Senin, 04 Juni 2012

Pemeriksaan Darah Rutin


Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan; yaitu
  1. Hemoglobin / Haemoglobin (Hb)
  2. Hematokrit (Ht)
  3. Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count)
  4. Hitung trombosit / platelet count
  5. Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR)
  6. Hitung eritrosit (di beberapa instansi)

Hemoglobin (Hb)
Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15 gram/dL
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27 gram/dL
  • Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL.
  • Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.

Hematokrit
Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%
Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%
Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.
  • Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.
  • Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%.

Leukosit (Hitung total)
Nilai normal 4500-10000 sel/mm3
Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3, Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700 sel/mm3
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:
  • Anemia hemolitik
  • Sirosis hati dengan nekrosis
  • Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)
  • Keracunan berbagai macam zat
  • Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.
Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.

Leukosit (hitung jenis)
Nilai normal hitung jenis
  • Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3)
  • Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3)
  • Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3)
  • Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)
  • Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3)
  • Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)
Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.
  • Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.
  • Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the rightbiasanya merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.

Trombosit
Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.
  • Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3.
  • Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3.

Laju endap darah
Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam pertama
Nilai normal lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam pertama
Nilai normal wanita hamil 18-70 mm/jam pertama
Nilai normal anak <10 mm/jam pertama
  • LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis, gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.
  • LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.

Hitung eritrosit
Nilai normal dewasa wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3, pria 4.5-6.2 juta sel/mm3.
Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm3.
  • Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemiasickle cell.
  • Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat)


sumber : 
Chernecky CC & Berger BJ. Laboratory Tests and Diagnostic Procedures 5th edition. Saunders-Elsevier, 2008 dan http://hnz11.wordpress.com/ rhesusnegatif.com

Rabu, 09 Mei 2012

Kanker Serviks (Ca Serviks) A9


Perdarahan Vagina Normal


Perdarahan vagina normal terjadi sebagai akibat dari perubahan-perubahan siklus hormon. Ovarium adalah sumber utama dari hormon-hormon wanita, yang juga mengatur siklus menstrual. Berlokasi dalam pelvis, satu pada setiap sisi uterus. Ovarium menghasilakn ovum dan hormon-hormon wanita. Setiap siklus menstrual bulanan, sebuah ovum dilepaskan dari satu ovarium. Telur berjalan dari ovarium melalui suatu tuba Fallopian ke uterus.
Kecuali kehamilan terjadi, siklus berakhir dengan penumpahan bagian dari lapisan sebelah dalam uterus, yang berakibat pada terjadinya menstruasi. Meskipun itu adalah akhir dari siklus fisik, hari pertama dari menstruasi ditunjuk sebagai “hari ke 1” dari siklus menstruasi.
Menarche adalah waktu didalam kehidupan seorang wanita ketika menstruasi pertama kali mulai. Menopause adalah waktu didalam kehidupan seorang wanita ketika fungsi dari ovarium berhenti.

Definisi Perdarahan Vagina Abnormal

Perdarahan vagina abnormal adalah aliran darah dari vagina yang terjadi pada waktu yang salah selama bulan itu atau pada jumlah-junlah yang tidak sesuai. Setiap wanita yang berpikir ia mempunyai pola perdarahan menstruasi yang tidak teratur harus berpikir secara hati-hati tentang karakteristik-karakteristik spesifik dari perdarahan vaginanya.

1. Wanita mempunyai perdarahan vagina abnormal selama kehamilan

Kebanyakan perdarahan vagina abnormal selama kehamilan terjadi begitu dini dalam kehamilan sehingga wanita tidak menyadari dia hamil. Oleh karenanya, perdarahan yang tidak teratur yang adalah baru mungkin adalah tanda dari kehamilan yang sangat awal, bahkan sebelum seorang wanita sadar atas kondisinya. Perdarahan vagina selama kehamilan dapat juga berhubungan dengan komplikasi-komplikasi dari kehamilan, seperti keguguran atau ectopic pregnancy.

2. Pola dari perdarahan vagina abnormal

Durasi yang abnormal dari perdarahan menstruasi dapat berupa perdarahan yang terlalu lama dari periode (hypermenorrhea), atau terlalu singkat dari periode (hypomenorrhea). Interval perdarahan dapat menjadi abnormal pada beberapa cara-cara. Periode-periode menstrual seorang wanita dapat terjadi terlalu sering (polymenorrhea) atau terlalu jarang (oligomenorrhea). Sebagai tambahan, durasi dapat bervariasi secara berlebihan dari siklus ke siklus (metrorrhagia). Jumlah (volume) perdarahan dapat juga abnormal. Seorang wanita dapat mempunyai terlalu banyak perdarahan (menorrhagia) atau terlalu sedikit volume (hypomenorrhea). Kombinasi dari perdarahan yang berlebihan yang digabungkan dengan perdarahan diluar waktu yang diharapkan dari menstruasi dirujuk sebagai menometrorrhagia.



Perdarahan menstruasi yang sangat berat (menorrhagia)

Perdarahan vagina yang sangat berat/parah, disebut menorrhagia, adalah perdarahan menstruasi yang lebih besar dari 5 sendok makan per bulan. Kondisi ini terjadi pada kira-kira 10% dari wanita-wanita. Pola yang paling umum dari menorrhagia adalah perdarahan yang berlebihan yang terjadi pada siklus-siklus menstruasi yang teratur dan dengan ovulasi yang normal.
Ada beberapa sebab yang penting bahwa menorrhagia harus dievaluasi oleh seorang dokter. Pertama, menorrhagia dapat menyebabkan kesusahan (distress) emosional yang substansiil (besar) seorang wanita dan gejala-gejala fisik, seperti kekejangan yang berat. Kedua, kehilangan darah dapat begitu parah/berat sehingga ia menyebabkan suatu jumlah darah yang rendahnya begitu membahayakan (anemia), yang dapat menjurus pada komplikasi-komplikasi medis dan gejala-gejala seperti kepeningan dan pingsan. Ketiga, dapat terjadi penyebab-penyebab yang berbahaya dari menorrhagia yang memerlukan perawatan yang lebih darurat.
Penyebab-penyebab yang tidak berbahaya (bukan bersifat kanker) dari menorrhagia termasuk:

Walaupun tidak umum, menorrhagia dapat menjadi suatu tanda dari kanker endometrial. Kondisi yang berpotensial sebelum kanker yang dikenal sebagai endometrial hyperplasia dapat juga berakibat pada perdarahan vagina abnormal. Situasi ini adalah lebih sering pada wanita-wanita yang berumur lebih dari 40 tahun.

Meskipun ada banyak penyebab-penyebab dari menorrhagia, pada kebanyakan wanita-wanita, penyebab spesifik dari menorrhagia tidak ditemukan bahkan setelah evaluasi medis sepenuhnya. Wanita-wanita ini dikatakan mempunyai disfungsi perdarahan kandungan. Meskipun tidak ada penyebab spesifik dari perdarahan vagina abnormal ditemukan pada wanita-wanita dengan disfungsi perdarahan kandungan, ada perawatan-perawatan yang tersedia untuk mengurangi keparahan dari kondisi.
Perdarahan vagina yang tidak teratur; periode-periode menstruasi yang terlalu seringkali (polymenorrhea)

Perimenopause adalah periode waktu yang mendekati transisi menopause. Ia seringkali dikarakteristikan oleh siklus-siklus menstruasi yang tidak teratur, termasuk periode-periode menstruasi pada interval-interval yang tidak teratur dan variasi-variasi pada jumlah dari aliran darah. Ketidakaturan-ketidakaturan menstruasi mungkin mendahului timbulnya menopause yang sebenarnya (didefinisikan sebagai ketidakhadiran dari periode-periode untuk satu tahun) oleh beberapa tahun.

Perdarahan Vagina Setelah Menopause

Banyak kondisi-kondisi dapat mengganggu fungsi yang tepat dari hormon-hormon wanita yang adalah perlu untuk ovulasi. Contohnya, banyak kondisi-kondisi atau keadaan-keadaan mungkin menyebabkn oligomenorrhea (pengurangan dalam jumlah dari periode-periode menstruasi dan/atau jumlah dari aliran daripada biasa) seperti:
I.                   Jika seorang wanita mempunyai penyakit-penyakit medis kronis atau dibawah stres medis atau emosi yang signifikan, dapat mulai untuk mempunyai kehilangan dari periode-periode menstruasinya.
II.                Malfungsi dari bagian tertentu dari otak, yang disebut hypothalamus, dapat menyebabkan oligomenorrhea.
III.             Anorexia nervosa adalah kelainan memakan yang berhubungan dengan kekurusan yang berlebihan yang menyebabkan banyak konsekwensi-konsekwensi medis yang serius begitu juga oligomenorrhea atau amenorrhea (ketidakhadiran dari periode-periode menstruasi).
IV.             Polycystic ovarian syndrome (PCO atau POS) adalah persoalan hormon yang menyebabkan wanita-wanita untuk mempunyai suatu keragaman dari gejala-gejala yang termasuk periode-periode menstruasi yang tidak teratur atau yang tidak ada, jerawat, kegemukan, ketidaksuburan, dan pertumbuhan rambut yang berlebihan; yang dapat dideteksi dengan tes-tes darah.

Tes-Tes Diagnostik Yang Digunakan Untuk Mengevaluasi Perdarahan Vagina Yang Abnormal

  • Seorang wanita yang mempunyai periode-peiode menstruasi yang tidak teratur memerlukan pemeriksaan fisik dengan penekanan khusus pada tiroid, payudara, dan area pelvis. Sewaktu pemeriksaan pelvis, dokter mencoba untuk mendeteksi polip-polip leher rahim atau massa-massa yang tidak biasa apa saja pada kandungan (uterus) atau indung-indung telur (ovaries).
  • Pap smear juga dilakukan untuk mengesampingkan kanker leher rahim. Ketika Pap smear sedang diperoleh, sample-sample mungkin diambil dari leher rahim untuk menguji kehadiran dari infeksi-infeksi seperti chlamydia atau gonorrhea.
  • Tes kehamilan adalah rutin jika wanitanya adalah premenopause.
  • Perhitungan darah mungkin dilakukan untuk mengesampingkan jumlah darah yang rendah (anemia) yang berakibat dari kehilangan darah yang berlebihan.
  • Jika sesuatu pada latar belakang medis atau pemeriksaan fisik seorang pasien (atau keluarganya) menaikan kecurigaan seorang dokter, tes-tes untuk mengesampingkan kelainan-kelainan pembekuan darah tertentu mungkin dilakukan.
  • Adakalanya, contoh darah akan diuji untuk mengevaluasi kelainan-kelainan fungsi tiroid, fungsi hati, atau ginjal.
  • Tes darah untuk tingkat-tingkat progesterone atau pemetaan temperatur tubuh harian mungkin direkomendaikan untuk membuktikan bahwa wanitanya berovulasi .
  • Jika dokter mencurigai bahwa indung-indung telur gagal, seperti dengan menopause, tingkat-tingkat darah dari follicle-stimulating hormone (FSH) mungkin diuji.
  • Tes-tes darah hormon tambahan dilakukan jika dokter mencurigai polycystic ovary, atau jika pertumbuhan rambut yang berlebihan hadir.
  • Ultrasound pelvis seringkali dilakukan berdasarkan pada sejarah medis dan pemeriksaan pelvis seorang wanita.
  • Jika seorang wanita tidak merespon secara cukup pada perawatan medis, jika ia berumur lebih dari 40 tahun, atau jika ia mempunyai perdarahan vagina yang gigih diantara periode-periodenya, sebuah contoh dari lapisan kandungannya (diistilahkan endometrial sampling atau endometrial biopsy) seringakali dianalisa. Endometrial sampling membantu mengesampingkan kanker atau prakanker pada kandungan, atau ia dapat mengkonfirmasikan kecurigaan bahwa seorang wanita tidak berovulasi.

Beberapa Penyebab Perdarahan di luar Menstruasi

Polip Serviks
            Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa. Gejala umum berbentuk abnormal tersebut, yaitu: tanpa gejala polip serviks biasa saja dialami seseorang, leukorea yang sulit disembuhkan. Dasar diagnosis berdasarkan keluhan yang dikemukan diagnosis karena kebetulan memeriksakan. Pada pemeriksaan inspekulum dijumpai: jaringan bertambah, mudah berdarah, dan terdapat pada vagina bagian atas.

Erosi Porsio
Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.
            Erosi serviks dapat dibagi menjadi tiga, yakni: erosi ringan meliputi ≤ 1/3  total area serviks, erosi sedang meliputi 1/3-2/3 total area serviks dan erosi berat meliputi ≥ 2/3 total area serviks.

Ulkus Porsio
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio berwarna merah dengan batas tidak jelas pada ostium uteri eksternum. Etiologi berupa penggunaan IUD, pemakaian pil, perilaku seksual yang tidak sehat, trauma. Patofisiologi: Proses terjadinya ulkus portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD.IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus. Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkat dan menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua kejadian ulkus portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim. 

Trauma
Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari jaringan. Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan.
Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang sering terjadi pada akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada wanita yang telah menopause). Tempat perlukaan yang paling sering akibat koitus adalah dinding lateral Vagina, vorniks posterior dan kubah Vagina (setelah histerektomi). 
Gejala berupa nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan gejala-gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan dalam urinasi dan ambulasi

Polip Endometrium
Polip endometrium juga disebut polip rahim. Ia adalah pertumbuhan kecil yang tumbuh sangat lambat dalam dinding rahim. Mereka memiliki basis datar besar dan mereka melekat pada rahim melalui gagang bunga memanjang. Bentuknya dapat bulat atau oval dan biasanya berwarna merah. Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan ketidaknyamanan. Polip endometrium dapat menyebabkan kram karena mereka melanggar pembukaan leher rahim. Polip ini dapat terjangkit jika mereka bengkok dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada kejadian langka saat ini polip menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya terkadang sulit untuk hamil.


KARSINOMA SERVIKS


Definisi

            Kanker serviks adalah kanker primer dari serviks (kanalis servikalis dan atau portio).
 Kanker serviks berasal dari metaplasia epitel di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.

Etiologi

Sebab langsung dari kanker seviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, diantaranya yang penting: jarang ditemukan pada perawan(virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang citus pertama pada usia yang sangat muda (<16 tahun), insidensi meningkat dengan tingginya paritas, apalagi bila jarak persalinan terlalu dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (higiene seksual jelek, aktivitas seksual yang sering berganti- ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disuanat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV tipe 16 atau 18 dan terakhir kebiasaan merokok.
                                                                                               
Faktor Resiko

            Infeksi virus HPV merupakan faktor risiko masuknya karsinogen E6 dan E7. Banyak faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Telah pada berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker leher rahim menunjukkan bahwa faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS) dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan adanya hubungan antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi. Karsinogen ini bekerja di daerah transformasi menghasilkan suatu gradasi kelainan permulaan keganasan, dan paling berbahaya bila terpapar dalam waktu 10 tahun setelah menarche.

Keterlibatan peranan pria terlihat dari adanya kolerasi antara kejadian kanker serviks dengan kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain menimbulkan konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit kelamin dan keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.

-          Kontrasepsi
Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang    dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral        sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.

-          Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai             rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic      hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin    pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung             bahan-bahan tersebut pada serviks adalah me-nurunkan status imun lokal sehingga             dapat menjadi kokarsi-nogen infeksi virus.

-          Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat,brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat.Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan). Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.




Faktor Etiologik

Infeksi protozoa, jamur dan bakteri tidak potensial onko-genik sehingga penelitian akhir-akhir ini lebih memfokuskan virus sebagai penyebab yang penting. Tidak semua virus dikatakan dapat menyebabkan kanker, tetapi paling tidak, dikenal kurang lebih 150 juta jenis virus yang diduga me-megang peranan atas kejadian kanker pada binatang, dan sepertiga di antaranya adalah golongan virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan
terjadinya mutasi sel.

Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2
Pada awal tahun 1970 virus herpes simpleks tipe 2 merupakan virus yang paling banyak didiskusikan sebagai penyebab timbulnya kanker serviks; tetapi saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus ini berperan besar, oleh karena itu diduga hanya sebagai ko-faktor atau dapat dianggap sama dengan karsinogen kimia atau fisik.

Human papillomavirus (HPV)
Sejak 15 tahun yang lalu, virus HPV ini telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu agen yang berperan. HPV adalah anggota famili Papovirida, dengan diameter 55 um. Virus ini mempunyai kapsul isohedral yang telanjang dengan 72 kapsomer, serta mengandung DNA sirkuler dengan untaian ganda. Berat molekulnya 5 x 106 Dalton. Dikenal beberapa spesies virus papilloma, yaitu spesies manusia, kelinci, sapi dan lain-lain. Saat ini telah diidentifikasi sekitar 70 tipe HPV dan mungkin akan lebih banyak lagi di masa mendatang Masing-masing tipe mempunyai sifat tertentu pada kerusakan epitel dan perubahan morfologi lesi yang ditimbulkan. Kurang lebih 23 tipe HPV dapat menimbulkan infeksi pada alat genitalia eksterna wanita atau laki-laki, yang meliputi tipe HPV 6,11,16, 18, 30, 31, 33, 34, 35, 39, 40, 42, 45, 51-58.

Keterlibatan HPV pada kejadian kanker dilandasi oleh beberapa faktor, yaitu : 1) timbulnya keganasan pada binatang yang diinduksi dengan virus papilloma; 2) dalam pengamatan terlihat adanya perkembangan menjadi karsinoma pada kondiloma akuminata; 3) pada penelitian epidemiologik infeksi HPV ditemukan angka kejadian kanker serviks yang meningkat; 4)DNA HPV sering ditemukan pada LIS (lesi intraepitel serviks) Walaupun terdapat hubungan yang erat antara HPV dan kankers erviks, tetapi belum ada bukti-bukti yang mendukung bahwa HPV adalah penyebab tunggal.

Perubahan keganasan dari epitel normal membutuhkan faktor lain, hal ini didukung oleh berbagai pengamatan, yaitu 1) perkembangan suatu infeksi HPV untuk menjadi kanker serviks berlangsung lambat dan membutuhkan waktu lama; 2) survai epidemiologi menunjuk-kan bahwa prevalensi infeksi HPV adalah 10-30 %, sedangkan risiko wanita untuk mendapatkan kanker serviks lebih kurang 1 %; 3) penyakit kanker adalah monoklonal, artinya penyakit ini berkembang dari satu sel. Oleh karena itu, hanya satu atau beberapa saja dari sel-sel epitel yang terinfeksi HPV mampu lepas dari kontrol pertumbuhan sel normal. Perkembangan teknologi hibridasi DNA telah memperkaya pengetahuan kita tentang hubungan HPV dan kanker serviks.

Pada analisis risiko didapatkan perbedaan yang besar antara HPV 16/18 yang menyebabkan NIS 1; bila dibandingkan dengan HPV 6/11 didapat risiko relatif hampir 1212 kali lebih besar. Pada NIS 2 risiko relatif yang disebabkan HPV 16/18 mencapai 1515 kali dibandingkan kontrol. Pada NIS 3 semua-nya disebabkan oleh HPV 16/18 dan risiko relatif untuk ber-kembang menjadi kondiloma invasif secara prospektif sebanyak 70 % selama pengamatan 12 tahun.

Gejala

Pada stadium dini, gejala kanker serviks tidak terlalu kentara. Butuh waktu 10-20 tahun dari infeksi untuk menjadi kanker. Walau demikian, ciri-ciri berikut dapat dijadikan tanda kanker serviks:
·    Terasa sakit saat berhubungan seksual,
·    Mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan badan,
·    Keluar darah yang berlebihan saat menstruasi,
·    Keputihan yang tidak normal (berwarna tidak bening, bau atau gatal),
·    Pada stadium lanjut: kurang nafsu makan, sakit punggung atau tidak bisa berdiri tegak, sakit di otot bagian paha, salah satu paha bengkak, berat badan naik-turun, tidak dapat buang air kecil, bocornya urin / air seni dari vagina, pendarahan spontan setelah masa menopause, tulang yang rapuh dan nyeri panggul.

Gambaran Klinik

·         Walaupun telah terjadi invasi tumor ke dalam stroma, kanker serviks masih mungkin tidak menimbulkan gejala.Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami sehabis senggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). [2]
·         Tanda yang lebih klasik adalah perdarahan bercak yang berulang, atau perdarahan bercak setelah bersetubuh atau membersihkan vagina. Dengan makin tumbuhnya penyakit, tanda menjadi semakin jelas. Perdarahan menjadi semakin banyak, lebih sering, dan berlangsung lebih lama. Namun, terkadang keadaan ini diartikan penderita sebagai perdarahan yang sering dan banyak. Juga dapat dijumpai sekret vagina yang berbau terutama dengan massa nekrosis lanjut. Nekrosis terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembuluh darah (angiogenesis) agar mendapat aliran darah yang cukup. Nekrosis ini menimbulkan bau yang tidak sedap dan reaksi peradangan non spesifik. [1]
·         Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi, juga di luar sanggama (perdarahan spontan). Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat klinik yang lebih lanjut (II atau III), terutama pada tumor yang bersifat eksofitik.pada wanita usia lanjut yang sudah tidak melayani suami secara seksual, atau janda yang sudah mati haid (menopause) bilamana mengidap kanker serviks sering terlambat datang meminta pertolongan. Perdarahan spontan saat berdefekasi terjadi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala, memaksa mereka datang ke dokter. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat berdefekasi, perlu dicurigai adanya karsinoma serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma. Anemia akan menyertai sebagai akibat dari perdarahan pervaginam yang berulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat, khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding sklerotik yang meradang. Gejala lain yang dapat timbul adalah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir (terminal stage), penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal (CRF= Chronic Renal Failure) akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih, yang menyebabkan obstruksi total. Membuat diagnosa karsinoma serviks uterus yang sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang menjadi masalah ialah, bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal, misalnya pada tingkat pra-invasif, lebih baik jika dapat menangkapnya dalam tingkat pra-maligna (displasia/diskariosis serviks).
·         Hasil pemeriksaan sitologi eksploratif dari ekto dan endo-serviks yang positif tidak boleh dianggap diagnosis pasti. Diagnosis harus dapat dipastikan dengan pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diperoleh dengan melakukan biopsi. [2]

Perubahan Fisiologik Epitel Serviks
Epitel serviks terdiri dari 2 jenis, yaitu epitel skuamosa dan epitel kolumnar; kedua epitel tersebut dibatasi oleh sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang letaknya tergantung pada umur, aktivitas seksual dan paritas. Pada wanita dengan aktivitas seksual tinggi, SSK terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh prostaglandin. Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks; epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar.

Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SSK, yaitu SSK asli dan SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi.

Perubahan Neoplastik Epitel Serviks
Proses terjadinya kanker serviks sangat erat hubungannya dengan proses metaplasia. Masuknya mutagen atau bahan-bahan yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di SSK atau daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agen-agen yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwa human papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.

Displasia mencakup pengertian berbagai gangguan maturasi epitel skuamosa yang secara sitologik dan histologik berbeda dari epitel normal, tetapi tidak memenuhi persyaratan sel karsinoma. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan pada sel. Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan maturasi epitel skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh.




Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000

Stadium 0       Karsinoma in situ, karsinoma intra epitel
Stadium I        Karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan)
Stadium Ia      Invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara langsung walau dengan invasi yang sangat superficial dikelompokkan sebagai stadium Ib. Kedalaman invasi ke stroma tidak lebih dari 5mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7mm
Stadium Ia1    Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3mm dan lebar tidak lebih dari 7mm
Stadium Ia2    Invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3mm tapi kurang dari 5mmm dan lebar tidak lebih dari 7mm
Stadium Ib      Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis tidak lebih dari Ia
Stadium Ib1    Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4cm
Stadium Ib2    Besar lesi secara klinis lebih besar dari 4 cm
Stadium II      Telah melibatkan vagina, tapi belum sampai 1/3 bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai dinding panggul
Stadium Iia     Telah melibatkan vagina, tapi belum melibatkan parametrium
Stadium Iib     Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai dinding panggul
Stadium III     Telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding panggul. Dengan hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal dimasukkan dalam stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan oleh sebab lain.
Stadium IIIa   Keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul
Stadium IIIb   Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal
Stadium IV     Perluasan ke luar organ reproduktif
Stadium Iva    Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rektum
Stadium Ivb    Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

Stadium kanker seviks menurut sistem TNM

T          Tak ditemukan tumor primer
T1S      Karsinoma pra-invasif, ialah KIS (Karsinoma In Situ)
T1           Karsinoma terbatas pada serviks, (walaupun ada perluasan ke korpus uteri)
T1a          Pra-klinik adalah karsinoma yang invasif dibuktikan dengan pemeriksaan histologik
T1b         Secara klinis jelas karsinoma yang invasif
T2           Karsinoma telah meluas sampai di luar serviks, tetapi belum sampai dinding panggul, atau karsinoma telah menjalar sampai dinding vagina, tetapi belum sampai 1/3 distal
T2a       Karsinoma belum menginfiltrasi parametrium
T2b       Karsinoma telah menginfiltrasi parametrium
T3           Karsinoma telah melibatkan 1/3 distal vagina atau telah mencapai dinding panggul (tidak ada celah bebas antara dinding panggul)

NB :  Adanya hidronefrosis atau gangguan faal ginjal akibat stenosis ureter karena infiltrasi tumor, menyebabkan kasus dianggap sebagai T3 meskipun pada penemuan lain kasus itu seharusnya masuk kategori yang lebih rendah

T4           Karsinoma telah menginfiltrasi mukusa rektum atau kandung kemih, atau meluas sampai panggul. (Ditemukannya edema bulosa tidak cukup bukti untuk mengklasifikasi sebagai T4)
T4a          Karsinoma melibatkan kandung kemih atau rektum saja dan dibuktikan secara histologik
T4b       Karsinoma telah meluas sampai di luar panggul

NB : Pembesaran uterus saja belum ada alasan untuk memasukkannya sebagai T4

NX      Bila tidak memungkinkan untuk menilai kelenjar limfa regional. Tanda -/+ ditambahkan untuk tambahan ada/tidak adanya informasi mengenai pemeriksaan histologik, jadi : NX + atau NX –
N0       Tidak ada deformitas kelenjar limfa pada limfografi
N1       Kelenjar limfa regional berubah bentuk sebagaimana ditunjukkan oleh cara-cara diagnostik yang tersedia ( misalnya limfografi, CT-scan panggul)
N2       Teraba massa yang padat san melekat pada dinding panggul dengan celah bebas infiltrat diantara massa ini dengan tumor
M0      Tidak ada metastsis berjarak jauh
M1      Terdapat metastasis berjarak jauh, termasuk kelenjar limfa di atas bifurkasio arteri iliaka komunis

Pemeriksaan pada Ca Serviks

Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi, venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut (Suharto, 2007) :

            Pemeriksaan pap smear

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yang tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada sekret yang diambil dari porsi serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah tiga kali hasil pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun sekali sampai usia 65 tahun.

Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim secara akurat dan dengan biaya yang tidak mahal, akibatnya angka kematian akibat kanker leher rahim pun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali setiap tahun. Apabila selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap smear bisa dilakukan setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni,1999):
a. Normal.
b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).
c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas).
d. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).
e. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya).

2.Pemeriksaan DNA HPV

Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Pap’s smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditentukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila hal ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.

3. Biopsi

Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. Biopsi ini dilakukan untuk melengkapi hasil pap smear. Teknik yang biasa dilakukan adalah punch biopsy yang tidak memerlukan anestesi dan teknik cone biopsy yang menggunakan anestesi. Biopsi dilakukan untuk mengetahui kelainan yang ada pada serviks. Jaringan yang diambil dari daerah bawah kanal servikal. Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu kanker invasif atau hanya tumor saja (Prayetni, 1997).

4. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)

Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yang terkena proses metaplasia. Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear, karena kolposkopi memerlukan keterampilan dan kemampuan kolposkopis dalam mengetes darah yang abnormal (Prayetni, 1997).

5. Tes Schiller

Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan yodium. Pada serviks normal akan membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel serviks karena adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yang mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah karena tidak ada glikogen ( Prayetni, 1997).

6. Radiologi

a)      Pelvik limphangiografi, yang dapat menunjukkan adanya gangguan pada saluran pelvik atau peroartik limfe.
b)     Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut, yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal. Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium, dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor dan / atau terkenanya nodus limpa regional (Gale & charette, 1999).

Diagnosis

Hasil pemeriksaan sitologi eksploratif dari ektoservic dan endoservic yang positif tidak boleh dianggap diagnosis pasti. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologik, biopsy harus terarah (target byopsi), kolposkopi bila sarana memungkinkan. Memulas portio dengan lugol dan jaringan yang akan diambil hendaknya pada batas diantara jaringan normal (berwarna coklat tua karena menyerap iodium ) dengan porsio yang pucat (jaringan yang abnormal yang tidak menyerap iodium). Kemudian jaringan direndam kedalam larutan formalin 10% untuk dikirim kelab Anatomi. Biopsy tidak mengambil jaringan yang nekrotik. Penentuan tingkat keganasan secara klinis didasarkan atas hasil pemeriksaan histologik. Untuk konfirmasi diagnosis yang tepat dilakukan tindak lanjut seperti kuratase ebdoserviks (ECC= endo-cervical curettase) atau koniasi services. 

Diagnosis Banding Karsinoma Serviks

·         Karsinoma sel skuamosa vagina
·         Karsinoma vulva
·         Karsinoma uterus
·         Karsinoma ovarium

Penatalaksanaan Kanker Serviks

Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.

Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks:
  • Bila ukuran tumor < 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemoterapi
  • Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi

Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo berbasis cisplatin. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.

Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat atau menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.

Pembedahan untuk Kanker Serviks
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan pengangkatan rahim (histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis operasi yang paling umum untuk kanker serviks.

Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukan mereka. Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ada di dalam leher rahim (stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah menyebar ke luar leher rahim.
Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil dari jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).

Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik (prosedur ini disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang digunakan sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita dengan kanker serviks stadium dini yang mungkin ingin memiliki anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel kanker, pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya telah diangkat.

Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup jaringan yang berada di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat diangkat dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o), jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.

Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada operasi ini, dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut dan kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang umum digunakan untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa kasus stadium II, terutama pada wanita muda.

http://www.cancerhelps.com/images/histerektomi.png

Dampak seksual dari histerektomi: Setelah histerektomi, seorang wanita masih dapat merasakan kenikmatan seksual. Seorang wanita tidak memerlukan rahim untuk mencapai orgasme. Jika kanker telah menyebabkan rasa sakit atau perdarahan, meskipun demikian, operasi sebenarnya bisa memperbaiki kehidupan seksual seorang wanita dengan cara menghentikan gejala-gejala ini.

Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita muda tertentu dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak. Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina ataupun perut.

Setelah operasi ini, beberapa wanita dapat memiliki kehamilan jangka panjang dan melahirkan bayi yang sehat melalui operasi caesar. Dalam sebuah penelitian, tingkat kehamilan setelah 5 tahun lebih dari 50%, namun risiko keguguran lebih tinggi daripada wanita normal pada umumnya. Risiko kanker kambuh kembali sesudah pendekatan ini cukup rendah.

Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada jenis operasi ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya.

Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan dan membuang air kecil diperlukan. Sepotong usus pendek dapat digunakan untuk membuat kandung kemih baru. Urine dapat dikosongkan dengan menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke dalam lubang kecil di perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong plastik kecil yang ditempatkan di bagian depan perut.

Jika rektum dan sebagian usus besar diangkat, sebuah cara baru untuk melewati kotoran/feses diperlukan. Hal ini dilakukan dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang pembukaan di perut dimana kotoran dapat dikeluarkan. Atau ahli bedah mungkin dapat menyambung kembali usus besar sehingga tidak ada kantung di luar tubuh yang diperlukan. Jika vagina diangkat, sebuah vagina baru yang terbuat dari kulit atau jaringan lain dapat dibuat/direkonstruksi.

Diperlukan waktu lama, 6 bulan atau lebih, untuk pulih dari operasi ini. Beberapa mengatakan butuh waktu sekitar 1-2 tahun untuk benar benar menyesuaikan diri dengan perubahan radikal ini.

Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan, biasanya Anda akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita Anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya menderita Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.

Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi (external maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya (di luar serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar.

Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal. Radioterapi eksternal berarti sinar X diarahkan ke tubuh (area panggul) melalui sebuah mesin besar. Sedangkan radioterapi internal berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher rahim Salah satu metode radioterapi internal yang sering digunakan adalah brachytherapy.

Brachytherapy untuk Kanker Serviks
Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal abad ini. Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ kewanitaan. Baik radium dan cesium telah digunakan sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi internal. Sejak tahun 1960-an di Eropa dan Jepang, mulai diperkenalkan sistem HDR(high dose rate) brachytherapy.

HDR brachytherapy diberikan hanya dalam hitungan menit. Untuk mencegah komplikasi potensial dari HDR brachytherapy, maka biasanya HDR brachytherapy diberikan dalam beberapa insersi. Untuk pasien kanker serviks, standar perawatannya adalah 5 insersi. Waktu dimana aplikator berada di saluran kewanitaan (vagina, leher rahim dan/atau rahim) untuk setiap insersi adalah sekitar 2,5 jam. Untuk pasien kanker endometrium yang menerima brachytherapy saja atau dalam kombinasi dengan radioterapi external, maka diperlukan total 2 insersi dengan masing-masing waktu sekitar 1 jam.

Keuntungan HDR brachytherapy adalah antara lain: pasien cukup rawat jalan, ekonomis, dosis radiasi bisa disesuaikan, tidak ada kemungkinan bergesernya aplikator. Yang cukup memegang peranan penting bagi kesuksesan brachytherapy adalah pengalaman dokter yang menangani.

http://www.cancerhelps.com/images/brachytherapy.jpg

Efek Samping Radioterapi
Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:
  • Kelelahan
  • Sakit maag
  • Sering ke belakang (diare)
  • Mual
  • Muntah
  • Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
  • Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama menyakitkan
  • Menopause dini
  • Masalah dengan buang air kecil
  • Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
  • Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
  • Rendahnya jumlah sel darah putih
  • Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)

Kemoterapi untuk Kanker Serviks
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Biasanya obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan dalam satu waktu.

Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung pada jenis obat yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama pengobatan berlangsung.
Efek samping bisa termasuki:
  • Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kerontokan rambut jangka pendek
  • Sariawan
  • Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
  • Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
  • Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
  • Kelelahan
  • Menopause dini
Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Komplikasi

Pada tahap yang lebih lanjut dapat terjadi komplikasi fistula vesika vagina, gejala lain yang dapat terjadi adalah nausea, muntah, demam dan anemi (Prayetni, 1997).

Prognosis

Faktor-faktor yang menentukan prognosis ialah :
1. Umur penderita.
2. Keadaan umum.
3. Tingkat klinik keganasan.
4. Ciri-ciri histologik sel tumor.
5. Kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani.
6. Sarana pengobatan yang ada.

Berikut tabel Angka Ketahanan Hidup (AKH) 5 tahun menurut data internasional adalah sebagai berikut:

Tingkat
AKH-5 tahun
T1S
Hampir 100%
T1
70 – 85%
T2
40 – 60%
T3
30 – 40%
T4
< 10%

Sumber: UICC/ clinical Oncology; Springer-Verlag, New York, Heidelberg, Berlin; 1973, p:218

Pencegahan

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:
  1. Mencegah terjadinya infeksi HPV
  2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .

Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.

Selama 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon.

Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsy.

Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
·         Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun.
·         Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin.
·         Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB.
·         Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker.
·         Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal.

Vaksinasi Profilaksis untuk HPV: 
  1. GSK bivalen yang mengandung antigen HPV tipe 16 dan 18 (nama dagang: Cervarix) diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke-0, 1 dan 6.
  2. Merck Qudrivalent yang mengandung antigen HPV tipe 6, 11, 16 dan 18 (nama dagang Gardasil), diberikan secara IM di M. Deltoideus pada bulan ke 0, 2 dan 6.

Cara Memberikan Vaksin

Penyuntikkan Vaksin HPV dilakukan sebanyak satu seri yakni 3 kali pada bulan ke 0, ke 2 dan ke 6. Penyuntikan dilakukan di otot lengan atas. Cara kerja dari vaksin ini dengan merangsang antibodi respon kekebalan tubuh terhadap HPV dimana antibodi ditangkap untuk membunuh HPV sehingga virus HPV tidak dapat masuk ke leher rahim (serviks).
Satu seri vaksinasi HPV menyebabkan wanita mempunyai kekebalan (immunity) selama kira-kira 5 tahun. Sampai saat ini masih dilakukan penelitian untuk mengetahui lebih pasti berapa lama kekebalan ini dapat bertahan, demikian juga masih diteliti apakah wanita yang sudah divaksinasi perlu diberi suntikan ulangan (booster),
Untuk melakukan vaksin HPV harga yang harus dibayar setiap kali melakukan vaksin sangat mahal yakni sekitar Rpl,3 juta. Tapi harga ini tidak sebanding dengan biaya jika di kemudian hari menderita kanker serviks.

Efek Samping dan Bahaya Vaksin

FDA telah menyatakan bahwa vaksin HPV ini aman dan efektif. Vaksin ini sudah dites pada ribuan wanita usia 9-26 tahun di seluruh dunia. Hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa vaksin ini menyebabkan efek samping yang serius. Efek samping yang sering timbul berupa nyeri sementara di tempat suntikan.


Efek samping yang pernah dilaporkan berupa :
Nyeri pada daerah suntikan (>83.9 %). Bengkak pada daerah suntikan (>25.4 %). Merah pada daerah injeksi (>24.6 %), Demam (>13 %), Mual (>6.7 %), Pusing (>4%), Diarrhea (> 3.6%), Efek samping lainnya yang kurang dari 1% : mual, muntah, batuk, sakit gigi, tidak enak, nyeri sendi, insomnia, dan hidung tersumbat.

Vaksin HPV tidak boleh diberikan pada wanita hamil karena mungkin membahayakan perkembangan janin dalam kandungan. Kalau seorang wanita sedang hamil, maka dia baru boleh divaksinasi setelah bayinya lahir. Kalau seorang wanita baru tahu kalau dia hamil setelah diberi vaksin suntikan pertama, maka setelah bayinya lahir, dia baru boleh meneruskan dengan  suntikan vaksin seri kedua dan tiga.



Skrining: 
Metode skrining yang direkomendasikan di Indonesia adalah dengan papsmear dan IVA.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinWSdOjyMfOAasAxtZhk6FqpstkaBovk0RS0IIutbv6K-IBIERlgA4VNDtSbT4BYu26HAAERtSKh-pvYY1gVZ1ZSOBiZY3GCl2ItnojN7rz-OosjJI8-wT3Uz6CU4aqBsLeK2_Rjgzw-pS/s200/Picture7.png

Bila dengan papsmear didapatkan hasil negatif, maka skrining selanjutnya disarankan pada waktu 1 – 2 tahun berikutnya. Hasil papsmear dikategorikan dalam 5 kelas sebagai berikut:

  • Kelas I Normal
  • Kelas II Atypical
  • Kelas III Abnormal (ringan, sedang, berat)
  • Kelas IV Insitu
  • Kelas v Kanker invasif










Hasil IVA dapat diamati langsung 1-2 menit setelah asam asetat dioleskan. Gambarannya adalah sebagai berikut:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEial8ifmf4FfKZAkK0FxQ9MV-NzQOM4EX0DD_v5R2shtN57pj273BtiXYD5Q02TGj7_mHAjU0HX0FHNNnT4Srh1L8oIY1BSh-su1G1mgT0qFAo4UeQor0j33DRm_X9p0PHWKWgA-RY7Yaqo/s200/via+negatif.jpgIVA negatif 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjPEQhvcsMf6Phf1ramwckEkkeu0XZCQKtdpyqTHgMyfpsf35tTNE6YbK0IIyd1lCB6HP2T2t7WDTLQ499q8U0Q7BEPaIvRqTh9BrqrZ9FumV61tnJV56DuhYYLC0es3Svn8p42ve72hcZ/s200/via+negatif+with+nabotian+follicle.jpg
IVA negatif (dengan kista naboti) 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuTSKZx-S3AIbH2ecPJSquJPwBM5RHTqBegHdGLoeI00tXvYgzTcaKsrjqLf4oC_gjVeIvTtMUE_l7Qh5xCKBxlQMeFVvZ1fH_Lf5W6NaTW4WvWYqu6JbFkeiNF-vqToiK6-g-uN4ZHcUP/s200/iva+positif.jpg


Etika Pemeriksaan dalam Islam

Islam menentukan bahwa setiap manusia harus menghormati manusia yang lainnya, karena Allah sebagai khalik sendiri menghormati manusia, sebagai mana di jelaskan Allah dalam surat Al Isra’: 70.

Maka dokter maupun paramedis haruslah tidak memaksakan sesuatu kepada pasien, segala tindakan yang harus mereka kerjakan haruslah dengan suka rela dan atas keyakinan. Untuk pemeriksaan dokter dalam menegakkan diagnosa penyakit, maka dokter berkhalwat, melihat aurat, malah memeriksa luar dalam pasien dibolehkan hanya didasarkan pada keadaan darurat, sebagai yang dijelaskan oleh qaidah ushul fiqh yang berbunyi : yang darurat dapat membolehkan yang dilarang.

Islam memang mengenal darurat yang akan meringankan suatu hukum. Ada kaidah Idzaa dhoogal amr ittasi’ (jika kondisi sulit, maka Islam memberikan kemudahan dan kelonggaran). Bahkan Kaedah lain menyebutkan: ‘Kondisi darurat menjadikan sesuatu yang haram menjadi mubah’.

Berbicara mengenai kaidah fiqhiyyah tentang darurat maka terdapat dua kaidah yaitu kaidah pokok dan kaidah cabang. Kaidah pokok disini menjelaskan bahwa kemudharatan harus dilenyapkan yang bersumber dari Q.S Al- Qashash : 77), contohnya meminum khamar dan zat adiktif lainnya yang dapat merusak akal, menghancurkan potensi sosio ekonomi, bagi peminumnya kan menurunkan produktivitasnya. Demikian pula menghisap rokok, disamping merusak diri penghisapnya juga mengganggu orang lain disekitarnya. Para ulama menganggap keadaan darurat sebagai suatu kesempitan, dan jika kesempitan itu datang agama justru memberikan keluasan. Namun darurat itu bukan sesuatu yang bersifat rutin dan gampang dilakukan. Umumnya darurat baru dijadikan pilihan manakala memang kondisinya akan menjadi kritis dan tidak ada alternatif lain. Itu pun masih diiringi dengan resiko fitnah dan sebagainya.

Akan tetapi, untuk mencegah fitnah dan godaan syaitan maka sebaiknya sewaktu dokter memeriksa pasien dihadiri orang ketiga baik dari keluarga maupun dari tenaga medis itu sendiri. Akan lebih baik lagi jika pasien diperiksa oleh dokter sejenis, pasien perempuan diperiksa oleh dokter perempuan dan pasien laki-laki diperiksa oleh dokter laki-laki. Karena dalam dunia kedokteran sendiri banyak cerita-cerita bertebaran di seluruh dunia, di mana terjadi praktek asusila baik yang tak sejenis hetero seksual, maupun yang sejenis homoseksual antara dokter dan pasien.

Dalam batas-batas tertentu, mayoritas ulama memperbolehakan berobat kepada lawan jenis jika sekiranya yang sejenis tidak ada, dengan syarat ditunggui oleh mahram atau orang yang sejenis. Alasannya, karena berobat hukumnya hanya sunnah dan bersikap pasrah (tawakkal) dinilai sebagai suatu keutamaan (fadlilah). Ulama sepakat bahawa pembolehan yang diharamkan dalam keadaan darurat, termasuk pembolehan melihat aurat orang lain,ada batasnya yang secara umum ditegaskan dalam al-qur’an ( Q.S Al-baqarah : 173; Al-an’am :145 ;An-nahl : 115) dengan menjauhi kezaliman dan lewat batas.

Dalam pengobatan, kebolehan hanya pada bagian tubuh yang sangat diperlukan, karena itu, bagian tubuh yang lain yang tidak terkait langsung tetap berlaku ketentuan umum tidak boleh melihatnya. Namun, untuk meminimalisir batasan darurat dalam pemeriksaan oleh lawan jenis sebagai upaya sadd al-Dzari’at (menutup jalan untuk terlaksananya kejahatan), disarankan disertai mahram dan prioritas diobati oleh yang sejenis.

Pembolehan dan batasan kebolehanya dalam keadaan darurat juga banyak disampaikan oleh tokoh madzhab. Ahmad ibn Hanbal, tokoh utama mazhab hanbali menyatakan boleh bagi dokter/ tabib laki-laki melihat aurat pasien lain jenis yang bukan mahram khusus pada bagian tubuh yang menuntut untuk itu termasuk aurat vitalnya, demikian pula sebaliknya, dokter wanita boleh melihat aurat pasien laki-laki yang bukan mahramnya dengan alasan tuntutan.

Di Indonesia, dalam fatwa MPKS disebutkan, tidak dilarang melihat aurat perempuan sakit oleh seorang dokter laki-laki untuk keperluan memeriksa dan mengobati penyakitnya. Seluruh tubuhnya boleh diperiksa oleh dokter laki-laki, bahkan hingga genetalianya, tetapi jika pemeriksaan dan pengobatan itu telah mengenai genitalian dan sekiatarnya maka perlu ditemani oleh seorang anggota keluarga laki-laki yang terdekat atau suaminya. Jadi, kebolehan berobat kepada lain jenis dopersyaratkan jika yang sejenis tidak ada. Dalam hal demikian, dianjurakan bagi pasien untuk menutup bagian tubuh yang tidak diobati. Demikian pula dokter atau yang sejenisnya harus membatasi diri tidak melihat organ pasien yang tidak berkaitan langsung.







































DAFTAR PUSTAKA


Sjamsuhidajat R., (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta

Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta.