ANATOMI PROSTAT
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior
buli-buli dan membungkus uretra posterior. Prostat berbentuk seperti piramid
terbalik dan merupakan organ kelenjar fibromuskuler yang mengelilingi uretra
pars prostatica. Bila mengalami pembesaran organ ini menekan uretra pars
prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar dari buli-buli.
Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar pada pria; tebalnya ± 2 cm dan
panjangnya ± 3 cm dengan lebarnya ± 4 cm, dan berat 20 gram. Prostat
mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua
buah duktus ejakulatorius.
Secara histologi prostat terdiri atas 30-50 kelenjar tubulo alveolar yang
mencurahkan sekretnya ke dalam 15-25 saluran keluar yang terpisah. Saluran ini
bermuara ke uretra pada kedua sisi kolikulus seminalis. Kelenjar ini terbenam
dalam stroma yang terutama terdiri dari otot polos yang dipisahkan oleh
jaringan ikat kolagen dan serat elastis. Otot membentuk masa padat dan
dibungkus oleh kapsula yang tipis dan kuat serta melekat erat pada stroma.
Alveoli dan tubuli kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk
ukurannya, alveoli dan tubuli bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai
lumen yang lebar, lamina basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat.
Jenis epitelnya berlapis atau bertingkat dan bervariasi dari silindris sampai
kubus rendah tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma
mengandung sekret yang berbutir-butir halus, lisosom dan butir lipid. Nukleus
biasanya satu, bulat dan biasanya terletak basal. Nukleoli biasanya terlihat
ditengah, bulat dan kecil.
Batas-batas prostat
1.
Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica
urinaria, otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang
lain.
2.
Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma
urogenitalis. Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan anterior.
3.
Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis pubis,
dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada cavum
retropubica(cavum retziuz). Selubung fibrosa prostat dihubungkan dengan
permukaan posterior os pubis dan ligamentum puboprostatica. Ligamentum ini
terletak pada pinggir garis tengah dan merupakan kondensasi vascia pelvis.
4.
Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan permukaan
anterior ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum retovesicalis (vascia
Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung
bawah excavatio rectovesicalis peritonealis, yang semula menyebar ke bawah
menuju corpus perinealis.
5.
Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m.
levator ani waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis.
Ductus ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan prostat untuk bermuara pada uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus.
Ductus ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan prostat untuk bermuara pada uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus.
Kelenjar prostat terbagi atas 5 lobus :
1. Lobus medius
2. Lobus lateralis (2 lobus)
3. Lobus anterior
4. Lobus posterior
Telah ditemukan lima daerah/ zona tertentu yang berbeda secara histologi
maupun biologi, yaitu:
1.
Zona Anterior atau Ventral
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
2. Zona Perifer
Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar
prostat. Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma
terbanyak.
3. Zona Sentralis.
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus
tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap
inflamasi.
4. Zona Transisional.
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar
periuretra disebut juga sebagai kelenjar preprostatik. Merupakan bagian
terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi dapat melebar bersama
jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign
prostatic hyperpiasia (BPH).
5. Kelenjar-Kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar
abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.
Aliran darah prostat merupakan percabangan dari arteri pudenda interna, arteri vesikalis
inferior dan arteri rektalis media. Pembuluh ini bercabang-cabang dalam kapsula
dan stroma, dan berakhir sebagai jala-jala kapiler yang berkembang baik dalam
lamina propria. Pembuluh vena mengikuti jalannya arteri dan bermuara ke pleksus
sekeliling kelenjar. Pleksus vena mencurahkan isinya ke vena iliaca interna.
Pembuluh limfe mulai sebagai kapiler dalam stroma dan mengikuti pembuluh darah
dam mengikuti pembuluh darah. Limfe terutama dicurahkan ke nodus iliaka interna
dan nodus sakralis.
Persarafan prostat berasal dari pleksus hipogastrikus inferior dan membentuk pleksus
prostatikus. Prostat mendapat persarafan terutama dari serabut saraf tidak
bermielin. Beberapa serat ini berasal dari sel ganglion otonom yang terletak di
kapsula dan di stroma. Serabut motoris, mungkin terutama simpatis, tampak
mempersarafi sel-sel otot polos di stroma dan kapsula sama seperti dinding
pembuluh darah.
Fisiologi Prostat
Sekret kelenjar prostat adalah cairan
seperti susu yang bersama-sama sekret dari vesikula seminalis merupakan
komponen utama dari cairan semen. Semen berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH
nya agak asam (6,5). Selain itu dapat ditemukan enzim yang bekerja sebagai
fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret
prostat dikeluarkan selama ejakulasi melalui kontraksi otot polos. kelenjar
prostat juga menghasilkan cairan dan plasma seminalis, dengan perbandingan
cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula seminalis 46-80% pada waktu
ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh Androgen
Bodies dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.
Fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan untuk semen,
yang mengandung ion sitrat, kalsium, ion fosfat, enzim pembeku dan
profibrinolisin. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara
di urethra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen lain pada saat
ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan ± 25% dari seluruh volume ejakulat.
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)
1. Definisi BPH
Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) disebut juga Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah hiperplasia kelenjar
periuretral prostat yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer
dan menjadi simpai bedah.3
2.
Etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab
terjadinya hiperplasia prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa
hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).7
Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya hiperplasia prostat adalah:
1. Teori
Hormonal
Dengan
bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara
hormon testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan
terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer
dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang
terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul dugaan bahwa testosteron
diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian
estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah
perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan
produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan
terjadinya pembesaran prostat.
Pada keadaan normal hormon gonadotropin
hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol
pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi penurunan
dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang
progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan
sangat merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari
fungsional histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar
uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi
terhadap estrogen.
2. Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan)
Peranan
dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma
kelenjar prostat. Terdapat empat peptic
growth factoryaitu: basic
transforming growth factor, transforming growth factor b1,
transforming growth
factor b2, dan epidermal
growth factor.
3. Teori peningkatan
lama hidup sel-sel prostat karena berkuramgnya sel yang mati
4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)
Seperti pada organ lain, prostat dalam
hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada dalam keadaan
keseimbangan “steady state”, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati,
keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan
prostat yang dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Pada
keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat bertambah sehingga terjadi
proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar
periuretral prostat menjadi berlebihan.
5. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Testosteron yang
dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal
(10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan
testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam “target
cell” yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam
sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductase menjadi 5 dehidrotestosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor
sitoplasma menjadi “hormone receptor complex”. Kemudian “hormone
receptor complex” ini mengalami transformasi reseptor, menjadi “nuclear
receptor” yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan
menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein
menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.5,6,8,10
3. PATOFISIOLOGI
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar
buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Menurut Mc Neal
(1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000), membagi kelenjar prostat dalam
beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona
fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat (2005),
menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan
testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Purnomo (2000)
menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon
tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah
menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan
kelenjar prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)
Pathway

5. Patofisiologi BPH
Pembesaran prostat
menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat aliran
urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan
itu. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari
buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula,
sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase
kompensasi.
Perubahan struktur
pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah
bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan
gejala-gejala prostatismus.
Dengan semakin
meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi
dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.
Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian
buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara
ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau
terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam
gagal ginjal.7
Hiperplasi
prostat
↓
Penyempitan
lumen uretra posterior
↓
Tekanan
intravesikal ↑
Buli-buli
Ginjal dan Ureter
- Hipertrofi otot detrusor
- Refluks vesiko-ureter
- Trabekulasi - Hidroureter
- Selula - Hidronefrosis
- Divertikel buli-buli -
Pionefrosis Pilonefritis
- Gagal ginjal
Pada BPH terdapat dua
komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan
komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran
kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi
gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik
meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang merupakan alpha
adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan menghasilkan
kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini
tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya
obstruksi oleh komponen mekanik.6
4. Gambaran Klinis BPH
Gejala hiperplasia
prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar
saluran kemih.
1. Gejala pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran
kemih sebelah bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala
iritatif. Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars
prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot
detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi
terputus-putus.
Gejalanya ialah :
- Harus menunggu pada
permulaan miksi (Hesistancy)
- Pancaran
miksi yang lemah (weak stream)
- Miksi
terputus (Intermittency)
- Menetes
pada akhir miksi (Terminal dribbling)
- Rasa
belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada
penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor, yaitu :
- Volume
kelenjar periuretral
- Elastisitas leher
vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
- Kekuatan kontraksi otot
detrusor7,10,11
Tidak semua prostat
yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun volume
kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot polos
prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan
kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.8
Gejala iritatif disebabkan oleh karena
pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan
oleh hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan
rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum
penuh.
Gejalanya ialah :
- Bertambahnya
frekuensi miksi (Frequency)
- Nokturia
- Miksi
sulit ditahan (Urgency)
- Disuria
(Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut diatas sering
disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat gejala prostatismus
itu dibagi menjadi :
Grade I : Gejala
prostatismus + sisa kencing <>
Grade II : Gejala
prostatismus + sisa kencing > 50 ml
Grade III: Retensi urin
dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml.8
Untuk menilai tingkat keparahan dari
keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, WHO menganjurkan klasifikasi untuk
menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor Internasional Gejala Prostat
atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem skoring I-PSS
terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS)
dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan
5, sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1
hingga 7.
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan
gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:
- Ringan : skor 0-7
- Sedang : skor 8-19
- Berat : skor 20-35
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria
untuk mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan
mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang
diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut.
Faktor pencetus
Kompensasi Dekompensasi
(LUTS) Retensi urin
Inkontinensia paradoksa
International Prostatic Symptom Score
|
Pertanyaan
|
Jawaban dan skor
|
|||||
|
Keluhan pada bulan terakhir
|
Tidak sekali
|
<20%
|
<50%
|
50%
|
>50%
|
Hampir selalu
|
|
a. Adakah
anda merasa buli-buli tidak kosong setelah berkemih
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
b. Berapa
kali anda berkemih lagi dalam waktu 2 menit
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
c. Berapa
kali terjadi arus urin berhenti sewaktu berkemih
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
d. Berapa
kali anda tidak dapat menahan untuk berkemih
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
e. Beraapa
kali terjadi arus lemah sewaktu memulai kencing
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
f. Berapa
keli terjadi bangun tidur anda kesulitan memulai untuk berkemih
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
g. Berapa kali anda bangun untuk berkemih di malam hari
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Jumlah nilai :
0 = baik sekali 3 = kurang
1 = baik 4 = buruk
2 = kurang baik 5 = buruk sekali
Timbulnya dekompensasi vesica urinaria
biasanya didahuluioleh beberapa faktor pencetus, antara lain:
- Volume
vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan
kencing terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang
mengandung diuretikum (alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang
berlebihan
- Massa
prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual
atau mengalami infeksi prostat akut
- Setelah
mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor
atau yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan
antikolinergik atau alfa adrenergik.7
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas
berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang
merupakan tanda dari hidronefrosis)., atau demam yang merupakan tanda dari
infeksi atau urosepsis.
3. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia
inguinalis atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan
pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.7
5.
Diagnosis BPH
a.
Anamnesis :
gejala obstruktif dan gejala iritatif
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan colok dubur
dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo
cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum
dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan :
1. Konsistensi
prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
2. Adakah
asimetris
3. Adakah
nodul pada prostate
4. Apakah
batas atas dapat diraba
5. Sulcus
medianus prostate
6. Adakah
krepitasi
Colok
dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi
prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan
kiri simetris, tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin
berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba.
Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba
nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat
akan teraba krepitasi.
Pemeriksaan
fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas
kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat
teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai
diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula
diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat
menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra
anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.
Pada
pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba masa
kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri
tekan supra simfisis.
c.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berperan dalam
menentukan ada tidaknya komplikasi.
1. Darah : - Ureum dan Kreatinin
·
Elektrolit
·
Blood
urea nitrogen
·
Prostate
Specific Antigen (PSA)
·
Gula
darah
2. Urin
: - Kultur urin + sensitifitas test
·
Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
·
Sedimen
Sedimen
urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi
pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman
yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap
beberapa antimikroba yang diujikan.
Faal
ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari
kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada vesica urinaria.
d.
Pemeriksaan pencitraan
1. Foto
polos abdomen (BNO)
BNO
berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa
prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh
terisi urin, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga
bisa menunjukkan adanya hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya
metastasis ke tulang dari carsinoma prostat.
2.
Pielografi
Intravena (IVP)
Pemeriksaan
IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:
1.
kelainan
pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis
2. memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang
ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan vesica urinaria oleh
kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk seperti mata
kail atauhooked fish
3. penyulit
yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau
sakulasi vesica urinaria
4. foto
setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin
3.
Sistogram retrograd
Apabila
penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram
retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.
4. USG secara transrektal (Transrectal
Ultrasonography = TURS)
Untuk
mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran
prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat,
menentukan volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari
kelainan lain yang mungkin ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor,
dan divertikel.
5. Pemeriksaan Sistografi
Dilakukan
apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine
ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan
tumor di dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah
datang dari muara ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga
memberi keterangan mengenai basar prostat dengan mengukur panjang uretra pars
prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra.
6. MRI atau CT jarang dilakukan
Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan
bermacam – macam potongan.
e.
Pemeriksaan Lain
1.
Uroflowmetri
Untuk
mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh : - daya
kontraksi otot detrusor
·
tekanan
intravesica
·
resistensi
uretra
Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik
dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju
pancaran melemah menjadi 6 – 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 – 15
ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang
dihasilkan.
2.
Pemeriksaan
Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar
pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat membedakan apakah penyebabnya adalah
obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah. Untuk membedakan
kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran dengan menggunakan
Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan
cara ini maka sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.
3.
Pemeriksaan
Volume Residu Urin
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan
dengan cara sangat sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa
volume urin yang masih tinggal atau ditentukan dengan pemeriksaan
ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan membuat foto post
voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya kosong,
sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal
vesika. Sisa
urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan
intervensi pada penderita prostat hipertrofi.3,6,8,10,11
6. Diagnosis Banding
1.
Kelemahan
detrusor kandung kemih
1.
kelainan
medula spinalis
2.
neuropatia
diabetes mellitus
3.
pasca
bedah radikal di pelvis
4.
farmakologik
2.
Kandung
kemih neuropati, disebabkan oleh :
1.
kelainan
neurologik
2.
neuropati
perifer
3.
diabetes
mellitus
4.
alkoholisme
5.
farmakologik
(obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)
3.
Obstruksi
fungsional :
1.
dis-sinergi
detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan
relaksasi sfingter
2.
ketidakstabilan
detrusor
4.
Kekakuan
leher kandung kemih :
Fibrosis
5.
Resistensi
uretra yang meningkat disebabkan oleh :
1.
hiperplasia
prostat jinak atau ganas
2.
kelainan
yang menyumbatkan uretra
3.
uretralitiasis
4.
uretritis
akut atau kronik
e. striktur
uretra
6. Prostatitis akut atau kronis3,11
7. Kriteria Pembesaran Prostat
Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat
dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah :
1.
Rektal
grading
Berdasarkan penonjolan prostat ke dalam
rektum :
·
derajat
1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum
·
derajat
2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum
·
derajat
3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum
·
derajat
4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum
2.
Berdasarkan
jumlah residual urine
·
derajat
1 : <>
·
derajat
2 : 50-100 ml
·
derajat
3 : >100 ml
·
derajat
4 : retensi urin total
3.
Intra
vesikal grading
·
derajat
1 : prostat menonjol pada bladder
inlet
·
derajat
2 : prostat menonjol diantara
bladder inlet dengan muara ureter
·
derajat
3 : prostat menonjol sampai muara ureter
·
derajat
4 : prostat menonjol melewati
muara ureter
4.
Berdasarkan
pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi : - derajat 1 :
kissing 1 cm
·
derajat
2 : kissing 2 cm
·
derajat
3 : kissing 3 cm
·
derajat
4 : kissing >3 cm6
8.Penatalaksanaan
Hiperplasi prostat yang telah memberikan
keluhan klinik biasanya akan menyebabkan penderita datang kepada dokter.
Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan
pada colok dubur dan sisa volume urin, yaitu:
- Derajat satu, apabila
ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur ditemukan penonjolan prostat,
batas atas mudah diraba dan sisa urin kurang dari 50 ml.
- Derajat dua, apabila
ditemukan tanda dan gejala sama seperti pada derajat satu, prostat lebih
menonjol, batas atas masih dapat teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi
kurang dari 100 ml.
- Derajat tiga, seperti
derajat dua, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih
dari 100 ml
- Derajat empat, apabila sudah terjadi retensi urin total.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan
berat gangguan miksi yang disebut WHO PSS (WHOProstate Symptom Score).
Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi.
Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15. Untuk itu dianjurkan
melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Terapi bedah dianjurkan bila WHO
PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi.3,11
Pembagian derajat beratnya hiperplasia
prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.
- Derajat
satu biasanya belum memerlukan tindakan operatif, melainkan dapat
diberikan pengobatan secara konservatif.
- Derajat
dua sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan
yang sampai sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans
uretral resection (TUR). Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum
mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan
pengobatan konservatif.
- Derajat
tiga, TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup
berpengalaman biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih
dari 60 gram. Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga
reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi
terbuka.
- Derajat
empat tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan
penderita dari retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau
memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
untuk melengkapi diagnostik, kemudian terapi definitif dapat dengan TURP
atau operasi terbuka.3,11
Terapi sedini mungkin sangat dianjurkan
untuk mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup dan menghindari komplikasi
akibat obstruksi yang berkepanjangan. Tindakan bedah masih merupakan terapi
utama untuk hiperplasia prostat (lebih dari 90% kasus). Meskipun demikian pada
dekade terakhir dikembangkan pula beberapa terapi non-bedah yang mempunyai
keunggulan kurang invasif dibandingkan dengan terapi bedah. Mengingat gejala
klinik hiperplasia prostat disebabkan oleh 3 faktor yaitu pembesaran kelenjar
periuretral, menurunnya elastisitas leher vesika, dan berkurangnya kekuatan
detrusor, maka pengobatan gejala klinik ditujukan untuk :
- Menghilangkan atau
mengurangi volume prostat
- Mengurangi tonus leher
vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Melebarkan uretra pars prostatika, menambah kekuatan detrusor 7,11
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah menghilangkan
obstruksi pada leher vesica urinaria. Hal ini dapat dicapai dengan cara
medikamentosa, pembedahan, atau tindakan endourologi yang kurang invasif.
Pilihan Terapi pada
Hiperplasi Prostat Benigna7
|
Observasi
|
Medikamentosa
|
Operasi
|
Invasif Minimal
|
|
Watchfull waiting
|
Penghambat adrenergik α
|
Prostatektomi terbuka
|
TUMT
TUBD
|
|
Penghambat reduktase α
Fitoterapi
Hormonal
|
Endourologi
|
Strent uretra dengan
prostacath
TUNA
|
Terapi Konservatif Non Operatif
1. Observasi (Watchful waiting)
Biasanya dilakukan pada
pasien dengan keluhan ringan. Nasihat yang diberikan adalah mengurangi minum
setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obatan
dekongestal (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan
minuman alkohol agar tidak sering miksi. Setiap 3 bulan lakukan kontrol keluhan
(sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.5
2. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah untuk:
- mengurangi
resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan a blocker
(penghambat alfa adrenergik)
- menurunkan
volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon
testosteron/dehidrotestosteron (DHT)
Obat Penghambat adrenergik a
Dasar pengobatan ini
adalah mengusahakan agar tonus otot polos di dalam prostat dan leher vesica
berkurang dengan menghambat rangsangan alpha adrenergik. Seperti diketahui di
dalam otot polos prostat dan leher vesica banyak terdapat reseptor alpha
adrenergik. Obat-obatan yang sering digunakan prazosin, terazosin, doksazosin,
dan alfuzosin. Obat penghambat alpha adrenergik yang lebih selektif terhadap
otot polos prostat yaitu α1a (tamsulosin), sehingga
efek sistemik yang tak diinginkan dari pemakai obat ini
dapat dikurangi. Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis tamzulosin 0,2-0,4
mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi
pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat-obatan golongan ini
memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan mengurangi
keluhan. Obat-obat ini juga memberi penyulit hipotensi, pusing, mual, lemas,
dan meskipun sangat jarang bisa terjadi ejakulasi retrograd, biasanya pasien
mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam waktu 1-2 minggu setelah pemakaian
obat.
Obat Penghambat Enzim 5 Alpha Reduktase
Obat yang dipakai adalah finasterid
(proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat
pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil.
Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan alpha blocker dan
manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping
obat ini adalah melemahkan libido dan ginekomastia. 3,4,12
Fitoterapi
Merupakan terapi
alternatif yang berasal dari tumbuhan. Fitoterapi yang digunakan untuk
pengobatan BPH adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin Seeds.
Keduanya, terutama Serenoa repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya
pengendalian prostatisme BPH dalam konteks “watchfull waiting strategy”.
Saw Palmetto menunjukkan
perbaikan klinis dalam hal:
- frekuensi
nokturia berkurang
- aliran
kencing bertambah lancar
- volume
residu di kandung kencing berkurang
- gejala
kurang enak dalam mekanisme urinaria berkurang.
Mekanisme kerja obat diduga kuat:
- menghambat
aktivitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen
- bersifat
antiinflamasi dan anti oedema dengan cara menghambat aktivitas enzim
cyclooxygenase dan 5 lipoxygenase. 4,5
3. Terapi Operatif
Tindakan operasi
ditujukan pada hiperplasi prostat yang sudah menimbulkan penyulit tertentu,
antara lain: retensi urin, batu saluran kemih, hematuri, infeksi saluran kemih,
kelainan pada saluran kemih bagian atas, atau keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan setelah
menjalani pengobatan medikamentosa. Tindakan operasi yang dilakukan adalah
operasi terbuka atau operasi endourologi transuretra.
- Prostatektomi
terbuka
a.1. Retropubic infravesica
(Terence Millin)
Keuntungan :
- Tidak
ada indikasi absolut, baik untuk adenoma yang besar pada subservikal
- Mortaliti
rate rendah
- Langsung
melihat fossa prostat
- Dapat
untuk memperbaiki segala jenis obstruksi leher buli
- Perdarahan
lebih mudah dirawat
- Tanpa
membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka
vesika
Kerugian :
- Dapat
memotong pleksus santorini
- Mudah
berdarah
- Dapat
terjadi osteitis pubis
- Tidak
bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal
- Tidak
dapat dipakai kalau diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari
dalam vesika
Komplikasi : perdarahan,
infeksi, osteitis pubis, trombosis
a.2. Suprapubic Transvesica/TVP (Freeyer)
Keuntungan :
- Baik
untuk kelenjar besar
- Banyak
dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat
- Operasi
banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : batu buli,
batu ureter distal, divertikel, uretrokel, adanya sistostomi, retropubik sulit karena kelainan os pubis, kerusakan sphingter eksterna
minimal.
Kerugian
:
- Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka
pada dinding vesica sembuh
- Sulit pada orang gemuk
- Sulit untuk kontrol
perdarahan
- Merusak mukosa kulit
- Mortality rate 1 -5 %
Komplikasi :
- Striktura post operasi
(uretra anterior 2 – 5 %, bladder neckstenosis 4%)
- Inkontinensia (<1%)
- Perdarahan
- Epididimo orchitis
- Recurent (10 – 20%)
- Carcinoma
- Ejakulasi retrograde
- Impotensi
- Fimosis
- Deep venous trombosis
a.3. Transperineal
Keuntungan :
- Dapat
langssung pada fossa prostat
- Pembuluh
darah tampak lebih jelas
- Mudah
untuk pinggul sempit
- Langsung
biopsi untuk karsinoma
Kerugian :
- Impotensi
- Inkontinensia
- Bisa
terkena rektum
- Perdarahan
hebat
- Merusak
diagframa urogenital 3,6,7,8,1011
b. Prostatektomi
Endourologi
b.1.Trans Urethral Resection of the
Prostate (TURP)
Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra.
Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri dari jaringan kelenjar
sentralis. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. Metode ini cukup
aman, efektif dan berhasil guna, bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada
sebagaian kecil dapat mengalami impotensi. Hasil terbaik diperoleh pasien yang
sungguh membutuhkan tindakan bedah. Untuk keperluan tersebut, evaluasi
urodinamik sangat berguna untuk membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien
non-obstruksi. Evaluasi ini berperan selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan
TUR.
Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan
di seluruh dunia. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan
cairan irigan (pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang
dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan
non ionik, yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat
operasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril
(aquades).
Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga
cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang
terbuka pada saat reseksi. Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya
hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma
TUR P. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah, kesadaran
somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi.
Jika tidak segera diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya
jatuh dalam keadaan koma dan meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini
adalah sebesar 0,99%. Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TUR P
dipakai cairan non ionik yang lain tetapi harganya lebih mahal daripada
aquades, antara lain adalah cairan glisin, membatasi jangka waktu operasi tidak
melebihi 1 jam, dan memasang sistostomi suprapubik untuk mengurangi tekanan air
pada buli-buli selama reseksi prostat.
Keuntungan :
- Luka incisi tidak ada
- Lama perawatan lebih pendek
- Morbiditas dan mortalitas
rendah
- Prostat fibrous mudah
diangkat
- Perdarahan mudah dilihat dan
dikontrol
Kerugian :
- Teknik sulit
- Resiko merusak uretra
- Intoksikasi cairan
- Trauma sphingter eksterna
dan trigonum
- Tidak dianjurkan untuk BPH
yang besar
- Alat mahal
- Ketrampilan khusus
Komplikasi:
-
Selama operasi: perdarahan, sindrom TURP, dan perforasi
-
Pasca bedah dini: perdarahan, infeksi lokal atau sistemik
-
Pasca bedah lanjut: inkontinensia, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd, dan
striktura uretra.
b.2.Trans Urethral Incision of Prostate (TUIP)
Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif, tetapi
ukuran prostatnya mendekati normal.Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang
umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut atau incisi leher
buli-buli atau bladder neck incision (BNI) pada jam 5 dan 7. Terapi ini juga
dilakukan secara endoskopik yaitu dengan menyayat memakai alat seperti yangg
dipakai pada TUR P tetapi memakai alat pemotong yang menyerupai alat penggaruk,
sayatan dimulai dari dekat muara ureter sampai dekat ke verumontanum dan harus
cukup dalam sampai tampak kapsul prostat.
Kelebihan dari metode ini adalah lebih
cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan
dengan cara TUR.
b.3.Trans Urethral Laser of the Prostate (Laser prostatectomy)
Oleh karena cara operatif (operasi terbuka
atau TUR P) untuk mengangkat prostat yang membesar merupakan operasi yang
berdarah, sedang pengobatan dengan TUMT dan TURF belum dapat memberikan hasil
yang sebaik dengan operasi maka dicoba cara operasi yang dapat dilakukan hampir
tanpa perdarahan.
Waktu yang diperlukan untuk melaser
prostat biasanya sekitar 2-4 menit untuk masing-masing lobus prostat (lobus lateralis
kanan, kiri dan medius). Pada waktu ablasi akan ditemukan pop corn effect sehingga tampak melalui sistoskop terjadi
ablasi pada permukaan prostat, sehingga uretra pars prostatika akan segera
menjadi lebih lebar, yang kemudian masih akan diikuti efek ablasi ikutan yang
akan menyebabkan “laser nekrosis” lebih dalam setelah 4-24 minggu sehingga
hasil akhir nanti akan terjadi rongga didalam prostat menyerupai rongga yang
terjadi sehabis TUR.
Keuntungan bedah laser ialah :
- Tidak menyebabkan
perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan
tidak memerlukan transfusi
- Teknik lebih sederhana
- Waktu operasi lebih cepat
- Lama tinggal di rumah sakit
lebih singkat
- Tidak
memerlukan terapi antikoagulan
- Resiko
impotensi tidak ada
- Resiko
ejakulasi retrograd minimal
Kerugian :
Penggunaan laser ini masih memerlukan
anestesi (regional).6,8,11
3. Invasif Minimal
- Trans
Urethral Microwave Thermotherapy (TUMT)
Cara memanaskan prostat sampai 44,5°C – 47°C ini mulai
diperkenalkan dalam tiga tahun terakhir ini. Dikatakan dengan memanaskan
kelenjar periuretral yang membesar ini dengan gelombang mikro (microwave) yaitu
dengan gelombang ultarasonik atau gelombang radio kapasitif akan terjadi
vakuolisasi dan nekrosis jaringan prostat, selain itu juga akan menurunkan
tonus otot polos dan kapsul prostat sehingga tekanan uretra menurun sehingga
obstruksi berkurang. lanjut mengenai cara kerja dasar klinikal, efektifitasnya
serta side efek yang mungkin timbul.
Cara kerja TUMT ialah antene yang berada
pada kateter dapat memancarkan microwave kedalam jaringan prostat. Oleh karena
temperatur pada antene akan tinggi maka perlu dilengkapi dengan surface costing
agar tidak merusak mucosa ureter. Dengan proses pendindingan ini memang mucosa
tidak rusak tetapi penetrasi juga berkurang.
Cara TURF (trans Uretral Radio Capacitive
Frequency) memancarkan gelombang “radio frequency” yang panjang gelombangnya
lebih besar daripada tebalnya prostat juga arah dari gelombang radio frequency
dapat diarahkan oleh elektrode yang ditempel diluar (pada pangkal paha)
sehingga efek panasnya dapat menetrasi sampai lapisan yang dalam. Keuntungan
lain oleh karena kateter yang ada alat pemanasnya mempunyai lumen sehingga
pemanasan bisa lebih lama, dan selama pemanasan urine tetap dapat mengalir keluar.
- Trans
Urethral Ballon Dilatation (TUBD)
Dilatasi uretra pars prostatika dengan
balon ini mula-mula dikerjakan dengan jalan melakukan commisurotomi prostat
pada jam 12.00 dengan jalan melalui operasi terbuka (transvesikal).
Prostat di tekan menjadi dehidrasi
sehingga lumen uretra melebar. Mekanismenya :
- Kapsul
prostat diregangkan
- Tonus
otot polos prostat dihilangkan dengan penekanan tersebut
- Reseptor
alpha adrenergic pada leher vesika dan uretra pars prostatika dirusak
- Trans
Urethral Needle Ablation (TUNA)
Yaitu dengan menggunakan gelombang radio
frekuensi tinggi untuk menghasilkan ablasi termal pada prostat. Cara ini
mempunyai prospek yang baik guna mencapai tujuan untuk menghasilkan prosedur
dengan perdarahan minimal, tidak invasif dan mekanisme ejakulasi dapat
dipertahankan.
- Stent
Urethra
Pada hakekatnya cara ini sama dengan
memasang kateter uretra, hanya saja kateter tersebut dipasang pada uretra pars
prostatika. Bentuk stent ada yang spiral dibuat dari logam bercampur emas yang
dipasang diujung kateter (Prostacath). Stents ini digunakan sebagai protesis
indwelling permanen yang ditempatkan dengan bantuan endoskopi atau bimbingan
pencitraan. Untuk memasangnya, panjang uretra pars prostatika diukur dengan USG
dan kemudian dipilih alat yang panjangnya sesuai, lalu alat tersebut dimasukkan
dengan kateter pendorong dan bila letak sudah benar di uretra pars prostatika
maka spiral tersebut dapat dilepas dari kateter pendorong. Pemasangan stent ini
merupakan cara mengatasi obstruksi infravesikal yang juga kurang invasif, yang
merupakan alternatif sementara apabila kondisi penderita belum memungkinkan
untuk mendapatkan terapi yang lebih invasif.
9. Komplikasi
Dilihat dari sudut pandang perjalanan
penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
1. Inkontinensia Paradoks
2.
Batu
Kandung Kemih
3.
Hematuria
4.
Sistitis
5.
Pielonefritis
6.
Retensi
Urin Akut Atau Kronik
7.
Refluks
Vesiko-Ureter
8.
Hidroureter
9.
Hidronefrosis
10. Gagal Ginjal
10.PROGNOSIS
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan
tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung
meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk
karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian, kanker
prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2 pada pria setelah kanker paru-paru.
BPH yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup
merugikan bagi penderita.
11.PENCEGAHAN
-Kini, sudah beredar suplemen makanan
yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah
suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil
penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang
bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha
reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi
dehidrotestosteron (penyebab BPH). Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah
besar.
Zat-zat gizi yang juga amat penting
untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya adalah :
1. Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah
pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat
berkembang menjadi kanker prostat.
2. Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan
dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal
dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.
3. Copper (gluconate) dan Parsley
Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung
fungsi ginjal.
4. L-Glysine, senyawa asam amino yang
membantu sistem penghantaran rangsangan ke susunan syaraf pusat.
5. Zinc, mineral ini bermanfaat untuk
meningkatkan produksi dan kualitas sperma.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar