Minggu, 08 April 2012

Apendicsitis



NYERI PERUT KANAN BAWAH


            Seorang laki-laki, 22 tahun, dating berobat ke poliklinik Bedah RS YARSI dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1 hari yang lalu. Keluhan juga disertai badan panas, mual dan muntah. Sebelumnya, 3 hari yang lalu penderita mengeluh nyeri di ulu hati lalu nyerinya turun ke perut kanan bawah dan menetap.
Pemeriksaan fisik:
  • Keadaan umum : baik, kesadaran komposmentis.
  • Tanda vital: TD 100/70 mmHg, frekuensi nadi 124 kali/menit, suhu 38°C
  • Status local daerah abdomen :
-           Inspeksi           : datar
-           Palpasi             : ada nyeri tekan perut kanan bawah di titik Mc Burney
-           Perkusi            : timpani
-           Auskultasi       : bising usus (+) normal
Pemeriksaan penunjang :
  • Hb 13 gr/dl,leukosit 10.500/ul
  • Appendikogram: non filling appendiks
Dari pemeriksaan diatas, dokter mendiagnosis penyakitnya adalah Apendisitis akut dan dianjurkan dirawat untuk dioperasi. PIhak pasien dan keluarga setuju dilakukan operasi karena tidak bertentangan dengan ajaran islam.





























LANGKAH 1

TIU 1 Menjelaskan dan memahami Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Appendix
1.1              Menjelaskan Anatomi Makroskopik Appendix
1.2              Menjelaskan Anatomi Miskroskopik Appendix

TIU 2 Menjelaskan dan memahami Fisiologi appendix

TIU 3 Menjelaskan dan memahami appendicitis
3.1       Definisi dan etiologi
3.2       Klasifikasi
3.3       Patofisiologi
3.4       Manifestasi klinis
3.5       Pemeriksaan
3.6       Diagnosis Banding
3.7       Komplikasi

TIU 4 Menjelaskan dan memahami penatalaksanaan appendicitis
4.1       Terapi dan prognosis
4.2       Pencegahan

TIU 5 Hukum operasi (bedah) dalam islam



























TIU I Menjelaskan Anatomi Appendix

TIK 1 Makroskopik

Appendix terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Appendix vermiformis berukuran sekitar 8-13 cm. Appendix vermiformis diliputi seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada pada lapisan bawah mesentrium intestinum tenue melalui mesentriumnya sendiri yang pendek, mesoappendix. Berisi arteria, vena appendicularis, dan saraf-saraf.
            Appendix vermiformis terletak di regio iliaca dextra dan pangkal diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca anterior superior dan umbilicus (titik Mcburney).
Posisi ujung appendix vermiformis yang umum
Ujung appendix vermiformis mudah bergerak dan mungki ditemukan pada tempat-tempat berikut ini :
  • Tergantung ke bawah ke dalam pelvis berhadapan dengan dinding pelvis dekstra
  • Melengkung di belakang caecum
  • Menonjol ke atas sepanjang pinggir lateral caecum
  • Di depan atau di belakang pars terminalis ileum
Tipe appendix vermiformis
  • Pada orang mati, appendix vermiformis dapat ditemukan dalam beberapa tipe, antara lain :
-Retrocaecalis              : 63%
-Pelvis                         : 33%
-Subcaecalis                : 2%
-Pre-ileal                      : 1%
-Post-ileal                    : 1%
  • Pada orang hidup dapat ditemukan semua tipe karena caecum selalu berkontraksi sehingga ujung appendix vermiformis berubah-ubah, sedangkan pada orang mati tetap. Appendix vermiformis pada orang hidup dapat ditemukan dua tipe, antara lain :
-Mobile type, bias berubah-ubah dan dapat ditemukan pada semua tipe.
-Fixed type, tetap dapat ditemukan bila ujung appendix pada peritoneum dan tipe retrocaecal.
Vaskularisasi appendix vermiformis
Arteri appendicularis merupakan cabang arteria caecalis posterior. Arteria ini berjalan menuju ujung appendix vermiformis di dalam mesoappendix. Vena appendicularis mengalirkan darahnya ke vena caecalis posterior.
Persarafan appendix vermiformis
Saraf-saraf berasal dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari plexus mesentricus superior.

TIK 2 Mikroskopik
            Lumen berbentuk segitiga. Tunica mukosa dengan epitel selapis torak yang banyak sekali sel goblet. Tidak ada villus intestinal, hanya ada criptus lieberkuhn. Ciri khas, nodulus limphaticus mengelilingi dindingnya. Tunica muscularis mukosa masih dapat dijumpai. Tunika submukosa tanpa kelenjar, banyak dipenuhi infiltrasi limfosit dari lamina propia. Lapisan terluar apendiks adalah serosa.


TIU 2 Fisiologi Appendiks
Menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir ini normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.  Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali daripada jumlahnya di seluruh saluran cerna dan di seluruh tubuh

TIU 3 Appendisitis
3.1 Definisi dan etiologi
Apendisitis adalah peradangan pada apendix vermiformis (Pierce dan Neil, 2007). Apendisitis merupakan kasus laporotomi tersering pada anak dan juga pada orang dewasa (Ahmadsyah dan Kartono, 1995). Hampir 7% orang barat mengalami apendisitis dan sekitar 200.000 apendiktomi dilakukan di Amerika Serikat tiap tahunnya. Insidens semakin menurun pada 25 tahun terakhir, namun di negara berkembang justru semakin meningkat, kemungkinan disebabkan perubahan ekonomi dan gaya hidup (Lawrence, 2006).
Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens laki-laki lebih tinggi, sedangkan pada bayi dan anak sampai berumur 1-2 tahun jarang ditemukan (Syamsuhidajat, 1997).
Diagnosis harus ditegakkan dini dan tindakan harus segera dilakukam, keterlambatan penanganan menyebabkan penyulit perforasi dan berbagai akibatnya (Ahmadsyah dan Kartono, 1995).
Etiologi
Penyebabnya hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas (tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus, hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, benda asing dalam tubuh, cancer primer, dan lain-lain (Subanada, dkk, 2007, Price dan Wilson, 2006).
Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.
Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asin, Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.
Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang terdapat didalam usus besar lalu memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu.




Klasifikasi Apendisitis
1.      Apendisitis akut, dibagi atas:
a.       Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul struktur lokal.
b.      Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah (apendisitis akut dengan komplikasi/perforasi).
2.      Apendisitis kronis, dibagi atas:
a.       Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul struktur lokal.
b.      Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring. Biasanya ditemukan pada usia tua.
3.3 Patogenesis
1.
Lingkungan     makan rendah serat     fekalit    peningkatan tekanan intralumen sekum
 

                                                                               Cairan (mukus) appendiks tertahan
 

peradangan      Flora normal ke mukosa          distensi lumen appendix         obstruksi
 

inflamasi          pus ke lumen appendiks          tekanan intralumen appendiks meningkat
 

Flora normal anaerob B.Fragilis          hipoksia           edema              obstruksi arterial
 

Tekanan bertambah

2.
Obstruksi lumen (fekalit, tumor, dan lain-lain)
 

Mukus yang diproduksi mukosa akan mengalami bendungan
 

Peningkatan tekanan intra lumen/ dinding apendiks
 

Aliran darah berkurang
 

Edema dan ulserasi mukosa                Apendiksitis akut fokal
 

Terputusnya aliran darah                            Nyeri epigastrium
 

Obstruksi vena, edema bertambah
dan bakteri menembus dinding
 

Peradangan peritonium                                   Apendiksitis supuratif acut
 

Aliran arteri terganggu                                    Nyeri didaerah kanan bawah
 

Infark dinding apendiks
 

Ganggren                                                        Apendiksitis ganggrenosa
 

Dinding apendiks rapuh

Infiltrat                                                                                    perforasi                                 
Infiltrat apendikularis                                                 apendiksitis perforasi


Menjelaskan patofisiologi sindroma dispepsia .
ü  Sekresi asam lambung .
Peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak diperut .
ü  Helicobacter pylori (Hp)
Peran infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional belum dapat diterima,karena Helicobacter pylori pada dipepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda makna dengan angka kekerapan Hp pada orang sehat.
ü  Dismotilitas gastrointestinal.
Perlambatan pengosongan lambung adanya hipomotilitas antrum.
ü  Ambang rangsang persepsi.
Hipersensitivitas viseral terhadap distensi balon digaster dan duodenum.
ü  Disfungsi otonom.
Disfungsi persyarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas gastrointestinal pada kasus dispepsia fungsional.Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proximal lambung waktu menerima makanan,sehingga menimbulkan gangguan akomondasi lambung dan rasa cepat kenyang.
ü  Hormonal
Adanya penurunan kadar hormon motilin yang menyebabkan gangguan motilitas antaroduodenal.Dalam beberapa percobaan progesteron,estradiol,dan prolaktin mempengaruhi kontraktilitas otot polos dan memperlambat waktu transit gastrointestinal.


Memahami patogenesis sindroma dispepsia

ü  Helobacter pylori tumbuh pada ph 6.0-7.0 dan mati pada pH lambung.Mukus lambung relatif tidak tembus asam dan mempunyai kapasitas buffer yang kuat.Pada epitel pHnya sekitar 7,4 .Helobacter pylori menghasilkan protease yang memodifikasi mukus lambung dan mengurangi kemampuan asam untuk berdifusi melalui mukus. H.pylori mampu menembus kepermukaan sel epitel lambung ,tapi tidak pada epitel usus.Menelan H.pylori dapat menyebabkan gatritis dan hipoklorhida,juga ulkus duodenum.Toksin dan lipopolisakarida H.pylori dapat merusak sel mukosa,dan amonia yang dihasilkan dari aktivitas urease dapat langsng merusak sel.


3.4 Manifestasi klinis
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain:
1. Nyeri abdominal.
Nyeri ini merupakan gejala klasik appendicitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc. Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritoneum biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,7°-38,3° C.
Gejala appendicitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis appendicitis diketahui setelah terjadi perforasi.

TIK 3.5 Pemeriksaan
Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendiculer.
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu:
- Nyeri tekan di Mc. Burney.
- Nyeri lepas.
- Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal.
Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang.
3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata.
Pemeriksaan Colok Dubur
Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
Tanda-Tanda Khusus
1. Psoas Sign
Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di abdomen kanan bawah.
2. Rovsing Sign
Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan bawah
3. Obturator Sign
Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan bawah

 Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
- Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendicitis.
2. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak
3. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya
4. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
5. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
6. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix.
3.6 Diagnosis Banding
-Gastroenteritis
-Demam dengue
-Limfadenitis mesentrika
-Kelainan ovulasi
-Infeksi panggul
-Kehamilan
-Kista ovum terpuntir
-Endometriosis eksterna
-Urolitiasis pielum/ureter kanan

3.7 Komplikasi
Acute appendicitis dengan komplikas
      Merupakan appendicitis yang berbahaya, karena appendix menjadi lingkaran tertutup yang berisi “fecal material”, yang telah mengalami dekomposisi. Perbahan setelah terjadinya sumbatan lumen appendix tergantung daripada isi sumbatan. Bila lumen appendix kosong, appendix hanya mengalami distensi yang berisi cairan mucus dan terbentuklah mucocele. Sedangkan bakteria penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa aerob (gram + dan atau gram – ) dan anaerob Pada saat appendix mengalami obstruksi, terjadi penumpukan sekresi mucus, yang akan mengakibatkan proliferasi bakteri, sehingga terjadi penekanan pada moukosa appendix, dikuti dengan masuknya bakteri ke dalam jaringan yang lebih dalam lagi. Sehingga timbulah proses inflamasi dinding appendix, yang diikuti dengan proses trombosis pembuluh darah setempat. Karena arteri appendix merupakan end arteri sehingga menyebabkan daerah distal kekurangan darah, terbentuklah gangrene yang segera diikuti dengan proses nekrosis dinding appendix. Dikesempatan lain bakteri mengadakan multiplikasi dan invesi melalui erosi mukosa, karena tekanan isi lumen, yang berakibat perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis. Proses obstruksi appendix ini merupakan kasus terbanyak untuk appendicitis. Dua per tiga kasus gangrene appendix, fecalith selalu didapatkan Bila kondisi penderita baik, maka perforasi tersebut akan dikompensir dengan proses pembentukan dinding oleh karingan sekitar, misal omentum dan jaringan viscera lain, terjadilah infiltrat atau (mass), atau proses pultulasi yang mengakibatkan abses periappendix .

TIU 4 Penatalaksanaan
a. Appendiktomi
1. Cito akut, abses & perforasi
2. Elektif kronik
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi apendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada apendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah.
b. Konservatif kemudian operasi elektif (Infiltrat)
1. Bed rest total posisi Fowler (anti Trandelenburg)
2. Diet rendah serat
3. Antibiotika spektrum luas
4. Metronidazol
5.Monitor : Infiltrat, tanda-tanda peritonitis (perforasi), suhu tiap 6 jam, LED,
  bila baik    mobilisasi     pulang
Penderita anak perlu cairan intravena untuk mengoreksi dehidrasi ringan. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung dan untuk mengurangi bahaya muntah pada waktu induksi anestesi. Pada apendisitis akut dengan komplikasi berupa peritonitis karena perforasi menuntut tindakan yang lebih intensif, karena biasanya keadaan anak sudah sakit berat. Timbul dehidrasi yang terjadi karena muntah, sekuestrasi cairan dalam rongga abdomen dan febris. Anak memerlukan perawatan intensif sekurang-kurangnya 4-6 jam sebelum dilakukan pembedahan. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah. Kalau anak dalam keadaan syok hipovolemik maka diberikan cairan ringer laktat 20 ml/kgBB dalam larutan glukosa 5% secara intravena, kemudian diikuti dengan pemberian plasma atau darah sesuai indikasi. Setelah pemberian cairan intravena sebaiknya dievaluasi kembali kebutuhan dan kekurangan cairan. Sebelum pembedahan, anak harus memiliki urin output sebanyak 1 ml/kgBB/jam. Untuk menurunkan demam diberikan acetaminophen suppositoria (60mg/tahun umur). Jika suhu di atas 380C pada saat masuk rumah sakit, kompres alkohol dan sedasi diindikasikan untuk mengontrol demam.
Antibiotika sebelum pembedahan diberikan pada semua anak dengan apendisitis, antibiotika profilaksis mengurangi insidensi komplikasi infeksi apendisitis. Pemberian antibiotika dihentikan setelah 24 jam selesai pembedahan. Antibiotika berspektrum luas diberikan secepatnya sebelum ada biakan kuman. Pemberian antibiotika untuk infeksi anaerob sangat berguna untuk kasus-kasus perforasi apendisitis . Antibiotika diberikan selama 5 hari setelah pembedahan atau melihat kondisi klinis penderita. Kombinasi antibiotika yang efektif melawan bakteri aerob dan anaerob spektrum luas diberikan sebelum dan sesudah pembedahan. Kombinasi ampisilin (100mg/kg), gentamisin (7,5mg/kg) dan klindamisin (40mg/kg) dalam dosis terbagi selama 24 jam cukup efektif untuk mengontrol sepsis dan menghilangkan komplikasi apendisitis perforasi. Metronidasol aktif terhadap bakteri gram negatif dan didistribusikan dengan baik ke cairan tubuh dan jaringan. Obat ini lebih murah dan dapat dijadikan pengganti klindamisin.
Teknik Operasi
1. Penderita posisi terlentang →  dilakukan desinfeksi seluruh abdomen dan dada bagian bawah → dipersempit dengan doek steril.
2. Insisi dengan arah oblik melalui titik Mc Burney tegak lurus antara SIAS dan umbilikus (Irisan Gridiron), irisan lain yang dapat dilakukan adalah insisi tranversal dan paramedian.
3. Irisan diperdalam dengan memotong lemak dan mencapai aponeurosis MOE (Muskulus Oblikus Eksternus).
4. MOE dibuka sedikit dengan skalpel searah dengan seratnya, kemudian diperlebar ke lateral dan ke medial dengan pertolongan pinset anatomi. Pengait luka tumpul dipasang di bawah MOE, tampak di bawah MOE  adalah MOI (Muskulus Oblikus Internus).
5. MOI dibuka secara tumpul dengan gunting atau klem arteri searah dengan seratnya  sampai tampak lemak peritoneum, dengan haak LangenBack otot dipisahkan. Pengait dipasang dibawah muskulus tranversus abdominis.
6. Peritoneum yang berwarna putih dipegang dengan menggunakan 2 pinset bedah dan dibuka    dengan gunting, perhatikan apa yang keluar: pus, udara, atau cairan lain (darah, feses dll) → periksa kultur dan tes kepekaan kuman dari cairan yang keluar tsb. Kemudian pengait luka diletakkan di bawah peritoneum
7. Sekum (yang berwarna lebih putih, memiliki taenia koli dan haustra) dicari dan diluksir.  Apendiks yang basisnya terletak pada pertemuan tiga taenia mempunyai bermacam2 posisi: antesekal, retrosekal, anteileal, retroileal, dan pelvinal
8.   Setelah ditemukan, sekum dipegang  dengan darm pinset dan  ditarik keluar, dengan kassa basah sekum dikeluarkan kearah mediokaudal, sekum yang telah keluar dipegang oleh asisten dengan dengan ibu jari berada di atas.
9.  Mesenterium dengan ujung apendiks di pegang dengan klem Kocher kemudian mesoapendiks diklem  potong dan diligasi berturut-turut sampai pada basis apendiks dengan silk 3/0.
10. Pangkal apendiks di crush dengan klem kocher dan pada bekas crush tersebut diikat dengan silk No. 00 – 2 ikatan.
11.  Dibagian distal dari ikatan  diklem dengan Kocher dan diantara klem kocher dan ikatan tersebut  apendiks dipotong dengan pisau yang telah diolesi betadine, ujung sisa apendiks digosok betadine.
12. Sekum dimasukkan ke dalam rongga perut.
13.  Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. Pada kasus perforasi, dapat dipasang drain sub facial.

Pencegahan
            Pola hidup sehat, dengan makan makanan yang cukup serat.

TIU 5 Hukum operasi (bedah) dalam islam
Operasi medis
Terkadang seorang muslim diuji oleh Allah dengan suatu penyakit, dia ingin sembuh
dari penyakit tersebut, dia mengetahui bahwa berobat dianjurkan, akan tetapi penyakit di
mana dia diuji oleh Allah dengannya, jalan menuju kepada kesembuhannya menurut para
dokter adalah operasi. Pertanyaannya bagaimana pandangan syariat terhadap operasi
medis yang umumnya adalah tindakan pembedahan?
Dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah menetapkan dibolehkannya operasi medis
dengan syarat-syaratnya, dan bahwa tidak ada dosa atas seorang muslim melakukannya
untuk meraih kesembuhan dari penyakit yang Allah ujikan kepadanya dengan izin Allah.
Adapun dalil-dalil tersebut maka ia sebagai berikut:
Firman Allah, “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka
seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al-Maidah: 32).
Dalam ayat ini Allah memuji orang yang berusaha menghidupkan dan menyelamatkan
jiwa dari kematian dan sudah dimaklumi bahwa dalam banyak kasus operasi medis menjadi
sebab terselamatkannya jiwa dari kematian yang hampir dipastikan.
Tidak sedikit penyakit di mana kesembuhannya tergantung setelah Allah kepada
operasi medis, tanpa operasi penyakit penderita akan memburuk dan membahayakannya,
jika tim medis melakukannya dan penderita sembuh dengan izin Allah berarti mereka telah
menyelamatkannya. Tanpa ragu ini termasuk perbuatan yang dipuji oleh ayat di atas.
Adapun dari sunnah maka ada beberapa hadits yang bisa dijadikan pijakan dalam
menetapkan dibolehkannya operasi medis, di antaranya:
1. Hadits hijamah (berbekam)
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw berbekam di kepalanya. (HR. Al-Bukhari).
Dari Jabir bahwa dia menjenguk orang sakit. Dia berkata, “Aku tidak meninggalkan
tempat ini sebelum kamu berbekam karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
‘Padanya terdapat kesembuhan”. (HR. Al-Bukhari).
Hadits tersebut menetapkannya disyariatkannya hijamah dan sudah dimaklumi bahwa
hijamah dilakukan dengan membedah atau menyayat tempat tertentu pada tubuh untuk
menyedot darah kotor dan membuangnya. Jadi disyariatkannya hijamah merupakan dasar
dibolehkannya membedah tubuh untuk membuang penyakit atau penyebab penyakit.
2. Hadits Jabir bin Abdullah
Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah SAW mengirim seorang tabib kepada Ubay bin
Kaab maka tabib tersebut memotong pembuluh darahnya dan menempelnya dengan besi
panas”. (HR. Muslim).
Dalam hadits ini Nabi SAW menyetujui apa yang dilakukan oleh tabib tersebut
terhadap Ubay bin Kaab, dan apa yang dilakukan oleh tabib tersebut adalah salah satu
bentuk operasi medis yaitu pemotongan terhadap anggota tertentu.
Kemudian dari sisi pertimbangan kebutuhan penderita kepada operasi yang tidak
lepas dari dua kemungkinan yaitu menyelamatkan hidup dan menjaga kesehatan,
pertimbangan yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai tingkat dharurat maka tidak ada
alasan yang rajih menolak operasi medis.
Syariat Islam tidak melarang operasi medis secara mutlak dan tidak membolehkan
secara mutlak, syariat meletakkan larangan pada tempatnya dan pembolehan pada
tempatnya, masing-masing diberi hak dan kadarnya.
Jika operasi medis memenuhi syarat-syarat yang diletakkan syariat maka dibolehkan
karena dalam kondisi ini target yang diharapkan yaitu kesembuhan dengan izin Allah bisa
diwujudkan, sebaliknya jika tim medis berpandangan bahwa operasi tidak bermanfaat, tidak mewujudkan sasarannya atau justru menambah penderitaan penderita maka dalam kondisi
ini syariat melarangnya.
Inilah syarat-syarat dibolehkannya operasi medis yang diletakkan oleh fuqaha Islam
dalam buku-buku mereka, syarat-syarat ini diambil dari dasar-dasar kaidah syariat.
1) Hendaknya operasi medis disyariatkan.
2) Hendaknya penderita membutuhkannya.
3) Hendaknya penderita mengizinkan.
4) Hendaknya tim medis menguasai.
5) Hendaknya peluang keberhasilan lebih besar.
6) Hendaknya tidak ada cara lain yang lebih minim mudharatnya.
7) Hendaknya operasi medis berakibat baik.
8) Hendaknya operasi tidak berakibat lebih buruk daripada penyakit penderita.

































DAFTAR PUSTAKA


Gartner , Leslie P.&James L.Hiatt.2007 . Color Atlas of histology. Fourth Edition.Baltimore , Maryland:Lippincott Williams&Wilkins
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20. Jakarta: EGC

L., Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi 2. Jakarta: EGC

Leeson, Thomas S. & Anthony A. Paparo. 1996. Buku Ajar Histologi. Jakarta: EGC

Putz, Reinhard dan Pabst, Reinhard. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. 2006. EGC: Jakarta

Idrus,Alwi dkk.2006 .Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 Edisi 1V. Jakarta:pusat Penerbitan IPD FKUI

Price,Sylvia A. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2 Edisi 6. Jakarta:EGC

Snell,Richard S.2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta:EGC
Sumber : Menghindari Perilaku Tabzir oleh Didin Hafidhuddin -
Republika, Januari 2003

http://www.dispepsia_peduligizi.htm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar