NYERI ULU HATI
Seorang wanita berusia 21 tahun, datang ke dokter Puskesmas dengan keluhan
nyeri ulu hati dan mual sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan akan bertambah bila
penderita terlambat makan dan setelah mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam.
Keluhan akan sedikit berkurang apabila penderita minum obat maag/antasida.
Pemeriksaan fisik :
·
Keadaan umum :
baik, kesadaran kompsmentis, tanda vital TD=120/80 mmHg, frekuensi nadi=72
kali/menit, frekuensi napas=16 kali/menit, suhu=36 C.
·
Keadaan spesifik
abdomen :
o Inspeksi : perut datar
o Palpasi : nyeri tekan epigastrium, tidak adanya massa, hepar dan lien tidak teraba
o Perkusi : timpani,
daerah redup hepar normal
o Auskultasi : bising
usus (+) normal
Berdasarkan hasil pemeriksaan diatas, diagnosis sementara adalah dispepsia. Dokter menyarankan untuk
makan teratur, tidak berlebihan dan ini sesuai dengan tuntunan ajaran islam
(israf dan tabdzir).
LANGKAH 1
TIU 1 Menjelaskan
dan Memahami
Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Lambung
1.1 Menjelaskan
Anatomi Makroskopik Lambung
1.2 Menjelaskan
Anatomi Mikroskopik Lambung
TIU 2 Mengetahui
dan Memahami
Fisiologi Gaster
2.1 Memahami
Lambung Berdasarkan Fungsi
2.2 Memahami Persyarafan Lambung
2.3 Memahami Mekanisme Pergerakan dan Pengaturan sampai
Pengosongan Lambung
2.4 Memahami Fungsi Sekresi Mukosa Lambung
2.5 Memahami Pembentukan HCL dan Liur Lambung
TIU 3 Mengetahui
dan Memahami
Biokimia
Lambung
3.1 Pencernaan Protein dan Enzim yang Terlibat
3.2 Pencernaan Lemak dan Enzim yang Terlibat
TIU 4 Mengetahui dan
Memahami
Sindroma
Dispepsia
4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Sindroma Dispepsia
4.2 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Sindroma Dispepsia
4.3 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Sindroma Dispepsia
4.4 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Sindroma Dispepsia
4.5 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Sindroma Dispepsia
4.6 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis
Banding Sindroma Dispepsia
4.7 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi klinis Sindroma Dispepsia
4.8 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Sindroma Dispepsia
4.9 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Sindroma Dispepsia
TIU 5 Mengetahui dan Memahami Penatalaksaan Sindroma Dispepsia
5.1 Farmakoterapi
5.2 Pencegahan
TIU 6 Mengetahui dan memahami
tentang
israf dan tabdzir
LANGKAH 2
MANDIRI
LANGKAH 3
TIU 1. Anatomi Makroskopis
dan Mikroskopis
Lambung
1.1
Menjelaskan
Anatomi Makroskopik Lambung
Lambung
adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen
dibawah diafragma. Semua bagian kecuali sebagian kecil, terletak pada bagian
kiri garis tengah.
Ukuran
dan bentuknya bervariasi dari satu individu ke individu lain, tergantung :
-
Banyaknya isi
-
Lanjutnya pencernaan
-
Kuatnya otot – otot
ventrikulus
-
Keadaan usus – usus
disekelilingnya
·
Dapat dibedakan :
-
Curvatura mayor
-
Curvatura minor
-
Paries ventralis
-
Paries dorsalis
·
Ventriculus dapat
dibagi dalam :
-
Cardia, tempat muara
oesophagus kedalam lumen
-
Fundus, bagian yang
menonjol ke kranial disebelah kiri oesophagus
-
Corpus, bagian dari
tempat muara oesophagus sampai tempat terkaudal
-
Pars pylorica, bagian
dari tempat terkaudal sampai akhir ventriculus
-
Pylorus, tempat
terakhir ventrikulus
·
Pada batas antara
corpus dan pars pylorica, lengkung venriculus lebih membuat suatu sudut atau
angulus dengan incisura yang melintang disebut incisura angularis.
·
Pada pylorus terdapat tempat
yang sempit disebut isthmus dengan vena yang berjalan melintang. Terdapat
serabut – serabut yang berjalan melingkar membentuk m. Sfingter pylori.
1.2
Menjelaskan
Anatomi Mikroskopik Lambung
Tunika mukosa lambung :
·
Membran mukosa tebal,
pada keadaan kosong mengkerut menjadi rugae
·
Permukaan mukosa
terbagi oleh daerah cekungan dangkal disebut foveola gastrica, pada setiap
foveola terdapat gastric pit, lubang yang berbentuk sumuran menuju ke bawah
·
Epitelnya selapis torak
A. Daerah
cardia
·
Foveola lebar dan dalam
·
Kelenjar amat sedikit,
berbentuk tubular simplek bercabang
·
Sel kelenjar adalah sel
mukosa, mirip sel mukosa pada sel pylorus
·
Kelenjar pendek –
pendek dan agak bergelung
B. Daerah
fundus dan korpus
·
Foveola sempit, gastric
pit pendek
·
Kelenjar fundus
menempati 2/3 lambung berupa kelenjar tubulosa panjang lurus dan bercanggah dua
( bifurcatio )
·
Kelenjar tebagi atas
bagian isthmus leher dan basis
I. Sel
mukosa isthmus
-
Pada bagian atas
kelenjar
-
Merupakan peralihan sel
gastric pit dan bagian leher kelenjar
-
Sel rendah, granula
mukus lebih sedikit, mensekresi mukus netral
II. Sel
parietal
-
Pada setengah bagian
bagian atas kelenjar, jarang pada basis
-
Tersisip antara sel
mukus leher, berbentuk piramid, inti sferis ditengah, berwarna eosinofil
-
Menghasilkan
o HCl
o Gastric
intrinsic factor untuk absorbsi vitamin B12
III. Sel
mukosa leher
-
Pada leher kelenjar,
berupa kelompokan sel maupun tunggal diantara sel parietal
-
Mensekresi mukus asam,
kaya glikosaminoglikan, berbeda dengan mukus permukaan yang netral
-
Bentuk tidak teratur,
inti pada basis sel, granula ovoid/sferis pada apikal sel
IV. Sel
zymogen
-
Sel utama, terdapat
dalam jumlah besar, terutama di korpus kelenjar
-
Sel serosa, berwarna
basofil, terdapat granula zymogen pada daerah apikal sel
-
Mensintesa protein,
granula berisi enzim pepsinogen dalam bentuk inaktif
-
Pada manusia
menghasilkan :
o Pepsin
( proteolitik aktif )
o Lipase
( enzim lipolitik )
V. Sel
argentaffin
-
Terdapat pada dasar
kelenjar, terselip diantara chief cell
-
Granula padat terdapat
di basal sel
-
Merupakan kelenjar
endokrin uniselular
-
Mensekresi serotonin
VI. Sel
APUD
-
Amine Precursor Uptake
and Decarboxylation cell
-
Mensintesa polipeptida
-
Dengan mikroskop
elektron : granula sekresi sangat halus, retikulum endoplasmik jarang dan
aparatus Golgi sedikit
-
Sel APUD terdapat pada
fundus, anrum pilorikum, duodenum, yeyunum, ileum dan colon
-
Mensekresi : gastrin,
sekretin, kolesistokinin, glukagon and somatostatin like substance
C. Daerah
pylorus
·
Merupakan 20% dari
lambung, berlanjur dengan duodenum
·
Gastric pit lebih
dalam, bercabang dan bergelung
·
Kelenjar pylorus
menyerupai kelenjar cardia
·
Mensekresi enzim
lisosom
·
Antara sel mukus
terdapat sel gastrin, yang merangsang pengeluaran asam pada kelenjar lambung
TIU 2 Mengetahui
dan memahami fisiologi gaster
2.1
Memahami
lambung
berdasarkan fungsi
1. Fungsi motorik lambung
Fungsi
menampung : menyimpan makanan sampai
makanan tersebut sedikt demi sedikit dicerna dan bergerak pada saluran cerna.
Menyesuaikan peningkatan volume tekanan dengan relaksasi reseptif otot polos
yang diperantarai oleh nervus vagus dan dirangsang oleh gastrin.
Fungsi
mencampur : memecahkan makanan menjadi
partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi
otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi peristaltik diatur oleh suatu irama
listrik intrinsik dasar.
Fungsi
pengosongan lambung : diatur oleh
pembukaan sfingter pilorus yang dipengaruhi viskositas, volume, keasamam,
aktivitas osmotik, keadaan fisik, serta emosi, obat-obatan, dan olahraga.
Pengosongan lambung juga diatur oleh faktor saraf dan hormonal, seperti
kolesistokinin.
2. Fungsi pencernaan dan sekresi
Pencernaan
protein oleh pepsin dan HCL dimulai
disini : pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung
kecil peranannya.
Sintesis dan pelepasan
gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum,
alkalinisasi antrum, dan rangsangan vagus.
Sekresi faktor
intrinsik memungkinkan absorpsi vitamin
B12 dari usus halus bagian distal.
Sekresi mukus membentuk selubung yang melindungi lambung serta
berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.
Sekresi
bikarbonat, bersama dengan sekresi gel
mukus, tampaknya berperan sebagai barrier dari asam lumen dan pepsin.
2.2
Memahami persyarafan lambung
Fungsi pencernaan dan penyerapan sistem gastrointestinal
bergantung pada berbagai mekanisme yang melunakan makanan, mendorongnya
disepanjang saluran cerna , dan mencampurnya dengan empedu hati yang disimpan
di kandung empedu dan enzim pencernaan yang disekresi oleh kelenjar saliva dan
pankreas. Beberapa mekanisme ini bergantung pada sifat intrinsik otot polos
usus. Mekanisme lainnya melibatkan kerja refleks termasuk neuron intrinsik
usus, berbagai refleks ssp, efek parakrin messenger kimiawi, dan hormon saluran
cerna.
Terdapat dua jaringan saraf utama intrinsik saluran cerna
: pleksus mientrikus (pleksus Auerbach) di antara lapisan otot longitudinal
luar dan sirkular tengah yang berperan
pada kontrol motorik, serta pleksus submukosa (pleksus Meissner) diantara
lapisan otot sirkular tengah dan mukosa yang mensarafi epitel kelenjar, sel
endokrin usus, pembuluh darah submukosa, dan pengaturan berbagai sekresi usus.
Secara kolektif, neuron-neuron ini membentuk sistem saraf usus/enterik. Neurotransmitter di sistem ini meliputi
asetilkolinamin, noreepinefrin, epinefrin, asam amino, gas NO, CO, dll.
Persarafan ektrinsik rangkap dari sistem saraf otonom,
berupa baik aktivitas kolinergik parasimpatis (serabut praganglion) yang
meningkatkan kerja otot polos usus mendominasi pada
situasi tenang maupun aktivitas noradrenergik simpatis (serabut
pascaganglion) yang mengurangi kerja otot sambil menimbulkan kontraksi otot
sfingter.
Untuk pembuluh darah usus memiliki persarafan rangkap :
yaitu meniliki persarafan noradrenergik ekstrinsik dan persarafan intrinsik
melalui serabut sistem saraf enterik.
2.3
Memahami mekanisme pergerakan dan pengaturan sampai
pengosongan lambung
Ada 4 aspek yang motilitas lambung :
1. Pengisian
lambung
Jika kosong, lambung memiliki volume sekitar 50 ml,
tetapi organ ini dapat mengembang hingga kapasitasnya mencapai sekitar 1000 ml
ketika makan. Akomodasi perubahan volume yang besarnya hingga 20x lipat
tersebut akan menimbulkan ketegangan pada dinding lambung dan sangat
meningkatkan tekanan intra lambung
jika tidak terdapat dua faktor
ini : (1) plastisitas otot polos lambung dan (2) relaksasi reseptif lambung
pada saat ia terisi.
(1) Plastisitas
mengacu pada kemampuan otot polos mempertahankan ketegangan konstan dalam
rentang panjang yang lebar. Dengan demikian, pada saat serat-serat otot polos
lambung teregang pada pengisian lambung, serat-serat lambung menyerah (melemas)
tanpa menyebabkan peningkatan ketegangan otot. Namun, peregangan yang melebihi
batas akan memicu kontraksi yang dapat menutupi perilaku plastisitas yang pasif
tersebut.
(2) Interior
lambung membentuk lipatan-lipatan dalam yang dikenal sebagai rugae. Selama
makan lipatan-lipatan tersebut mengecil dan mendatar pada saat lambung sedikit
demi sedikit melemas karena terisi, seperti pengembangan perlahan-lahan kantung
es yang semula kolaps lalu terisi. Relaksasi refleks lambung sewaktu menerima
makanan ini disebut relaksaksi reseptif.
2. Penyimpanan
lambung
Pola
depolarisasi spontan ritmik di sepanjang lambung menuju sfingter pylorus dengan
kecepatan tiga gelombang per menit disebut Basic Electrical Rhythm (BER)
lambung, berlangsung secara terus-menerus dan mungkin disertai oleh kontraksi
lapisan otot polos sirkuler lambung. Salah satu kelompok sel-sel pemacu
tersebut terletak di lambung bagian fundus bagian atas. Di fundus dan korpus
gerakan mencampur yang terjadi kurang kuat, makanan yang masuk ke lambung dari
esophagus tersimpan relatif tenang tanpa mengalami pencampuran. Daerah fundus
biasanya tidak menyimpan makanan, tetapi hanya berisi sejumlah gas. Makanan
secara bertahap disalurkan dari korpus ke antrum, tempat berlangsungnya
pencampuran makanan.
3. Pencampuran
lambung
Kontraksi
peristaltic lambung yang kuat merupakan penyebab makanan bercampur dengan
sekresi lambung dan menghasilkan kimus. Setiap gelombang peristaltic antrum
mendorong kimus ke depan ke arah sfingter pylorus. Kontraksi tonik sfingter
pylorus dalam keadaan normal menjaga sfingter hampir tetapi tidak seluruhnya
tertutup rapat. Lubang yang tersedia cukup besar untuk air dan cairan lain
lewat, tetapi terlalu kecil untuk kimus yang kental untuk lewat, kecuali apabila
kimus terdorong oleh kontraksi
peristaltic yang kuat. Walaupun demikian, dari 30 ml kimus yang dapat ditampung
antrum, hanya beberapa ml isi antrum yang terdorong ke duodenum oleh setiap
gelombang peristaltik. Sebelum lebih banyak kimus yang dapat diperas keluar,
gelombang peristaltic sudah mencapai sfingter pylorus dan menyebabkan sfingter
tersebut berkontraksi lebih kuat, menutup pintu keluar dan menghambat aliran
kimus lebih lanjut ke dalam duodenum. Gerakan maju mundur tersebut disebut
retropulsi, menyebabkan kimus bercampur secara merata di antrum.
4. Pengosongan
lambung
Kontraksi peristaltic antrum, selain menyebabkan
pencampuran lambung, juga menghasilkan gaya pendorong untuk mengosongkan
lambung. Jumlah kimus yang lolos ke duodenum pada setiap gelombang peristaltic
sebelum sfingter pylorus tertutup erat terutama bergantung pada kekuatan
peristaltic. Semakin tinggi eksitabilitas, semakin sering BER menghasilkan
potensial aksi, semakin besar aktifitas peristaltic di antrum dan semakin cepat
pengosongan lambung.
Faktor
di lambung yang mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung.
Faktor lambung utama yang mempengaruhi kekuatan kontraksi adalah jumlah kimus
di dalam lambung.
Selain itu, derajat keenceran (fluidity) kimus di
dalam lambung juga mempengaruhi pengosongan lambung. Isi lambung harus diubah
menjadi bentuk cairan kental merata sebelum dikosongkan. Semakin cepat derajat
keeenceran dicapai, semakin cepat isi lambung siap dievakuasi.
Faktor
di duodenum yang mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung. Walaupun
terdapat pengaruh lambung, faktor
di duodenum lah yang lebih penting untuk mengontrol kecepatan pengosongan
lambung.
4 faktor duodenum terpenting yang mempengaruhi
pengosongan lambung adalah :
1.
Lemak
Lemak, dicerna
dan diserap lebih lambat dibandingkan dengan nutrien lain. Selain itu,
pencernaan dan penyerapan lemak hanya berlangsung di dalam lumen usus halus.
Oleh karena itu, apabila di duodenum sudah terdapat lemak, pengosongan isi
lambung yang berlemak lebih lanjut ke dalam duodenum ditunda sampai usus halus
selesai mengolah lemak yang sudah ada disana.
2.
Asam
Asam, karena
lambung mengeluarkan asam Hidroclorida, kimus yang sangat asam dikeluarkan ke
dalam duodenum, tempat kimus tersebut mengalami netralisasi oleh natrium
bikarbonat (NaHCO3) yang disekresikan ke dalam lumen duodenum oleh pancreas.
Dengan demikian, asam yang tidak dinetralkan di duodenum menghambat pengosongan
isi lambung yang asam lebih lanjut sampai proses netralisasi selesai.
3.
Hipertonisitas
Hipertonisitas
dan peregangan maksudnya bergantung pada jumlah dan tingkat keenceran dari
kimus yang nantinya berpengaruh pada kerja duodenum. Semakin banyak dan semakin
pekat maka duodenum akan semakin ekstra bekerja untuk menyerap makanan dan
berusaha memperlambat pengosongan lambung. Namun sebaliknya, semakin encer dan
sedikit kimus yang ada semakin ringan pula kerja dari duodenum dan semakin
cepat melakukan pengosongan lambung.
4.
Peregangan
Adanya satu atau lebih rangsangan tersebut di
duodenum mengaktifkan reseptor duodenum yang sesuai, kemudian memicu respon
syaraf atau hormon untuk mengerem motilitas lambung dan memperlambat
pengosongan lambung dengan menurunkan eksitabilitas otot polos lambung. Respon
syaraf diperantai oleh pleksus syaraf intrinsic (refleks pendek) dan syaraf
otonom (refleks panjang). Secara kolektif, refleks-refleks tersebut disebut
refleks enterogastric.
Refleks hormon melibatkan pengeluaran dari mukosa
duodenum beberapa hormon yang secara kolektif disebut enterogastron.
Hormon-hormon itu diangkut oleh darah ke lambung, tempat mereka menghambat
kontraksi antrum untuk mengurangi pengosongan lambung. 3 dari enterogastron
tersebut sudah diketahui mendalam : sekretin, kolesistokini , dan peptida
inhibitorik lambung.
Juga terdapat faktor
diluar sistem pencernaan yang mempengaruhi pengosongan lambung, yaitu : emosi yang dapat merangsang atau pun
menghambat pengosongan lambung, nyeri
hebat yang dapat menghambat motilitas dan pengosongan, penurunan pemakaian glukosa di hipothalamus yang dapat merangsang
motilitas.
(kimus meninggalkan lambung
menuju duodenum)
2.4
Memahami fungsi sekresi mukosa lambung
Mukosa , lapisan dalam lambung, tersusun atas lipatan-lipatan
longitudinal disebut rugae yang memungkinkan terjadinya distensi lambung
sewaktu diisi makanan. Terdapat beberapa tipe kelenjar dan hormon pada lapisan
ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang ditempatinya, yaitu :
1. Kelenjar kardia
Terletak didekat orifisium kardia dan menyekresikan
mukus.
2. Kelenjar fundus atau gastrik
Terletak di fundus dan pada hampir seluruh korpus.
Kelenjar gastrik memiliki 3 tipe utama sel, yaitu :
a. Sel-sel zimogenik (chieff cell)
àPepsinogen
b. Sel-sel parietal
àHCL
c. Faktor intrinsik
àUntuk absorpsi vitamin B12 di dalam usus halus
d. Sel-sel mukus terletak di leher kelanjar fundus
àMukus
3.
Sel G
àMemproduksi hormon gastrin yang merangsang kelenjar
gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen. Terletak pada
daerah pilorus lambung.
4.
Substansi lain yang
disekresei ke dalam lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion
kalium, natrium dan klorida.
Pada periode interdigestif (antar dua waktu pencernaan)
sewaktu tidak ada pencernaan dalam usus, sekresi asam klorida terus berlangsung
dalam kecepatan lambat yaitu 1 sampai 5 mEq/jam. Proses ini disebut pengeluaran
asam basal (basal acid output, BAO). Diukur dengan pemeriksaan sekresi cairan
lambung selama puasa 12 jam. Sekresi lambung normal pada saat ini, terutama
terdiri atas mukus dan hanya sedikit pepsin dan asam. Tetapi, rangsangan
emosional dapat meningkatkan BAO melalui saraf parasimpatis (vagus) dan diduga
merupakan salah satu penyebab terjadinya ulkus peptikum.
2.5
Memahami dan menjelaskan regulasi sekresi lambung
Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjdi fase
sefalik, gastrik, dan intestinal. Fase
sefalik sudah dimulai bahkan sebelum makanan masuk lambung, yaitu akibat
melihat, mencium, memikirkan atau mengecap makanan. Fase ini seluruhnya
diperntarai oleh saraf vagus dan dihilangkan dengan vagotomi. Sinyal neurogenik
yang menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu
makan. Hal ini mengakibatkan kelenjar gastrik terangsang dan menyeksresikan
HCl, pepsinogen, dan menambah mukus. Fase sefalik menghasilkan sekitar 10 %
dari sekresi lambung normal yang berhubungan dengan makanan.
Fase gastrik
dimulai saat makanan mencapai antrum pilorus. Distensi antrum juga menyebabkan
terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor pada dinding lambung.
Impuls tersebut berjalan menuju medula melalui aferen vagus dan kembali ke
lambung melalui eferen vagus. Impuls ini merangsang pelepasangastrin secara
langsung juga merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Gastrin dilepas dari antrum
dan kemudian dibawwa oleh aliran darah menuju kelenjar lambung, untuk
merangsang sekresi. Fase sekresi gastrik menghasilkan lebih dari duapertiga
sekresi lambung total setelah makan.
Fase intestinal
dimulai oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Fase sekresi lambung
diduga sebagian besar bersifat hormonal. Adanya protein yang tercerna sebagian
dala duodenum tampaknya merangsang pelepasan gastrin usus, suatu hormon yang
menyebabkan lambung terus menerus menyekskresikan sejumlah kecil cairan
lambung. Meskipun demikian, peranan usus kecil sebagai penghambat sekresi
lambung jauh lebih besar.
Distensi usus halus menimbulkan refleks enterogastrik,
diperantarai oleh pleksus mientrikus, saraf simpatis dan vagus, yang menghambat
sekresi dan pengosongan lambung. Adanya asam, lemak dan hasil-hasil pemecahan
protein menyebabkan lepasnya beberapa hormon usus. Sekretin, kolesitokinin, dan
peptida pengahambat gastrik, semuanya memiliki efek inhibisi terhadap sekresi lambung.
2.6
Memahami pembentukan HCL dan liur lambung
Sel-sel parietal secara aktif mengeluarkan HCl ke dalam
lumen kantung lambung, yang kemudian mengalirkannya ke dalam lumen lambung. Ion
H dan Cl secara aktif ditransportasikan oleh pompa yang berada di membran
plasma sel parietal. Ion hidrogen secara aktif dipindahkan melawan gradien
konsentrasi yang sangat besar, dengan konsentrasi H dalam lumen mencapai 3
sampai 4 juta kali lebih besar daripada konsentrasinya didalam darah. Klorida
juga disekresikan secara aktif tetapi melawan gradien konsentrasi yang jauh lebih kecil. Ion H yang
disekresikan tidak dipindahkan dari plasma tetapi berasal dari proses
metabolisme didalam sel parietal. Apabila H disekresikan, netralitas interior
sel dipertahankan oleh pembentukan H baru dari asam karbonat untuk menggantikan
H yang keluar. Sel-sel parietal memiliki banyak enzim karbonat anhidrase,
dengan adanya sel karbonat anhidrase, H2O mudah berikatan dengan CO2 yang
diproduksi oleh sel parietal melalui proses metabolisme atau berdifusi masuk
dari darah.
Pembentukan
liur lambung
Liur lambung mengandung mukus yang disekresikan oleh
sel-sel mukosa permukaan dan leher di korpus dan fundus serta sel-sel serupa di
bagian lambung lain, terdiri dari glikoprotein yang disebut musin. Kandungan
elektrolit liur lambung beragam sesuai kecepatan sekresi. Pada kecepatan
sekresi yang rendah, konsentrasi Na tinggi dan konsentrasi H rendah, tetapi
seiring dengan peningkatan sekresi asam, konsetrasi Na turun.
TIU 3 Mengetahui
dan memahami biokimia lambung
Secret lambung :
-
Cairan jernih berwarna
kuning pucat
-
Mengandung hcl 0,2-0,5
%,ph =+1
-
Terdiri dari 97-99%
air,sisanya musin,garam anorganik,dan enzim pencernaan
3.1
Pencernaan protein dan enzim yang terlibat
1. HCl lambung
Di sekresi oleh sel
parietal. Fungsinya untuk mendenaturasi protein
dan membunuh bakteri.
2. Pepsin
a. Di sekresi oleh sel chief
dalam bentuk zimogen disebut pepsinogen menjadi pepsin.pepsin akan mengaktifkan
molekul pepsinogen.pepsin memecah protein jadi proteosa dan pepton.
b. Merupakan enzim
endopeptidase yang bersifat spesifik.
3. Rennin (kimosin,rennet) terdapat pada pencernaan bayi. Fungsinya mencegah susu
melintas secara cepat dari dalam lambung,
kasein susu menjadi parakasein aktif. Tidak terdapat pada
lambung orang dewasa
3.2
Pencernaan lemak dan enzim yang terlibat
1. Untuk
mencairkan lemak dibutuhkan panas lambung dengan bantuan kontraksi peristaltic
2. Lemak(triasilgliserol)
dihidrolisis menjadi asam lemak bebas + 1,2 diasilgliserol
3. Enzim
lipase pada ph rendah(hancur)
4. Lemak
dapat dicerna dalam waktu 2-4 jam
5. Asam
lemak hidrofilik diserap masuk kedalam v.porta
6. Asam
lemak hidrofobik(rantai panjang) akan diteruskan ke doedunum
TIU 4 Mengetahui
dan memahami
sindroma
dispepsia
4.1
Memahami dan Menjelaskan Definisi Sindroma Dispepsia
Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian
atas atau dada.
Yang sering dirasakan sebagai
adanya gas, perasaan penuh
atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut.
4.2
Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Sindroma Dispepsia
1.
Kelainan organik saluran cerna.
a.
Saluran cerna bagian atas
-
Esofagitis refluks
-
Gastritis/duodenitis
-
Tukak peptik (esofagus, lambung, duodenum)
-
Tukak anastomose Karsinoma gaster
-
Dilatasi gaster
-
Hipertropi pilorus
-
Gastroptosis
-
Divertikulum gaster/duodenum
-
Duodenal ileus, TBC usus, adhesi usus/mesen terium.
b.
Saluran cerna bagian bawah :
- Karsinoma kolon
c.
Pankreas :
- Pankreatitis kronis
- Karsinoma pankreas
d.
Sistim bilier:
- Kholesistitis
- Batu kandung empedu
e.
Hati
- Hepatitis akut/kronis
- Karsinoma hati
Kelainan non organik saluran
cerna:
- Gastralgia
- Dispepsia karena asam lambung
- Dispepsia flatulen
- Dispepsia alergik
- Dispepsia essensial
- Pseudoobstruksi intestinal
kronik
- Irritable bowel syndrome
2.
Diabetes melitus
- Gastroparesis
- Hipertiroid
- Kelainan susunan saraf pusat
(CVD, epilepsi).
3.
Psikogen : Histeria
4.3
Memahami dan Menjelaskan Etiologi Sindroma Dispepsia
1. Menelan udara (aerofagi)
2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
(refluks gastroesofageal)
3. Iritasi lambung (gastritis)
4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5. Kanker lambung
6. Peradangan kandung empedu (kolesistisis)
7. Kelainan gerakan usus
8. Kelainan gerakan usus
9. Kecemasan atau depresi
4.4
Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Sindroma Dispepsia
·
Sekresi asam lambung .
Peningkatan sensitivitas mukosa lambung
terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak diperut.
·
Helicobacter
pylori (Hp)
Peran infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional belum dapat
diterima,karena Helicobacter pylori
pada dipepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda makna dengan angka
kekerapan Hp pada orang sehat.
·
Dismotilitas
gastrointestinal.
Perlambatan pengosongan lambung adanya
hipomotilitas antrum.
·
Ambang rangsang
persepsi.
Hipersensitivitas
viseral terhadap distensi balon digaster dan duodenum.
·
Disfungsi otonom.
Disfungsi
persyarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas gastrointestinal pada
kasus dispepsia fungsional.Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam
kegagalan relaksasi bagian proximal lambung waktu menerima makanan,sehingga
menimbulkan gangguan akomondasi lambung dan rasa cepat kenyang.
·
Hormonal
Adanya penurunan kadar hormon motilin
yang menyebabkan gangguan motilitas antaroduodenal.Dalam beberapa percobaan
progesteron,estradiol,dan prolaktin mempengaruhi kontraktilitas otot polos dan
memperlambat waktu transit gastrointestinal.
(faktor-faktor
penyebab dispepsia fungtional)
Memahami
patogenesis sindroma dispepsia
·
Helobacter pylori
tumbuh pada ph 6.0-7.0 dan mati pada pH lambung.Mukus lambung relatif tidak
tembus asam dan mempunyai kapasitas buffer yang kuat.Pada epitel pHnya sekitar
7,4 .Helobacter pylori menghasilkan protease yang memodifikasi mukus lambung
dan mengurangi kemampuan asam untuk berdifusi melalui mukus. H.pylori mampu
menembus kepermukaan sel epitel lambung ,tapi tidak pada epitel usus.Menelan
H.pylori dapat menyebabkan gatritis dan hipoklorhida,juga ulkus duodenum.Toksin
dan lipopolisakarida H.pylori dapat merusak sel mukosa,dan amonia yang
dihasilkan dari aktivitas urease dapat langsng merusak sel.
4.5
Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Sindroma Dispepsia
Terdapat tiga
cara dalarn menegakkan diagnosis, yaitu :
1. Gambaran
klinis
2. Gambaran
lesi mukosa akut di mukosa lambung berupa erosi atau ulkus dangkal dengan tepi
rata pada endoskopi
3. Gambaran
radiologi
Dengan kontras tunggal sukar untuk
melihat lesi permukaan yang superfisial, karena itu sebaiknya digunakan kontras
ganda. Secara umum. peranan endoskopi saluran cerna bagian atas lebih sensitif
dan spesifik untuk diagnosis kelainan akut lambung.
(kontras didalam lambung)
Jika dispepsia menetap selama lebih dari
beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disetai
penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan.
4.6
Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Banding Sindroma
Dispepsia
Dispepsia organik
·
Ulkus peptik
kronik
·
Gastroesophangeal
reflux disease denagn atau tanpa gejala esofaginitis
·
Obat OAINS seperti aspirin
·
Kolelitiasis
simtomatik
·
Pankreatitis
kronik
·
Gangguan metabolic
Dispepsia fumgsional
·
Disfungsi
sensorik motorik gastroduodenum
·
Gasrtoporesis
idiopatik/hipomotilitas antrum
·
Disritmia gaster
·
Hipersensitifitas
gaster/duodenum
·
Gastritis H pylori
·
Idiopatik
4.7
Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Sindroma Dispepsia
· Nyeri
perut
· Rasa perih di ulu hati
· Mual
kadang-kadang sampai muntah
· Nafsu
makan berkurang
· Rasa
lekas kenyang
· Perut
kembung
· Rasa
panas di dada dan perut
· Regurgitasi
· Banyak
mengeluarkan gas asam dari dalam mulut .
(rasa terbakar di dada dan
perut)
4.8
Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Sindroma Dispepsia
Anamnesis
Riwayat minum
obat termasuk minuman yang mengandung alkohol dan jamu yang dijual bebas di
masyarakat perlu ditanyakan dan kalau mungkin harus dihentikan. Hubungan dengan
jenis makanan tertentu perlu diperhatikan.
Gejala (alarm
symptom) seperti disfagia, berat badan turun, nyeri menetap dan hebat, nyeri
yang menjalar ke punggung, muntah yang sangat sering, hematemesis, melena atau
jaudice kemungkinan besar adalah merupakan penyakit serius yang memerlukan
pemeriksaan seperti endoskopi dan / atau "USG" atau "CT
Scan" untuk mendeteksi struktur peptik, adenokarsinoma gaster atau
esophagus, penyakit ulkus, pankreatitis kronis atau keganasan pankreas empedu.
Perlu
ditanyakan hal-hal yang berhubungan dengan stresor psikososial misalnya:
masalah anak (meninggal, nakal, sakit, tidak punya), hubungan antar manusia
(orang tua, mertua, tetangga, adik ipar, kakak), hubungan suami-istri (istri
sibuk, istri muda, dimadu, bertengkar, cerai), pekerjaan dan pendidikan
(kegiatan rutin, penggusuran, PHK, pindah jabatan, tidak naik pangkat). Hal ini
dapat mengakibatkan eksaserbasi gejala pada beberapa orang.
Harus diingat
gambaran khas dari beberapa penyebab dispepsia. Pasien ulkus peptikum biasanya
berumur lebih dari 45 tahun, merokok dan nyeri berkurang dengan mencerna
makanan tertentu atau antasid. Nyeri sering membangunkan pasien pada malam hari
banyak ditemukan pada ulkus duodenum. Gejala esofagitis sering timbul pada saat
berbaring dan membungkuk setelah makan kenyang yaitu perasan terbakar pada
dada, nyeri dada yang tidak spesifik (bedakan dengan pasien jantung koroner),
regurgitasi dengan gejala perasaan asam pada mulut. Bila gejala dispepsia
timbul segera setelah makan biasanya didapatkan pada penyakit esofagus,
gastritis erosif dan karsinoma. Sebaliknya bila muncul setelah beberapa jam
setelah makan sering terjadi pada ulkus duodenum. Pasien DNU lebih sering
mengeluhkan gejala di luar GI, ada tanda kecemasan atau depresi, atau mempunyai
riwayat pemakaian psikotropik
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan
fisik dilakukan untuk menemukan adanya organomegali, tumor abdomen, ascites,
untuk menyingkirkan penyakit organik.
Oleh karena
dispepsia ini merupakan kumpulan gejala-gejala di mana pada suatu keadaan satu
gejala lebih dominan dari yang lain, sehingga para ahli membagi gejala-gejala
ini dalam beberapa sub-group:
1. Dispepsia tipe
refluks yaitu adanya rasa terbakar pada epigastrium, dada atau regurgitasi
dengan gejala perasaan asam di mulut.
2. Dispepsia tipe
dismotilitas yaitu nyeri epigastrium yang bertambah sakit setelah makan,
disertai kembung, cepat kenyang , rasa penuh setelah makan, mual atau muntah,
bersendawa dan banyak flatus.
3. Dispepsia tipe
ulkus yaitu nyeri epigastrium yang mereda bila makan atau minum antasid dan
nyeri biasanya terjadi sebelum makan dan tengah malam.
4. Dispepsia
non-spesifik yaitu dispepsia yang tidak bisa digolongkan dalam satu kategori di
atas.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
yang mungkin dikerjakan antara lain: darah lengkap dan pemeriksaan darah dalam
tinja serta urin, elektrolit, calcium dan amylase, fungsi hati, fungsi tyroid
dan ECG. Terutama untuk pasien berumur lebih dari 45 tahun dan umur muda dengan
gejala yang sering kambuh. Kita harus selektif dalam pemeriksaan ini dengan
mengingat indikasi klinik dan pertimbangan biaya dan efektifitas.
Dari hasil pemeriksaan darah
bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda
infeksi. Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau
banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi. Seseorang yang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung (Hadi, 2002).
Pada karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa
petanda tumor, misalnya dugaan karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 19-9( Vilano et al, 2002).
Pemeriksaan Penunjang
a.
Endoskopi
segera dikerjakan jika memang ada gejala "peringatan" dan pasien yang
sangat kuatir tentang adanya penyakit serius yang mendasarinya. Untuk pasien
lainnya, para klinisi harus memutuskan antara segera mengetahui diagnosa
definitif dengan endoskopi dan mengetahui dulu hasil terapi percobaan medis
empiris (therapi exjuvantivus).
Endoskopi bisa digunakan
untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan
lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah
mikroskop untuk mengetahui. Apakah lambung terinfeksi oleh
Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain sebagai diagnostik sekaligus terapeutik.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah :
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah :
·
CLO (rapid urea test)
·
Patologi anatomi (PA)
·
Kultur mikroorgsanisme (MO) jaringan
·
PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam
rangka penelitian
b.
Foto seri sinar-X dengan Barium pada GI atas kurang akurat dibanding
endoskopi untuk diagnosis ulkus peptikum dan refluks gastroesofageal.
c.
Test non-invasif untuk mendeteksi infeksi HP dengan IgG serologik atau Urea
Breath Test (lihat Algoritma I.) Keduanya mempunyai sensitivitas dan
spesifiksitas > 90% untuk pemeriksaan cancer gaster.
d.
Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yaitu OMD dengan
kontras ganda. Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian atas dan sebaiknya dengan kontras ganda. Pada refluks
gastroesofageal akan tampak peristaltik di esofagus yang menurun terutama di
bagian distal, tampak anti-peristaltik di antrum yang meninggi, pilorus sering menutup, sehingga sedikit barium yang masuk ke intestin (Hadi, 2002).
Pada tukak baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang
disebut niche, yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk
niche dari tukak yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin. Kanker di lambung secara radiologis, akan tampak massa yang ireguler, tidak terlihat peristaltik di daerah kanker. Bentuk dari lambung
berubah (Hadi, 2002). Pankreatitis akut perlu dibuat foto polos
abdomen, yang akan terlihat tanda seperti terpotongnya usus besar (colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestinal terutama di jejunum yang disebut sentina lloops (Hadi, 2002).
kontras ganda. Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian atas dan sebaiknya dengan kontras ganda. Pada refluks
gastroesofageal akan tampak peristaltik di esofagus yang menurun terutama di
bagian distal, tampak anti-peristaltik di antrum yang meninggi, pilorus sering menutup, sehingga sedikit barium yang masuk ke intestin (Hadi, 2002).
Pada tukak baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang
disebut niche, yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk
niche dari tukak yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin. Kanker di lambung secara radiologis, akan tampak massa yang ireguler, tidak terlihat peristaltik di daerah kanker. Bentuk dari lambung
berubah (Hadi, 2002). Pankreatitis akut perlu dibuat foto polos
abdomen, yang akan terlihat tanda seperti terpotongnya usus besar (colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestinal terutama di jejunum yang disebut sentina lloops (Hadi, 2002).
e.
"USG dan CT Scan" hanya dilakukan bila secara klinis atau
laboratoris ada kecurigaan ke arah penyakit pankreas atau empedu.
f.
Pengukuran PH Intraesophagus (monitor 24 jam) dilakukan terhadap pasien dengan
Dispepsia Non Spesifik dan hasil endoskopi yang normal untuk mendiagnosa
kemungkinan refluks gastroesofageal. Tapi bagaimanapun hal ini tidak praktis,
untuk kasus yang dicurigai penyakit refluks gastroesofageal langsung kita
terapi imperik anti refluks.
g.
Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan
menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami
nyeri yang membaik atau memburuk bila pendertita makan. (Mansjoer, 2007).
h.
Kadang dilakukan pemeriksaan lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respon kerongkongan terhadap asam.
4.9
Memahami dan Menjelaskan Prognosis Sindroma Dispepsia
Setelah dilakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang yang akurat, prognosis dispepsia adalah baik.
TIU
5. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Dispepsia
5.1.
Medikamentosa
Terapi
dispepsia sangat bergantung pada penuebab spesifikya dan mungkin memerlukan
perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau dalam kasus yang jarang, dapat
dilakukan pembedahan.
Asam lambung mengiritasi jaringan yang meradang dalam lambung dan
menyebabkan sakit dan peradangan yang lebih parah. Itulah
sebabnya, bagi sebagian besar tipe gastritis, terapinya melibatkan obat-obat
yang mengurangi atau menetralkan asam lambung, seperti :
1.
Antasida.
Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan
merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida
menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam
lambung dengan cepat. Antasida (antacid, antiacid) merupakan salah satu pilihan obat dalam
mengatasi sakit maag. Antasida diberikan secara oral (diminum) untuk mengurangi
rasa perih akibat suasana lambung yang terlalu asam, dengan cara menetralkan
asam lambung. Asam lambung dilepas untuk membantu memecah protein. Lambung,
usus, dan esophagus dilindungi dari asam dengan berbagai mekanisme.
Ketika kondisi lambung semakin asam ataupun mekanisme
perlindungan kurang memadai, lambung, usus dan esophagus rusak oleh asam dan
memberikan gejala bervariasi seperti nyeri lambung,
rasa terbakar, dan berbagai keluhan saluran cerna lainnya.
Umumnya antasida merupakan basa lemah. Biasanya
terdiri dari zat aktif yang mengandung alumunium hidroksida, madnesium hidroksida,
dan kalsium (bisa anda lihat di kemasan antasida).
Terkadang
antasida dikombinasikan juga dengan simetikon yang dapat mengurangi kelebihan
gas.
Efek samping yang utama antasida dengan zat aktif
alumunium hidroksida adalah konstipasi (sembelit). Sedangkan antasida dengan
zat aktif magnesium hidroksida dapat menyebabkan diare, sehingga kedua zat
aktif ini sering dikombinasikan agar efek samping dapat diminimalisir.
Seseorang yang mengalami gangguan ginjal harus berhati-hati dalam menggunakan
antasida yang mengandung magnesium, bahkan bila perlu jangan menggunakannya.
Antasida yang mengandung kalsium dapat mengontrol
keasaman di lambung sekaligus sebagai suplementasi kalsium. Suplemen kalsium
sangat penting bagi wanita postmenopause. Antasida yang mengandung
kalsium dapat menyebabkan sembelit.
2. Penghambat Asam.
Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut,
dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin,
nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi.
3. Penghambat pompa proton.
Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah dengan cara
menutup pompa asam dalam sel-sel lambung penghasil asam. Penghambat pompa
proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari pompa-pompa ini. Yang
termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan
esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja H. pylori.
4. Cytoprotective agents.
Obat-obat golongan ini membantu untuk melindungi jaringan-jaringan yang
melapisi lambung dan usus kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah sucraflate
dan misoprostol. Jika meminum obat-obat AINS secara teratur (karena suatu
sebab), dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat-obat golongan ini.
Cytoprotective
agents yang lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga menghambat aktivitas
H pylori. Terapi terhadap H pylori.
Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling
sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton.
Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk
membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa
sakit, mual, menyembuhka inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik.
Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk
membunuh H. pylori sangat beragam, bergantung pada regimen yang digunakan. Akan
tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi dua
obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan
dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas. (Advetorial Indofarma)
5.2. Pencegahan
Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan
kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan
yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan
obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar
dan tidak mengganggu fungsi lambung.
(rokok)
(alkohol)
TIU 6 Mengetahui dan memahami
tentang
israf dan tabdzir
Secara etimologis, boros dalam bahasa Arabnya adalah israf atau tabdzir.
Israf bentukan dari akar kata sarafa, yang artinya melalaikan, mengabaikan,
tidak mengetahui, melewati/melalui, dan memakan daunnya (sarakat as-surfatu
as-sajarah). Dapat pula diartikan melampaui batas (jawadza al-had). Jika
disebut asrafa al-mal maka sama dengan badzarahu yang artinya memboroskan atau
membuang-buang. Sedangkan pelakunya disebut musrifin.
Sinonimnya adalah al-tabdzir, yang berasal dari akar kata badzara. Artinya
al-habba yang berarti menabur (benih), menanam, menumbuhkan, tumbuh-tumbuhan,
menyebarkan, memboroskan dan menghambur-hamburkan harta. Orang yang
menghambur-hamburkan harta disebut al-mubadziru
atau al-mubadzriku. Jika kata tabdzir dipergunakan dalam kalimat badzara
al-mal tabdziran (menghambur-hamburkan harta), maknanya satu akar kata dengan
israfan dan badzratan.
Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia boros dpt diartikan dengan "berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan alam, pemakaian uang atau pun barang-barang. Allah memerintahkan kepada kaum muslim untuk menunaikan kewajiban terkait dengan harta yg dikuasainya yaitu memenuhi hak keluarga dekat, org miskin dan orang dalam perjalanan. Islam mengajarkan pada umatnya untuk memiliki kepedulian sosial sebagai dasar ciptanya ketentuan dn kedamaian.
Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia boros dpt diartikan dengan "berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan alam, pemakaian uang atau pun barang-barang. Allah memerintahkan kepada kaum muslim untuk menunaikan kewajiban terkait dengan harta yg dikuasainya yaitu memenuhi hak keluarga dekat, org miskin dan orang dalam perjalanan. Islam mengajarkan pada umatnya untuk memiliki kepedulian sosial sebagai dasar ciptanya ketentuan dn kedamaian.
Hanya saja kata israf lebih banyak bermakna infak (membelanjakan harta)
untuk perkara maksiyat. Dengan demikian jika kata israf disebut bersamaan
dengan kata infak, maknanya adalah memberikan harta untuk tindakan maksiyat.
Sedangkan al-tabdzir bermakna tunggal yaitu menghambur-hamburkan harta secara
boros.
Dalam al-Quran kata israf dan musrifin disebut sebanyak 23 kali dalam 21
ayat. Sedangkan al-tabdzir disebut dalam QS. Al-Isra’ [17] ayat 26-27 sebanyak
3 kali. Kata israf dan musrifin disebutkan dalam al-Quran dalam banyak arti.
Al-Quran menyatakan kata musrifin dengan makna mu’ridin ‘an dzikrillah
(melalaikan dzikir kepada Allah, QS. Yunus [10]:12), orang yang keburukannya
melebihi kebaikannya (QS. Al-Mukmin [40]: 43). Kata musrifin bisa pula
diartikan mufsidin (pembuat kerusakan, QS. Asy-Syuara (151-152)
Allah
telah melarang kaum muslimin untk mencari kekayaan dengan cara batil dan juga melarang membelanjakan harta yg dikuasi secara boros. Boros merupakan perilaku syaithan yang harus dihindari setiap umat muslim dalam berbagai situasi dan keadaan. Sikap boros akan menimbulkan kesengsaraan di dunia dan akhirat kelak. Adpn persamaan syetan dengan pmborosan adalah sama-sama ingkar terhadap nikmat
Allah SWT. Org yg dilmpahkan harta kekayaan, yang kemudian dipergunakn untuk jalan yg diridhai-Nya dan dengan batas2 yg diridhai pula dlm membelanjakan harta kekayaan tdk
blh boros melebihi kpnntgn yg dprlukn.
Sikap mendambakan kemewahan dunia semata sebagai tabiat buruk harus ditinggalkan. Seperti Allah memberikan pelajaran kepada qorun dng harta
kekayaannyaa telah dibenam di dalam bmi. Apabila
ada orang yang memiliki sikap berlebihan atau boros maka akan menerima siksa Allah SWT.
à"Dan
berikan kepada keluarga-keluarga terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan
orang yang berada dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
harta-hartamu secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan." (QS Al Isro’ 26-27)
à"Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka
orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah : "Siapakah yang mengharamkan
perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hambah-hambah-Nya dan
siapa pulakah yang mengharamkan rizki yang baik?" (Al A'raf: 31 - 32).
Sebagian
orang menjadikan ayat-ayat di atas sebagai dalil untuk mangharamkan
infaq dalam jumlah banyak sekalipun untuk persoalan-persoalan mubah. Mereka
menyatakan, bahwa israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (penghambur-hamburan)
dalam segala hal hukumnya haram. Sampai-sampai saat seseorang berwudhu dengan
air yang berlebihan adalah perbuatan haram, karena dijumpai larangannya.
Kekeliruan pendapat ini hingga mengharamkan hal-hal yang halal disebabkan
ketidakmampuan untuk membedakan antara kata israf dan tabdzir menurut makna
bahasa dengan makna syara'. Perlu diketahui bahwa kedua kata yaitu israf dan
tabdzir memiliki makna bahasa dan syara'. Adapun makna kata saraf dan israf
tersebut menurut makna bahasa adalah melampaui batas serta i'tidal lawan dari
kata qashdu. Sedangkan kata tabdzir dipergunakan dalam kalimat: Badzara Al Mal
Tabdziran (Menghamburkan-hamburkan harta) satu akar kata maknanya dengan
israfan dan badzratan. Keduanya, kata israf dan tabdzir menurut makna syara'
berarti menafkahkan harta untuk hal-hal yang telah dilarang Allah. Sedangkan
untuk hal-hal yang diperintahkan, baik sedikit maupun banyak bukan termasuk
israf maupun bukan tabdzir.
Setiap
bentuk nafkah (pengeluaran) untuk hal-hal yang dilarang Allah, baik sedikit
maupun banyak adalah israf dan tabdzir (menurut makna syara').
Imam Az Zuhri meriwayatkan bahwa tatkala beliau menyatakan firman Allah:
"Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu di atas lehermu, dan janganlah membukanya lebar-lebar".(Al Isro': 29). Beliau berkomentar : “janganlah kamu mencegah tanganmu dari kebajikan, serta jangan dipergunakan memberikan nafkah untuk kebatilan”.
Imam Az Zuhri meriwayatkan bahwa tatkala beliau menyatakan firman Allah:
"Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu di atas lehermu, dan janganlah membukanya lebar-lebar".(Al Isro': 29). Beliau berkomentar : “janganlah kamu mencegah tanganmu dari kebajikan, serta jangan dipergunakan memberikan nafkah untuk kebatilan”.
"Dan
orang-orang yang apa bila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan
dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara
yang demikian". (Al-furqon: 67)
Isrof
yang dimaksud dalam ayat ini semata-mata menafkahkan harta untuk kema'siyatan.
Adapun untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tidak tergolong israf. Ayat
tersebut artinya: "Janganlah kalian menafkahkan harta-harta kalian untuk
kemaksiatan, dan jangalah kalian bakhil (bakhil) terhadap sesuatu yang mubah.
Bahkan nafkahkanlah harta tersebut dalam perkara mubah yaitu keta'atan
sebanyak-banyaknya.
Dengan demikian menafkahkan (harta) untuk selain perkara mubah adalah tindakan tercela, dan bakhil (kikir) dalam perkara mubah juga tercela. Yang terpuji adalah memberikan nafah untuk perkara mubah dan keta'atan.
Dengan demikian menafkahkan (harta) untuk selain perkara mubah adalah tindakan tercela, dan bakhil (kikir) dalam perkara mubah juga tercela. Yang terpuji adalah memberikan nafah untuk perkara mubah dan keta'atan.
“Begitulah orang-orang yang lalai kepada Allah itu
memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (QS Yunus : 12)
Jadi
kata israf dan musrifin memiliki beberapa makna syara'. Oleh karena itu,
penafsiran menurut makna bahasa tidak diperbolehkan. Bahkan, harus dibatasi
hanya dengan makan syara' saja. Dengan meneliti kata musrifin, israf,
mubadzirin dan tabdzir dalam Al Qur'an yang ada semata-mata hanya satu makna
yaitu menafkahkan harta dalam perkara yang haram.
Israf
dalam praktek wudhu, maknanya adalah melebihi tiga kali (guyuran air), karena
hal ini telah melampaui apa yang telah diperintahkan oleh syara'. Praktek
tersebut jelas-jelas tergolong israf, jadi maknanya bukan israf (berlebih-lebihan)
dalam pemakaian air. Seperti halnya menjadikan sholat sunah subuh lebih dari
dua rakaat, padahal sunnahnya dua rakaat. Sama halnya menjadikan bacaan tasbih
sebanyak tiga
puluh lima kali, padahal sunahnya tiga puluh tiga kali.
Berdasarkan
hal itu, sebenarnya seorang muslim bisa saja menafkahkan hartanya untuk perkara
mubah dan keta'atan sekehendak hatinya, tanpa syarat-syarat mengikat apapun.
Baik karena ia butuhkah, ataupun karena semata-mata pemberian saja, semuanya
adalah mubah. Dan bukan dianggap israf. Penyataan yang menyatakan bahwa hal itu
tergolong israf yang diharamkan adalah tidak benar, sebab itu berarti mengharamkan
sesuatu yang dimubahkan. Sedangkan menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan
oleh syara' termasuk perbuatan dusta atas nama Allah.
Ayat-ayat yang menyatakan tentang israf dan tabdzir amat jelas. Bahwa kesemuanya memiliki arti membelanjakan harta untuk perbuatan (perkara) yang haram. Padahal, disamping itu Allah juga tidak mengharamkan idha'atul mal (melenyapkan harta kekayaan) tanpa ada sebab apapun.
Ayat-ayat yang menyatakan tentang israf dan tabdzir amat jelas. Bahwa kesemuanya memiliki arti membelanjakan harta untuk perbuatan (perkara) yang haram. Padahal, disamping itu Allah juga tidak mengharamkan idha'atul mal (melenyapkan harta kekayaan) tanpa ada sebab apapun.
Melampaui
batas harus memiliki batasan tertentu. Sedangkan yang dapat menentukan batasan
tersebut adalah syara', bukan akal, adat, kebiasaan, begitu juga bukan
kesederhanaan yang menjadi standar hidup. Syara' sebenarnya telah menjelaskan
bahwa batasannya adalah sesuatu yang dihalalkan Allah. Maka disebut melampaui batas, apabila melakukan sesuatu
yang tidak dihalalkan Allah atau yang diharamkannya.
Seandainya
seseorang ingin mengatakan dan menetapkan batas-batas (ukuran) tersebut maka
untuk menafsirkan kata israf menurut arti
bahasa tadi dalam ayat-ayat Al Qur'an,
jelas hal-hal ini tidak mungkin, karena harus kembali kepada makna syara'.
Walhasil penafsiran israf dan tabdzir, menurut makna bahasa tidak dapat
dibenarkan. Dan haram bagi siapapun
untuk menafsirkan dengan konteks tersebut. Sebab, hal itu tidak termaktub di
dalamnya. Bahkan harus ditafsirkan berdasarkan makna syara' yang ada dalam
nas-nas Al Qu'an.
Sebagai
seorang muslim tentunya kita tidak boleh putus asa atau bahkan lupa untuk
mencari penawar serta obat dari penyakit ini sebab kita tahu bahwa setiap
penyakit pasti ada obatnya, demikian pula tentunya dengan penyakit Israf ini,
dan diantara obat tersebut selain tentunya berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk meninggalkan sebab-sebab diatas, serta dengan cara mencari obat-obat yang
lain, dan diantara obat-obat yang lain itu adalah :
1. Berfikir
tentang konsekwensi yang akan ditimbulkan oleh penyakit Israf. Sebab dengan
perfikir kita bisa mengetahui apa pekerjaan yang akan kita lakukan itu
berakibat baik atau buruk, tentunya untuk kita serta untuk orang lain.
2. Berusaha
mengekang hawa nafsu dari segala keinginan yang berlebihan atau sesuatu yang
kurang bermanfaat, dengan cara sering solat malam, puasa sunnah, memperbanyak sedekah, membantu pekerjaan
orang lain serta meringankan bebannya.
3. Sering
membaca sunnaah-sunnah Nabi SAW dan sejarah Beliau, sebab dengan membaca
sunnaah-sunnahnya kita akan tahu betapa banyak sunnah-sunnah Nabi SAW yang
mengandung peringatan tentang bahaya penyakit Israf, dan bagaimana Beliau serta
keluarganya berusaha mengekang hawa nafsu dari hal-hal yang berlebihan.
4. Menengok
kembali akan kehidupan para sahabat, salafussoleh, para mujahid dan ulama. Dalam kehidupan mereka, mereka selalu
hidup dalam kesederhanaan dan mereka tidak pernah mencari harta kecuali untuk
tujuan akheratnya. Pernah suatu hari sahabat Salman al Farisi menemui khalifah
Abu Bakar Assidik yang pada saat itu beliau (Abu Bakar Assidik) sedang sakit,
berkatalah Salman kepada beliau:
Wahai Khalifah Rasulullah SAW berilah aku wasiat sebelum anda meninggal, maka Abu Bakar Assidik berkata kepada Salman "Sesungguhnya Allah SWT telah membuka pintu rizki didunia untuk kalian semua, maka janganlah engkau pernah mengambilnya kecuali rizki yang bisa menyampaikan engkau keakhirat nanti.
Wahai Khalifah Rasulullah SAW berilah aku wasiat sebelum anda meninggal, maka Abu Bakar Assidik berkata kepada Salman "Sesungguhnya Allah SWT telah membuka pintu rizki didunia untuk kalian semua, maka janganlah engkau pernah mengambilnya kecuali rizki yang bisa menyampaikan engkau keakhirat nanti.
5. Menjauhkan
diri dari teman yang mempunyai sifat boros dan berusaha membiasakan hal-hal yang terpenting dalam memenuhi kebutuhan jiwa dan raga.
6. Bergaul
dengan teman-teman yang hemat (bukan pelit) yang mereka tidak terlalu
terpengaruh dengan silaunya kehidupan dunia, dan yang hanya mengejar dunia demi
meninggikan islam dan untuk tujuan akherat. Teman yang bisa memelihara harta,
kehormatan dan teman yang tahu akan pentingnya sebuah pengorbanan.
7. Bersungguh-sungguh
dalam membentuk atau membina keluarga yang bisa menjauhkan diri dari penyakit
Israf Sebab dengan bersungu-sungguh dalam hal yang demikian dapat mengantarkan
keluarga sadar dan mengerti akan jalan yang sebenarnya harus
ditempuh serta memberikan gambaran tentang kehidupan dunia yang penuh
perjuangan dengan segala rintangannya.
8. Selalu
berfikir akan kenyataan kehidupan manusia pada umumnya dan kehidupan seorang
muslim pada khususnya. Sebab yang demikian dapat mengantarkan kita kepada
menjauhi sifat Israf dan bahkan dapat menyadarkan kita akan kenikmatan serta kelezatan dunia yang sementara.
9. Senantiasa
mengingat mati dan setelahnya, dan betapa dahsyatnya akan keadaan hari akhirat
nanti, hingga kita bisa mempersiapkan bekal untuk hari nanti.
10.
Mengingat akan jalan dan tujuan yang
sebenarnya harus kita tempuh serta mencapai akan tujuan tersebut, dan segala
rintangannya. Karena yang demikian membuat kita sadar bahwa bekal yang
sebenarnya adalah bukan dengan cara hidup mewah dan berfoya-foya, tapi dengan
cara meneguhkan hati kita dan berusaha mengekang hawa
nafsu dari hal-hal yang berlebihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar