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung (beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga dapat mencetuskan asma.
Tiu 4 : Memahami dan menjelaskan tentang kebersihan
dalam islam
Kebersihan dalam Islam
Agama dan ajaran Islam menaruh
perhatian amat tinggi pada kebersihan, baik lahiriyah maupun bathin. Kebersihan
lahiriyah itu tidak dapat dipisahkan dengan kebersihan batin. Oleh karena itu,
ketika seorang Muslim melaksanakan ibadah tertentu harus membersihkan terlebih
dahulu aspek lahiriyahnya. Ajaran Islam yang memiliki aspek akhidah, ibadah,
muamalah, dan akhlak ada kaitan dengan kebersihan. Hal ini terdapat dalam tata
cara ibadah secara keseluruhan. Orang yang mau shalat misalnya, diwajibkan
bersih lahir dan bathinnya. Secara fisik badan, pakaian, dan tempat salat harus
bersih, bahkan suci. Secara psikhis atau akidah harus suci juga dari perbuatan
syirik.
Dalam membangun konsep kebersihan,
Islam menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. Umpamanya, tazkiyah,
thaharah, nazhafah, dan fitrah, seperti dalam
hadis yang memerintahkan khitan, sementara dalam membangun
perilaku bersih ada istilah ikhlas, thib al-nafs, ketulusan kalbu, bersih
dari dosa, tobat, dan lain-lain sehingga makna bersih amat holistik karena
menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat.
Sebagaimana disinggung al-Quran dan
Sunnah banyak menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan kebersihan atau
kesucian. Dalam al-Quran ada istilah thaharah sebanyak 31 kata dan tazkiyah
59 kata. Dalam al-Quran istilah nazhafah, sementara dalam hadis kata nazhafah
dapat kita lihat dalam riwayat bukan hadis, “al-Nazhafatu min al-Iman”
walaupun hadis tersebut dipertanyakan keabsahannya.
Dalam implementasinya, maka istilah
thaharah dan nazhafah kebersihan yang bersifat lahiriyah dan
maknawiyah, sementara nazhafah atau fikih, istilah thaharah digunakan.
Pada kitab-kitab klasik dikhususkan Bab al-Thaharah yang bisasanya
disandingkan dengan Bab al-Najasah yang selanjutnya juga dibahas masalah
air dan tanah, wudu, mandi, mandi janabat, tayamum, dan lain-lain. Namun
demikian, ketika Allah menerangkan tentang penggunaan air untuk thaharah
disandingkan pula dengan kesucian secara maknawiyah. Maknawiyah ialah kesucian
dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil, sehingga dapat melaksanakan
ibadah, seperti salat dan thawaf.
Makna kebersihan yang digunakan
dalam Islam ternyata ada yang dilihat dari aspek kebersihan harta dan jiwa
dengan menggunakan istilah tazkiyah. Umpamanya, ungkapan Allah dalam
al-Quran ketika menyebutkan bahwa zakat yang seakar dengan tazkiyah,
memang maksudnya untuk membersihkan harta, sehingga harta yang dizakati adalah
bersih dan yang yang tidak dizakati dinilai kotor. Kebersihan dan kotor harta
sebenarnya ada korelasinya dengan jiwa.
Al-Quran dan hadis banyak
menggunakan lafal atau kosa-kata thaharah yang mengindikasikan pada
kesucian badan dari kotoran atau najis atau sesuatu yang menimbulkan
ketidaknyamanan jasmaniah seseorang. Dalam Surat al-Maidah: 6 dan surat
al-Nisa: 43, ayat yang mewajibkan wudlu dan atau mandi sebelum shalat, misalnya
tampak mengandung dua makna sekaligus, yaitu thaharah secara hissiyah
-jasmaniah (konkrit-nyata) karena dibersihkan dengan air dan thaharah
maknawiah (abstrak) karena dibersihkan dengan air atau tanah ketika air itu
tidak ada. Dikatakan mengandung dua makna sekaligus karena pada ayat itu
disebutkan juga makna, “Sesungguhnya Allah adalah pengampun dan penyayang” pada
akhir surat al-Nisa: 43 karena wudu dan mandi juga shalat adalah jalan
membersihkan dosa. Kesucian secara rohani karena dia sudah dengan ketaatan,
istigfar dan taubat kepada Allah. Pada ibadah-ibadah tersebut. Memang dalam
kehidupan keseharian makna suci ini, sering diungkapkan kepada seseorang yang
sedang haid atau dalam keadaan junub, misalnya. Orang yang sudah bersih
atau suci dari haid, disebut, “Hatta yath-hurna” (al-Baqarah: 222) bila
sudah mandi junub, bukan hanya dicuci.
Dalam Islam kebersihan adalah
kesucian itu sendiri dan kesucian adalah kebersihan, walaupun istilah ini tidak
sama sekali merupakan garis lurus. Mungkin secara jasmaniyah bersih, tetapi
belum tentu suci sekaligus karena dia orang yang tak pernah berwudu atau sedang
dalam keadaan hadast. Namun, seringkali kebersihan dan kesucian tak berimbang.
Ada yang asal bersih di rumah, tapi tak bertanggung jawab atas kebersihan
jalan, sungai, halaman orang, dan lain-lain.
Daftar Pustaka
Price. 2004. Patofisiologi. Jakarta. EGC
Sudoyono et all. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta. FKUI
Sherwood, Lauralee (2001).”Fisiologi Manusia
dari Sel ke Sistem”. Jakarta : EGC
Kumar.R.C.1999.Dasar
Patologi Penyakit.Jakarta.EGC
Rahajoe, N. 2004.
Pedoman Nasional Asma Anak. Jakarta.UKK Pulmonologi IDAI
Nelson, waldo e.
2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC
Robbins, stanley
l. 2007. Patologi. Jakarta. EGC
http://udarabersih.wordpress.com/2007/10/02/3-langkah-basmi-tungau-debu/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar