NYERI
PERUT KANAN BAWAH
Seorang
laki-laki, 22 tahun, dating berobat ke poliklinik Bedah RS YARSI dengan keluhan
nyeri perut kanan bawah sejak 1 hari yang lalu. Keluhan juga disertai badan
panas, mual dan muntah. Sebelumnya, 3 hari yang lalu penderita mengeluh nyeri
di ulu hati lalu nyerinya turun ke perut kanan bawah dan menetap.
Pemeriksaan fisik:
- Keadaan umum :
baik, kesadaran komposmentis.
- Tanda vital: TD
100/70 mmHg, frekuensi nadi 124 kali/menit, suhu 38°C
- Status local
daerah abdomen :
- Inspeksi : datar
- Palpasi : ada nyeri tekan perut kanan bawah di titik Mc Burney
- Perkusi : timpani
- Auskultasi : bising usus (+) normal
Pemeriksaan penunjang :
- Hb 13
gr/dl,leukosit 10.500/ul
- Appendikogram:
non filling appendiks
Dari pemeriksaan diatas, dokter
mendiagnosis penyakitnya adalah Apendisitis akut dan dianjurkan dirawat untuk
dioperasi. PIhak pasien dan keluarga setuju dilakukan operasi karena tidak
bertentangan dengan ajaran islam.
LANGKAH
1
TIU 1
Menjelaskan dan memahami Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Appendix
1.1
Menjelaskan
Anatomi Makroskopik Appendix
1.2
Menjelaskan
Anatomi Miskroskopik Appendix
TIU 2
Menjelaskan dan memahami Fisiologi appendix
TIU 3
Menjelaskan dan memahami appendicitis
3.1 Definisi dan etiologi
3.2 Klasifikasi
3.3 Patofisiologi
3.4 Manifestasi klinis
3.5 Pemeriksaan
3.6 Diagnosis Banding
3.7 Komplikasi
TIU 4
Menjelaskan dan memahami penatalaksanaan appendicitis
4.1 Terapi dan prognosis
4.2 Pencegahan
TIU 5
Hukum operasi (bedah) dalam islam
TIU I
Menjelaskan Anatomi Appendix
TIK 1 Makroskopik
Appendix
terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Appendix
vermiformis berukuran sekitar 8-13 cm. Appendix vermiformis diliputi seluruhnya
oleh peritoneum, yang melekat pada pada lapisan bawah mesentrium intestinum
tenue melalui mesentriumnya sendiri yang pendek, mesoappendix. Berisi arteria,
vena appendicularis, dan saraf-saraf.
Appendix vermiformis terletak di
regio iliaca dextra dan pangkal diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada
titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca anterior superior
dan umbilicus (titik Mcburney).


Posisi ujung appendix vermiformis yang umum
Ujung appendix vermiformis mudah bergerak dan mungki
ditemukan pada tempat-tempat berikut ini :
- Tergantung ke bawah ke dalam
pelvis berhadapan dengan dinding pelvis dekstra
- Melengkung di belakang caecum
- Menonjol
ke atas sepanjang pinggir lateral caecum
- Di
depan atau di belakang pars terminalis ileum

Tipe appendix
vermiformis
- Pada
orang mati, appendix vermiformis dapat ditemukan dalam beberapa tipe,
antara lain :
-Retrocaecalis : 63%
-Pelvis : 33%
-Subcaecalis : 2%
-Pre-ileal : 1%
-Post-ileal : 1%
- Pada
orang hidup dapat ditemukan semua tipe karena caecum selalu berkontraksi
sehingga ujung appendix vermiformis berubah-ubah, sedangkan pada orang
mati tetap. Appendix vermiformis pada orang hidup dapat ditemukan dua
tipe, antara lain :
-Mobile type, bias berubah-ubah
dan dapat ditemukan pada semua tipe.
-Fixed type, tetap dapat
ditemukan bila ujung appendix pada peritoneum dan tipe retrocaecal.

Vaskularisasi appendix
vermiformis
Arteri appendicularis
merupakan cabang arteria caecalis posterior. Arteria ini berjalan menuju ujung
appendix vermiformis di dalam mesoappendix. Vena appendicularis mengalirkan
darahnya ke vena caecalis posterior.

Persarafan appendix
vermiformis
Saraf-saraf berasal
dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari plexus
mesentricus superior.
TIK
2 Mikroskopik
Lumen berbentuk segitiga. Tunica
mukosa dengan epitel selapis torak yang banyak sekali sel goblet. Tidak ada
villus intestinal, hanya ada criptus lieberkuhn. Ciri khas, nodulus limphaticus
mengelilingi dindingnya. Tunica muscularis mukosa masih dapat dijumpai. Tunika
submukosa tanpa kelenjar, banyak dipenuhi infiltrasi limfosit dari lamina propia.
Lapisan terluar apendiks adalah serosa.

TIU
2 Fisiologi Appendiks
Menghasilkan
lendir 1-2 ml per hari. Lendir ini normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan
selanjutnya mengalir ke caecum.
Imunoglobulin
sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang
terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA.
Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali
daripada jumlahnya di seluruh saluran cerna dan di seluruh tubuh
TIU
3 Appendisitis
3.1 Definisi dan etiologi
Apendisitis adalah peradangan pada apendix vermiformis (Pierce dan Neil,
2007). Apendisitis merupakan kasus laporotomi tersering pada anak dan juga pada
orang dewasa (Ahmadsyah dan Kartono, 1995). Hampir 7% orang barat mengalami
apendisitis dan sekitar 200.000 apendiktomi dilakukan di Amerika Serikat tiap
tahunnya. Insidens semakin menurun pada 25 tahun terakhir, namun di negara
berkembang justru semakin meningkat, kemungkinan disebabkan perubahan ekonomi
dan gaya hidup (Lawrence, 2006).
Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding kecuali pada umur
20-30 tahun, insidens laki-laki lebih tinggi, sedangkan pada bayi dan anak
sampai berumur 1-2 tahun jarang ditemukan (Syamsuhidajat, 1997).
Diagnosis harus ditegakkan dini dan tindakan harus segera dilakukam,
keterlambatan penanganan menyebabkan penyulit perforasi dan berbagai akibatnya
(Ahmadsyah dan Kartono, 1995).
Etiologi
Penyebabnya
hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas
(tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing,
karsinoid, jaringan parut, mukus, hyperplasia (pembesaran) jaringan
limfoid, benda asing dalam tubuh, cancer primer, dan
lain-lain (Subanada, dkk, 2007, Price dan Wilson, 2006).
Diantara beberapa
faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai
penyabab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan
limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri
untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat
mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang
sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.
Makan
cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak
tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asin, Begitu
pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat
mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada
akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai
infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.
Seseorang
yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang terdapat didalam
usus besar lalu memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus
buntu.
Klasifikasi
Apendisitis
1.
Apendisitis akut, dibagi atas:
a. Apendisitis
akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul struktur lokal.
b. Appendisitis
purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah (apendisitis akut dengan
komplikasi/perforasi).
2.
Apendisitis kronis, dibagi atas:
a.
Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh
akan timbul struktur lokal.
b.
Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring.
Biasanya ditemukan pada usia tua.
3.3 Patogenesis
1.
Cairan (mukus) appendiks tertahan
Tekanan bertambah
2.
Obstruksi lumen (fekalit, tumor, dan lain-lain)
Mukus yang diproduksi mukosa akan mengalami
bendungan
Peningkatan tekanan intra lumen/ dinding apendiks
Aliran darah berkurang
Terputusnya aliran darah Nyeri epigastrium
Obstruksi vena, edema bertambah
dan bakteri menembus dinding
Infark dinding apendiks
Infiltrat apendikularis apendiksitis
perforasi
Menjelaskan
patofisiologi sindroma dispepsia .
ü Sekresi
asam lambung .
Peningkatan sensitivitas mukosa
lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak diperut .
ü Helicobacter pylori (Hp)
Peran infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional belum dapat
diterima,karena Helicobacter pylori
pada dipepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda makna dengan angka
kekerapan Hp pada orang sehat.
ü Dismotilitas
gastrointestinal.
Perlambatan pengosongan lambung
adanya hipomotilitas antrum.
ü Ambang
rangsang persepsi.
Hipersensitivitas viseral terhadap
distensi balon digaster dan duodenum.
ü Disfungsi
otonom.
Disfungsi persyarafan vagal diduga
berperan dalam hipersensitivitas gastrointestinal pada kasus dispepsia
fungsional.Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan
relaksasi bagian proximal lambung waktu menerima makanan,sehingga menimbulkan
gangguan akomondasi lambung dan rasa cepat kenyang.
ü Hormonal
Adanya penurunan kadar hormon
motilin yang menyebabkan gangguan motilitas antaroduodenal.Dalam beberapa
percobaan progesteron,estradiol,dan prolaktin mempengaruhi kontraktilitas otot
polos dan memperlambat waktu transit gastrointestinal.
Memahami
patogenesis sindroma dispepsia
ü Helobacter
pylori tumbuh pada ph 6.0-7.0 dan mati pada pH lambung.Mukus lambung relatif
tidak tembus asam dan mempunyai kapasitas buffer yang kuat.Pada epitel pHnya
sekitar 7,4 .Helobacter pylori menghasilkan protease yang memodifikasi mukus
lambung dan mengurangi kemampuan asam untuk berdifusi melalui mukus. H.pylori
mampu menembus kepermukaan sel epitel lambung ,tapi tidak pada epitel
usus.Menelan H.pylori dapat menyebabkan gatritis dan hipoklorhida,juga ulkus
duodenum.Toksin dan lipopolisakarida H.pylori dapat merusak sel mukosa,dan
amonia yang dihasilkan dari aktivitas urease dapat langsng merusak sel.
3.4 Manifestasi
klinis
Gambaran klinis yang sering
dikeluhkan oleh penderita, antara lain:
1. Nyeri abdominal.
Nyeri ini merupakan gejala klasik
appendicitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan
nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah beberapa
jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc. Burney).
Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri
somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritoneum biasanya penderita akan
mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase
awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada
anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada
komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya
berkisar 37,7°-38,3° C.
Gejala appendicitis akut pada
anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak
bisa melukiskan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering
diagnosis appendicitis diketahui setelah terjadi perforasi.

TIK 3.5 Pemeriksaan
Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu
penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada
inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa
dilihat pada massa atau abses appendiculer.
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik
Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu:
- Nyeri tekan di Mc. Burney.
- Nyeri lepas.
- Defans muscular lokal. Defans
muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal.
Pada appendix letak
retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang.
3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal.
Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata
akibat appendicitis perforata.
Pemeriksaan Colok Dubur
Akan didapatkan nyeri kuadran
kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas
sewaktu dilakukan colok dubur.
Tanda-Tanda Khusus
1. Psoas Sign
Dilakukan dengan rangsangan
m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai kanan lurus
ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di
abdomen kanan bawah.
2. Rovsing Sign
Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut
kanan bawah
3. Obturator Sign
Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang,
lalu dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+)
bila terasa nyeri di perut kanan bawah

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan
Laboratorium
- Pemeriksaan darah :
akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama
pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
- Pemeriksaan urin :
untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pemeriksaan
ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi
saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama
dengan appendicitis.
2. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya
fecalith sebagai penyebab appendicitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada
anak-anak

3. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik
meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila
dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis
banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya
4. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui
anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis
pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.

5. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat
menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
6. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan
dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini
dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan
ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung
dilakukan pengangkatan appendix.

3.6 Diagnosis
Banding
-Gastroenteritis
-Demam dengue
-Limfadenitis
mesentrika
-Kelainan ovulasi
-Infeksi panggul
-Kehamilan
-Kista ovum
terpuntir
-Endometriosis
eksterna
-Urolitiasis
pielum/ureter kanan
3.7 Komplikasi
Acute appendicitis
dengan komplikas
Merupakan appendicitis yang
berbahaya, karena appendix menjadi lingkaran tertutup yang berisi “fecal material”,
yang telah mengalami dekomposisi. Perbahan setelah terjadinya sumbatan lumen
appendix tergantung daripada isi sumbatan. Bila lumen appendix kosong, appendix
hanya mengalami distensi yang berisi cairan mucus dan terbentuklah mucocele.
Sedangkan bakteria penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa
aerob (gram + dan atau gram – ) dan anaerob Pada saat appendix mengalami
obstruksi, terjadi penumpukan sekresi mucus, yang akan mengakibatkan
proliferasi bakteri, sehingga terjadi penekanan pada moukosa appendix, dikuti
dengan masuknya bakteri ke dalam jaringan yang lebih dalam lagi. Sehingga
timbulah proses inflamasi dinding appendix, yang diikuti dengan proses
trombosis pembuluh darah setempat. Karena arteri appendix merupakan end arteri sehingga
menyebabkan daerah distal kekurangan darah, terbentuklah gangrene yang segera
diikuti dengan proses nekrosis dinding appendix. Dikesempatan lain bakteri
mengadakan multiplikasi dan invesi melalui erosi mukosa, karena tekanan isi
lumen, yang berakibat perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis. Proses
obstruksi appendix ini merupakan kasus terbanyak untuk appendicitis. Dua per
tiga kasus gangrene appendix, fecalith selalu didapatkan Bila kondisi penderita
baik, maka perforasi tersebut akan dikompensir dengan proses pembentukan
dinding oleh karingan sekitar, misal omentum dan jaringan viscera lain,
terjadilah infiltrat atau (mass), atau proses pultulasi yang mengakibatkan
abses periappendix .
TIU 4 Penatalaksanaan
a. Appendiktomi
1. Cito akut, abses & perforasi
2. Elektif kronik
Bila diagnosis klinis sudah jelas
maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya
pilihan yang terbaik. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat
mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi apendiks normal yang dilakukan
pembedahan sekitar 20%. Pada apendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak
masalah.
b. Konservatif
kemudian operasi elektif (Infiltrat)
1. Bed rest total posisi Fowler (anti Trandelenburg)
2. Diet rendah serat
3. Antibiotika spektrum luas
4. Metronidazol
5.Monitor : Infiltrat, tanda-tanda peritonitis (perforasi),
suhu tiap 6 jam, LED,
Penderita
anak perlu cairan intravena untuk mengoreksi dehidrasi ringan. Pipa nasogastrik
dipasang untuk mengosongkan lambung dan untuk mengurangi bahaya muntah pada
waktu induksi anestesi. Pada apendisitis akut dengan komplikasi berupa
peritonitis karena perforasi menuntut tindakan yang lebih intensif, karena
biasanya keadaan anak sudah sakit berat. Timbul dehidrasi yang terjadi karena
muntah, sekuestrasi cairan dalam rongga abdomen dan febris. Anak memerlukan
perawatan intensif sekurang-kurangnya 4-6 jam sebelum dilakukan pembedahan.
Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi
abdomen dan mencegah muntah. Kalau anak dalam keadaan syok hipovolemik maka
diberikan cairan ringer laktat 20 ml/kgBB dalam larutan glukosa 5% secara
intravena, kemudian diikuti dengan pemberian plasma atau darah sesuai indikasi.
Setelah pemberian cairan intravena sebaiknya dievaluasi kembali kebutuhan dan
kekurangan cairan. Sebelum pembedahan, anak harus memiliki urin output sebanyak
1 ml/kgBB/jam. Untuk menurunkan demam diberikan acetaminophen suppositoria
(60mg/tahun umur). Jika suhu di atas 380C pada saat masuk rumah sakit, kompres
alkohol dan sedasi diindikasikan untuk mengontrol demam.
Antibiotika sebelum pembedahan diberikan pada semua anak
dengan apendisitis, antibiotika profilaksis mengurangi insidensi komplikasi
infeksi apendisitis. Pemberian antibiotika dihentikan setelah 24 jam selesai
pembedahan. Antibiotika berspektrum luas diberikan secepatnya sebelum ada
biakan kuman. Pemberian antibiotika untuk infeksi anaerob sangat berguna untuk
kasus-kasus perforasi apendisitis . Antibiotika diberikan selama 5 hari setelah
pembedahan atau melihat kondisi klinis penderita. Kombinasi antibiotika yang
efektif melawan bakteri aerob dan anaerob spektrum luas diberikan sebelum dan
sesudah pembedahan. Kombinasi ampisilin (100mg/kg), gentamisin (7,5mg/kg) dan
klindamisin (40mg/kg) dalam dosis terbagi selama 24 jam cukup efektif untuk
mengontrol sepsis dan menghilangkan komplikasi apendisitis perforasi.
Metronidasol aktif terhadap bakteri gram negatif dan didistribusikan dengan
baik ke cairan tubuh dan jaringan. Obat ini lebih murah dan dapat dijadikan
pengganti klindamisin.
Teknik Operasi
1. Penderita posisi terlentang → dilakukan
desinfeksi seluruh abdomen dan dada bagian bawah → dipersempit dengan doek
steril.
2. Insisi dengan arah oblik melalui titik Mc
Burney tegak lurus antara SIAS dan umbilikus (Irisan Gridiron), irisan lain
yang dapat dilakukan adalah insisi tranversal dan paramedian.
3. Irisan diperdalam dengan memotong lemak dan
mencapai aponeurosis MOE (Muskulus Oblikus Eksternus).
4. MOE dibuka sedikit dengan skalpel searah
dengan seratnya, kemudian diperlebar ke lateral dan ke medial dengan
pertolongan pinset anatomi. Pengait luka tumpul dipasang di bawah MOE, tampak
di bawah MOE adalah MOI (Muskulus Oblikus Internus).
5. MOI dibuka secara tumpul dengan gunting atau
klem arteri searah dengan seratnya sampai tampak lemak peritoneum, dengan
haak LangenBack otot dipisahkan. Pengait dipasang dibawah muskulus tranversus
abdominis.
6. Peritoneum yang berwarna putih dipegang dengan
menggunakan 2 pinset bedah dan dibuka dengan gunting, perhatikan
apa yang keluar: pus, udara, atau cairan lain (darah, feses dll) → periksa
kultur dan tes kepekaan kuman dari cairan yang keluar tsb. Kemudian pengait
luka diletakkan di bawah peritoneum
7. Sekum (yang berwarna lebih putih, memiliki
taenia koli dan haustra) dicari dan diluksir. Apendiks yang basisnya
terletak pada pertemuan tiga taenia mempunyai bermacam2 posisi: antesekal,
retrosekal, anteileal, retroileal, dan pelvinal
8. Setelah ditemukan, sekum dipegang
dengan darm pinset dan ditarik keluar, dengan kassa basah sekum
dikeluarkan kearah mediokaudal, sekum yang telah keluar dipegang oleh asisten
dengan dengan ibu jari berada di atas.
9. Mesenterium dengan ujung apendiks di
pegang dengan klem Kocher kemudian mesoapendiks diklem potong dan
diligasi berturut-turut sampai pada basis apendiks dengan silk 3/0.
10. Pangkal apendiks di crush dengan klem kocher
dan pada bekas crush tersebut diikat dengan silk No. 00 – 2 ikatan.
11. Dibagian distal dari ikatan
diklem dengan Kocher dan diantara klem kocher dan ikatan tersebut
apendiks dipotong dengan pisau yang telah diolesi betadine, ujung sisa
apendiks digosok betadine.
12. Sekum dimasukkan ke dalam rongga perut.
13. Dinding abdomen ditutup lapis demi
lapis. Pada kasus perforasi, dapat dipasang drain sub facial.
Pencegahan
Pola hidup sehat, dengan
makan makanan yang cukup serat.
TIU
5 Hukum operasi (bedah) dalam islam
Operasi medis
Terkadang seorang muslim diuji oleh
Allah dengan suatu penyakit, dia ingin sembuh
dari penyakit tersebut, dia mengetahui
bahwa berobat dianjurkan, akan tetapi penyakit di
mana dia diuji oleh Allah dengannya,
jalan menuju kepada kesembuhannya menurut para
dokter adalah operasi. Pertanyaannya
bagaimana pandangan syariat terhadap operasi
medis yang umumnya adalah tindakan
pembedahan?
Dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah
menetapkan dibolehkannya operasi medis
dengan syarat-syaratnya, dan bahwa tidak
ada dosa atas seorang muslim melakukannya
untuk meraih kesembuhan dari penyakit
yang Allah ujikan kepadanya dengan izin Allah.
Adapun dalil-dalil tersebut maka ia
sebagai berikut:
Firman Allah, “Dan barangsiapa yang
memelihara kehidupan seorang manusia, maka
seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia semuanya.” (Al-Maidah: 32).
Dalam ayat ini Allah memuji orang yang
berusaha menghidupkan dan menyelamatkan
jiwa dari kematian dan sudah dimaklumi
bahwa dalam banyak kasus operasi medis menjadi
sebab terselamatkannya jiwa dari
kematian yang hampir dipastikan.
Tidak sedikit penyakit di mana
kesembuhannya tergantung setelah Allah kepada
operasi medis, tanpa operasi penyakit
penderita akan memburuk dan membahayakannya,
jika tim medis melakukannya dan
penderita sembuh dengan izin Allah berarti mereka telah
menyelamatkannya. Tanpa ragu ini
termasuk perbuatan yang dipuji oleh ayat di atas.
Adapun dari sunnah maka ada beberapa hadits
yang bisa dijadikan pijakan dalam
menetapkan dibolehkannya operasi medis,
di antaranya:
1. Hadits hijamah (berbekam)
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw berbekam
di kepalanya. (HR. Al-Bukhari).
Dari Jabir bahwa dia menjenguk orang
sakit. Dia berkata, “Aku tidak meninggalkan
tempat ini sebelum kamu berbekam karena
aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
‘Padanya terdapat kesembuhan”. (HR.
Al-Bukhari).
Hadits tersebut menetapkannya
disyariatkannya hijamah dan sudah dimaklumi bahwa
hijamah dilakukan dengan membedah atau
menyayat tempat tertentu pada tubuh untuk
menyedot darah kotor dan membuangnya.
Jadi disyariatkannya hijamah merupakan dasar
dibolehkannya membedah tubuh untuk
membuang penyakit atau penyebab penyakit.
2. Hadits Jabir bin Abdullah
Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah
SAW mengirim seorang tabib kepada Ubay bin
Kaab maka tabib tersebut memotong
pembuluh darahnya dan menempelnya dengan besi
panas”. (HR.
Muslim).
Dalam hadits ini Nabi SAW menyetujui apa
yang dilakukan oleh tabib tersebut
terhadap Ubay bin Kaab, dan apa yang
dilakukan oleh tabib tersebut adalah salah satu
bentuk operasi medis yaitu pemotongan
terhadap anggota tertentu.
Kemudian dari sisi pertimbangan
kebutuhan penderita kepada operasi yang tidak
lepas dari dua kemungkinan yaitu menyelamatkan
hidup dan menjaga kesehatan,
pertimbangan yang dalam kondisi tertentu
bisa mencapai tingkat dharurat maka tidak ada
alasan yang rajih menolak operasi medis.
Syariat Islam tidak melarang operasi
medis secara mutlak dan tidak membolehkan
secara mutlak, syariat meletakkan
larangan pada tempatnya dan pembolehan pada
tempatnya, masing-masing diberi hak dan
kadarnya.
Jika operasi medis memenuhi
syarat-syarat yang diletakkan syariat maka dibolehkan
karena dalam kondisi ini target yang
diharapkan yaitu kesembuhan dengan izin Allah bisa
diwujudkan, sebaliknya jika tim medis
berpandangan bahwa operasi tidak bermanfaat, tidak mewujudkan sasarannya atau
justru menambah penderitaan penderita maka dalam kondisi
ini syariat melarangnya.
Inilah syarat-syarat dibolehkannya
operasi medis yang diletakkan oleh fuqaha Islam
dalam buku-buku mereka, syarat-syarat
ini diambil dari dasar-dasar kaidah syariat.
1) Hendaknya operasi medis disyariatkan.
2) Hendaknya penderita membutuhkannya.
3) Hendaknya penderita mengizinkan.
4) Hendaknya tim medis menguasai.
5) Hendaknya peluang keberhasilan lebih
besar.
6) Hendaknya tidak ada cara lain yang
lebih minim mudharatnya.
7) Hendaknya operasi medis berakibat
baik.
8) Hendaknya operasi tidak berakibat
lebih buruk daripada penyakit penderita.
DAFTAR
PUSTAKA
Gartner , Leslie
P.&James L.Hiatt.2007 . Color Atlas
of histology. Fourth
Edition.Baltimore , Maryland:Lippincott Williams&Wilkins
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20.
Jakarta: EGC
L., Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi
2. Jakarta: EGC
Leeson, Thomas S. & Anthony
A. Paparo. 1996. Buku Ajar Histologi.
Jakarta: EGC
Putz, Reinhard dan Pabst,
Reinhard. Atlas Anatomi Manusia Sobotta.
2006. EGC: Jakarta
Idrus,Alwi dkk.2006 .Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 Edisi 1V.
Jakarta:pusat Penerbitan IPD FKUI
Price,Sylvia A. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2 Edisi 6.
Jakarta:EGC
Snell,Richard S.2006. Anatomi
Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta:EGC
Sumber : Menghindari Perilaku
Tabzir oleh Didin Hafidhuddin -
Republika, Januari 2003
Republika, Januari 2003
http://www.dispepsia_peduligizi.htm
http://www.tabdzir.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar