Selasa, 27 Maret 2012

Skenario Mata Merah (A9)

SKENARIO I
Mata Merah

Ahmad,37 tahu, seorang petani salak di Jogjakarta mengeluh mata kanannya merah sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan dirasakan semakin hebat dan muncul bercak-bercak putih di bagian kornea mata,gejala ini bermula setelah Ahmad panen salak dan terkena pucuk batang salak.
Pemeriksaan Oftalmoskopi :
VOD : 6/60 dengan pinhole tidak ada perbaikan VOS :6/6
Segmen anterior  COD :
Hiperemis (+)
Sekret (+)
Lakrimalis (+)
Fotopobia (+)
Ahmad sudah mencoba mengobati dengan obat warung tapi tidak ada perubahan.
Setelah mendapatkan terapi pasien diminta untuk kontrol rutin dan menjaga serta memelihara kesehatan mata sesuai tuntunan ajaran islam.

































Langkah 1

1.      Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis dan mikroskopis mata
1.1.   Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis mata
1.2.   Memahami dan menjelaskan anatomi mikroskopis mata
2.      Memahami dan menjelaskan fisiologi penglihatan
3.      Memahami dan menjelaskan media refrakter
4.      Memahami dan menjelaskan infeksi kornea
5.      Memahami dan menjelaskan fungsi mata dalam kehidupan sehari-hari









































Langkah 2
Mandiri
















































Langkah 3

LO I : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MAKRO DAN MIKRO MATA

2.1. Anatomi Mata
Gambar 2.1. Anatomi Mata
Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan media refraksi menyebabkan visus turun (baik mendadak aupun perlahan) (Marieb EN & Hoehn K, 2007).
Bagian berpigmen pada mata: uvea bagian iris, warna yang tampak tergantung pada pigmen melanin di lapisan anterior iris (banyak pigmen = coklat, sedikit pigmen = biru, tidak ada pigmen = merah / pada albino) (Marieb EN & Hoehn K, 2007).
2.2. Media Refraksi

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (H. Sidarta Ilyas, 2004).
2.2.1. Kornea

Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu:
1. Epitel
• Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
• Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.
• Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
• Epitel berasal dari ektoderm permukaan

2. Membran Bowman
• Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
• Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi 3. Stroma

• Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. 4. Membran Descement

• Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya
• Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 μm. 5. Endotel

• Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-40 μm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden

(H. Sidarta Ilyas, 2004).
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V. saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Boeman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi samapai kepada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan (H. Sidarta Ilyas, 2004). Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunya daya regenerasi (H. Sidarta Ilyas, 2004).

Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea (H. Sidarta Ilyas, 2004).

2.2.2. Aqueous Humor (Cairan Mata)

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah. Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai contoh, karena sumbatan pada saluran keluar), kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (“di dalam mata”). Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous humor, yang kemudian terdorong menekan lapisan saraf dalam retina. Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi (Lauralee Sherwood, 1996).
2.2.3. Lensa

Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi (H. Sidarta Ilyas, 2004).

Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar (H. Sidarta Ilyas, 2004).
Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:
• Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung
• Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan,
• Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan vitreous body dan berada di sumbu mata.

(H. Sidarta Ilyas, 2004).
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:
• Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia,
• Keruh atau apa yang disebut katarak,
• Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi

(H. Sidarta Ilyas, 2004).
Lensa orang dewasa dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah besar dan berat (H. Sidarta Ilyas, 2004).

2.2.4. Badan Vitreous (Badan Kaca)

Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat (Luiz Carlos Junqueira, 2003). Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi (H. Sidarta Ilyas, 2004).
Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis (Lauralee Sherwood, 1996).

2.2.5. Panjang Bola Mata

Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan. Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat terfokus pada mekula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmatisma (H. Sidarta Ilyas, 2004).














2.2 Histologi Mata
Tunica fibrosa
Cornea
         Membran transparan, avascular, meliputi 1/6 anterior bola mata
         Aspectus anterior :  Æ tinggi 11,5 mm, Æ lebar 10,5 mm agak berbentuk elips
         Aspectus posterior :  Æ tinngi = Æ lebar 11,5 mm bulat
         Tebal :  central 0,5mm periphere  0,7 mm

Lapisan cornea
Endotel cornea

Membrana descement

Substantia propria /stroma
Membrane bowman

Ephitel cornea






Epithel cornea
         Berlapis gepeng tanpa lap tanduk
         Tebal  ± 50 micron
         Bagian central t.d. 5 – 6 lap sel
         Bagian peripher t.d. 8 – 10 lap sel
         Lap basal t.d. sel silindris, terletak diatas m. basalis, sering memperlihatkan mitosis
         Diatas lap basal :  2 – 3 lapis sel polyhedral
         Di permukaan :  2 lapis sel gepeng 
                        
Membrana Bowman
         Terletak dibawah m. basalis
         Modifikasi bgn superfisial subs. propria
         Dgn MC :  homogen, dpt dibedakan dari subs. Propria
         Dgn ME :  t.d. microfibril-microfibril Æ 25 nm, terbenam dalam subs dasarglycosaminoglycans, tersusun irregular
          Ditembus saraf-saraf yang menuju epithel cornea
         Substantia propria/ Stroma cornea
         0,9 x keseluruhan tebal cornea
          Dgn MC :  t.d. lamel-lamel collagen // permukaan cornea.
         Diantara lamel tdp celah sempit berisi fibroblast yg terjepit (cytoplasma bercabang-cabang), disebut keratocyte, yg memproduksi collagen & subs dasar glycosaminoglycans
         Juga tdp lymphocyte & macrophage
          Dgn ME :  Lamel t.d. microfibril-microfibril collagen
         Membrana Descemet (membrana limitans posterior)
         Merupakan m. basalis endothel cornea
          Tebal 10 micron, bersifat elastis
          Dapat diwarnai dgn pewarna serat elastin
         tapi bukan elastin à collagen yang terbenam dalam subs. dasar homogen
          Waktu lahir :  tebal  3 – 4 micron
          Dewasa :  tebal  10 – 12 micron
Endothel Cornea
         Selapis sel gepeng, ketebalan 5 micron
          Penamaan salah sejak awal à bukan endothel
          Sel-sel saling dihubungkan dgn zonula occludens
         Mensekresikan protein & mensintesa beberapa komponen m. Descemet
         Persarafan cornea
         Berupa ujung-ujung saraf sensoris yang dipercabangkan terutama dari N. Ciliaris longus
         Nutrisi cornea
          Cornea avascular
          Difusi dari jar capilar di dalam limbus di sekeliling
          Difusi dari humor aqueus di camera oculi anterior
          Oxygen diperoleh dari udara luar & humor aqueus cornea






Sclera

Jar peny putih, opaque, meliputi 5/6 posterior bola mata, tertanam dalam orbita mel jar peny padat (capsula Tenon)
 Episclera
-          T.d. jar peny fibroelastic
-           Substantia propria
-          permukaan sclera, dipisah oleh subs. Dasar  tipis dgn sejumlah kecil fibroblast
-           Lamina fusca
-          - T.d. jar penyjarang, mengandung serat-serat elastis & melanocyte



Limbus
Daerah peralihan  antara cornea & sclera
Pada batas belakang tdp penonjolan disebut : Spur sclera
Dari luar ke dalam pada limbus terdapat
struktur :
 Conjunctiva bulbi
 Capsula Tenon
 Episclera
 Stroma limbus
 Canal Schlemm
 Jaringan trabecula

Canal Schlemm dan Jaringan Trabecula
 

Choroid

 


Microscopis terbagi 4 lapisan, dari luar ke dalam :
 Lamina suprachoroidea
 Substantia propria/ stroma
 Choriocapilaris
Lamina basalis
(membran Bruch)















Corpus cilliaris

         Lanjutan t. vascularis yang menebal ke arah anterior
         Dari ora serrata sp pangkal iris
         Lap = choroid tanpa choriocapillaris
         Berorigo zonula zinii
         Struktur utama : m. ciliaris t.d.
         3 berkas :  meridionalis, radialis & circularis, berfungsi untuk  akomodasi lensa mata
         Kontraksi à lensa mencembung
         Relaksasi à sebaliknya

Processus ciliaris
         Tonjolan jar peny ke arah lensa
          Dilapisi 2 lapis epithel berpigmen   
         Sel-sel permukaan mensekresi humor aqueus
         - Sel-sel lapisan dalam berbentuk columnar


Iris
          
         Bgn t. vascularis paling depan
          Bbtk piring bulat tipis, Æ 12 mm dg lubang (pupil) ditengahnya
         pangkal paling tipis 0,5 mm
          Terletak di anterior lensa
          Membatasi  COA & COP
          Fungsi :  spt diaphragma camera
          Warna biru à coklat tua
         (tergantung kandungan pigmen)













LO II : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI PENGLIHATAN
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Secara truktur anatomi mata dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:











Dari paling luar ke paling dalam, lappisan-lapisan itu adalah;
1.      Sclera/kornea
2.      Koroid/badan siliaris/iris; dan
3.      Retina
Sebagian besar bola mata dilapisi oleh sebuah lapisan jaringan ikat protektif yang kuat disebelah luar; sclera, yang membentuk bagian putih mata. Konea trnasparan tempat lewatnya berkas-berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah di bawah lapisan sclera adalah koroid yang ssangat berpigmen dan mengadung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan koroid di sebelah anterior mengalami spesialisasi untuk menmbentuk badan (korpus) siliaris dan iris. Lapisan paling dalam di bawah koroid adalah retina yang terdiri dari sebuah lapisan berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan jaringan saraf disebelah dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energy cahaya menjadi implus saraf. Seperti dinding hitam di studio foto, pigmen koroid dan retina menyerap cahaya setelah cahaya mengenai retina untuk mencegah pemantulan atau peghamburan cahaya dalam mata.
            Bagian dalam mata terdiri dari dua rongga yang berisi cairan yang dipisahkan oleh sebuah lensa yang semuanya jernih untuk memungkinkan cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina. Rongga anterior antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih, aqueous humor, dan rongga di posterior yang lebih besar antara lensa dan retina mengandung zat semi cair seperti gel yang disebut vitreous humor.
            Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yag sferis. Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor.
Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka-cahaya karena adanya iris, suatu otot polos berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin di dalam aqueous humor. Pigmen di iris menentukan warna mata. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masukya cahaya kebagian dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos, sirkuler dan radial. Karena serat-serat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil apabila otot sirkuler (kontstriktor) berkontraksi dan membentuk cincin yang lebih kecil. Refleks konstriksi pupil ini terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata. Apabila otot radialis (dilator) memendek, ukuran pupil meningkat. Dilatasi pupil itu terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk. Otot-otot iris dikontrol oleh saraf otonom. Sirkuler = parasimpatis, radial = simpatis.
Mata Membiaskan Cahaya Masuk Untuk Memfokuskan Bayangan Di Retina
Cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paket-paket individual energy seperti partikel ang disebut foton yang berjalan menurut cara-cara gelombang. Gelombang cahaya mengalami divergensi ke semua arah yang dari setiap titik sumber cahaya dan ketika mencapai mata harus dibelokkan kea rah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan akurat mengenai sumber cahaya.
Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lain, misalnya air dan kaca. Ketika berkas suatu cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku).
Dua factor berperan dalam derajat refraksi; densitas komparatif antara dua media (semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan).
Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkg berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap koinstan karena kelengkugan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan degan mengubah kelengkugannya sesuai keperluan untuk melihat dekat atau jauh yang biasa dikenal dengan istilah akomodasi. Akomodasi meningkatkan kekuatan lensa untuk penglihatan dekat.


















Cahaya harus melewati beberapa lapisan retina sebelum mencapai fotoreseptor. 10 lapisan retina dapat dilihat dalam gambar di bawah ini;







Fototransduksi oleh selretina mengubah rangsangan cahaya menjadi sinyal saraf. Fototransduksi yaitu mekanisme eksitasi, pada dasarnya sama untuk semua fotoreseptor. Ketika menyerap cahaya, molekul fotopigmen berdisosiasi menjadi komponen retinen dan opsin, dan bagia retinennya mengalami perubahan bentuk yang mencetuskna aktivitas enzimatik opsin. Melalui serangkaian reaksi, perubahan biokimiawi pada fotopigmen yag diinduksi oleh cahaya ini menimbulkan hiperpolarisasi potensial reseptor yang mempengaruhi pengeluaran zat perantara dari terminal sinaps fotoreseptor.

 


Keterangan gambar di atas; fototrasnduksi dan inisiasi potensial aksi di jalur penglihatan. A) kejadian-kejadian yang terjadi di fotoreseptor sebagai respons terhadap keadaan gelap yang mencegah tercetusnya potensial aksi di jalur penglihatan. B) kejadian-kejadian yang terjadi di fotoreseptor sebagai respons terhadap rangsangan cahaya yang menimbulkan potensial aksi di jalur penglihatan (fototransduksi).

Jaras visual dan lapang pandang mat
a
LO III : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MEDIA REFRAKTER
Refraksi ialah tindakan atau proses membiaskan. Media refrakta terdiri atas : kornea, lensa, dan badan kaca. Kornea merupakan tonjolan jernih di mata depan dan elemen pemfokus yang terfiksasi. Kornea memfokuskan bayangan dengan membiaskan atau membelokkan berkas cahaya. Apabila kornea terlalu melengkung maka mata akan berpenglihatan dekat, dan apabila kelengkungan kornea kurang yang akan terjadi adalah mata akan berpenglihatan jauh.
     Lensa memiliki pembungkus yang lentur dan ditopang di bawah tegangan oleh serat – serat penunjang. Saat otot mata berfungsi memfokuskan bayangan berelaksasi, tegangan ini menjaga agar lensa tetap gepeng dan berada pada dayanya yang paling rendah, dan mata berfokus pada benda jauh. Titik ketika benda jauh terfokuskan saat otot- otot yang memfokuskan berelaksasi disebut titik jauh. Lensa berubah menjadi bentuk yang lebih bulat, terutama karena bagian depan menjadi lebih lengkung, daya pemfokusan lensa kemudian menjadi lebih besar, benda yang terletak dekat dengan mata di bawa ke focus di retina. Titik terdekat ketika benda masih dapat difokuskan saat lensa berada dalam keadaan paling tebal.
     Aqueous humor mengisi ruang antara lensa dan kornea. Cairan ini terdiri dari air, diproduksi terus-menerus, dan jumlah cairan yang berlebih keluar melalui canalis schlemm. Aqueous humor mengandung banyak komponen darah dan menyalurkan zat gizi ke lensa dan kornea yang tidak berpembuluh darah. Aqueous humor berfungsi untuk mempertahankan tekanan internal mata.

Media refraksi adalah media transparan yang harus dilalui oleh cahaya yang akan disampaikan ke retina.Komponen – komponen nya yaitu :
·         Konea,
·          Humor akueus,
·         Lensa Badan vitreus

Kornea
·         Kornea mempunyai 5 lapisan Epitel kornea epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk ,
·         Membranan bowman lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi
·         Stroma terdiri atas lamel dan keratosit 
·         Membrane descementmembran aselular, sangat elastic dan berkembang terussepanjang umur
·          Endotel kornea  berasal dari mesotelium, berlapis 1 dan heksagonal.

Humor aquous
Humor aquous merupakan cairan encer yang di produksi oleh epitel siliar. Cairan humor aquous mengandung materi yang dapat berdifusi dari plasma darah dan mengandung protein rendah

Lensa
Bikonveks, permukaan posterior lebih lengkung dari anterior, bersifat 
elastic. Lensamempunya 3 komponen, yaitu :
·         Kapsul lensa bersifat homogeny membrane yang tidak berbentuk dan elastic
·         Epitel subkapsular  epitel selapis kuboid
·         Substansia lensa berbentuk sebagai prissma heksagonal, tersusun secara konsentrisdan sejajar permukaan lensa. Lensa diperkuat oleh ligamentum suspensorium yangdisebut zonula.
·         Badan vitreusMedia ini berfungsi untuk mempertahankan bentuk dan kekenyalan bola mata

Badan kaca
Peranan strruktur mata antara lain:
1. pupil : → mengatur jumlah sinar
2. retina /saraf mata:→ melalui makula lutea
rangsangan ( bay. benda) otak
Sesuai dengan fungsinya sebagai sistem optis, maka setiap sinar yang memasuki mata akan dibiaskan oleh media refrakta tersebut tepat diretina. Kedudukan mata yang normal adalah kedudukan dimana kedudukan dua bolamata yang dapat memberikan kemungkinan tercapainya penglihatan binokuler yang tunggal. Sedangkan penglihatan binokuler yang tunggal hanya mungkin dapat dicapai jika bayangan obyek yang ada dimasing-masing fove sentralis jatuh pada titik korespondensi yang sama. Selanjutnya kedua bayangan obyek tersebut akan diubah oleh sel-sel reseptor menjadi impuls syaraf dan akan diteruskan oleh nervus opticus ke otak untuk diolah menjadi sensasi penglihatan yang berasal dari mata kanan dan mata kiri akan disatukan. Upaya otak untuk menyatukan dua sensasi penglihatan menjadi satu sensasi penglihatan binokuler tunggal disebut unifikasi.
Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang sumbu bolamata demikian seimbang, sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Pada mata normal disebut mataemmetropia, yaitu suatu keadaan dimana sinar-sinar sejajar yang memasuki bolamata dibiaskan oleh media refrakta dalam sumbu orbital tepat pada retina tanpa melakukan akomodasi. Tetapi jika sinar yang memasuki bolamata dibiaskan oleh media refrakta dalam sumbu orbital tidak tepat pada retina maka disebut dengan mata ametropia. Pada mata ametropia tidak terdapat keseimbangan antara kekuatan pembiasan media penglihatan dengan panjang subu bolamata, ametropia merupakan kelainan refraksi.
Kelainan refraksi pada mata ( ametropia )merupakan penyebab dari penurunan tajam penglihatan, kelainan refraksi ditetapkan menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Hypermetropia atau hyperopia
  2. Astigmat atau astigmatismus
  3. Myopia
Untuk kasus presbiopia tidak termasuk dalam kelainan refraksi, presbiopia adalah suatu hal yang wajar yang pasti dialami oleh setiap orang yang diawali pada usia 38-40 tahun. Presbiopia akan meningkat sesuai dengan bertambhnya usia seseorang. Presbiopia disebabkan oleh lensa mata yang tidak elastis lagi, semakin bertambah usia semakin kaku lensa matanya, sehingga akan terganggu pula akomodasinya yang mengakibatkan ketika melihat dekat menjadi kabur.
mekanisme penglihatan normal
Cahaya masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Pupil merupakan lubang bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Pupil membesar bila intensitas cahaya kecil (bila berada di tempat gelap), dan apabila berada di tempat terang atau intensitas cahayanya besar, maka pupil akan mengecil. Yang mengatur perubahan pupil tersebut adalah iris. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen dan tampak di dalam aqueous humor, karena iris merupakan cincin otot yang berpigmen, maka iris juga berperan dalam menentukan warna mata. Setelah melalui pupil dan iris, maka cahaya sampai ke lensa. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor, melekat ke otot–otot siliaris melalui ligamentum suspensorium

Tidak semua orang mempunyai visus yang sama. Visus dipergunakan untuk menentukan penggunaan kacamata. Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kaca mata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata secara keseluruhan.
   Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunnya visus. Visus perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan mata.
Pemeriksaan visus dapat dilakukan dengan menggunakan Optotype Snellen, kartu Cincin Landolt, kartu uji E, dan kartu uji Sheridan/Gardiner. Optotype Snellen terdiri atas sederetan huruf dengan ukuran yang berbeda dan bertingkat serta disusun dalam baris mendatar. Huruf yang teratas adalah yang besar, makin ke bawah makin kecil. Penderita membaca Optotype Snellen dari jarak 6 m, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi. Pembacaan mula-mula dilakukan oleh mata kanan dengan terlebih dahulu menutup mata kiri. Lalu dilakukan secara bergantian. Tajam penglihatan dinyatakan dalam pecahan. Pembilang menunjukkan jarak pasien dengan kartu, sedangkan penyebut adalah jarak pasien yang penglihatannya masih normal bisa membaca baris yang sama pada kartu.

a. Penglihatan normal
 Pada keadaan ini penglihatan mata adalah normal dan sehat


b. Penglihatan hampir normal
Tidak menimbulkan masalah yang gawat, akan tetapi perlu diketahui penyebabnya. Mungkin suatu penyakit masih dapat diperbaiki.
 c. Low vision sedang
Dengan kacamata kuat atau kaca pembesar masih dapat membaca dengan cepat.
 d. Low vision berat
Masih mungkin orientasi dan mobilitas umum akan tetapi mendapat kesukaran pada lalu lintas dan melihat nomor mobil. Untuk membaca diperlukan lensa pembesar kuat. Membaca menjadi lambat.




e. Low vision nyata
Bertambahnya masalah orientasi dan mobilisasi. Diperlukan tongkat putih untuk mengenal lingkungan. Hanya minat yang kuat masih mungkin membaca dengan kaca pembesar, umumnya memerlukan Braille, radio, pustaka kaset.
f. Hampir buta
Penglihatan kurang dari 4 kaki untuk menghitung jari. Penglihatan tidak bermanfaat, kecuali pada keadaan tertentu. Harus mempergunakan alat nonvisual.
 g. Buta total
Tidak mengenal rangsangan sinar sama sekali. Seluruhnya tergantung pada alat indera lainnya atau tidak mata. Di bawah ini ditunjukkan tabel penggolongan keadaan tajam penglihatan normal, tajam penglihatan kurang (low vision) dan tajam penglihatan dalam keadaan buta


























LO  IV : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN INFEKSI KORNEA (KERATITIS)

1.Definisi
Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma (Ilyas, 2006).

Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.1,2 Keratitis dapat disebabkan karena sindrom dry eye, blefaritis, konjungtivitis kronis, keracunan obat, sinar ultraviolet, atau dapat juga karena infeksi sekunder. Gejala klinisnya dapat berupa, mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan. Gejala lainnnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal dan mengeluarkan kotoran.

2.Klasifikasi

Keratitis dapat dibagi berdasarkan etiologi dan lokasi.

Berdasarkan Lokasi:
Keratitis Superficial :
1. Keratitis epitelial (tes fluoresin +)
a. Keratitis pungtata superficial
b. Keratitis Herpes simpleks
c. Keratitis Herpes zooster
2. Keratitis subepitelial (tes fuoresin -)
a. Keratitis numularis dari Dimmer
b. Keratitis disiform dari Westhoff
3. Keratitis stromal (tes fluoresin -)
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus

Keratitis Profunda :
1. Keratitis Interstitial
2. Keratitis Sklerotikans
3. Keratitis Disiformis

Keratitis Superfisial Nonulseratif :
1. Keratitis pungtata superfisial dari Fuchs
2. Keratitis numularis dari Dimmer
3. Keratitis disiformis dari Westhoff
4. Keratokonjungtivis epidemika

Keratitis Superfisial Ulseratif :
1. Keratitis pungtata ulseratifa
2. Keratitis flikten
3. Keratitis herpetika
4. Keratitis sika
5. Rosasea keratitis

Keratitis Profunda Nonulseratif :
1. Keratitis interstitial
2. Keratitis pustuliformis profunda
3. Keratitis disiformis
4. Keratitis sklerotikans

Keratitis Profunda Ulseratif :
1. Keratitis et lagoftalmus
2. Keratitis neuroparalitik
3. Dll.

Menurut Etiologi :
1. Bakteri : Diplococcus pneumonia, Streptococcus hemolyticus, Pseudomonas aeroginosa,dll
2. Virus : Herpes simpleks, Herpes zooster, dll
3. Jamur : Candida, Aspergillus sp.
4. Alergi
5. Avitaminosis A
6. Kerusakan N.V


• Keratitis Pungtata Superfisial
Keratitis Pungtata Superfisialis adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada permukaan kornea mati. Mata biasanya terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis ini dapat bersifat ulseratif atau non ulseratif.

• Keratitis Numularis
Keratitis ini didiuga oleh virus. Klinis tanda-tanda radang tidak jelas, di kornea terdapt infiltrat bulat-bulat subepitelial, dimana ditengahnya lebih jernih, disebut halo. Keratitis ini bila sembuh akan meninggalkan sikatrik yang ringan.

• Keratitis Disiformis
Keratitis ini awalnya banyak ditemukan pada petani di pulau jawa. Penyebabnya adalah virus yang berasal dari sayuran dan binatang. Di kornea tampak infiltrat bulat-bulat, yang ditengahnya lebih padat dari pada dipinggir. Umumnya menyarang usia 15-30 tahun.

• Keratokonjungtivis Flikten
Terutama didapatkan pada anak-anak dengan kebersihan yang buruk. Biasanya didaptkan pembesaran kelenjar leher dan tonsil. Dikornea flikten merupakan benjolan dengan diameter 1-3 mm berwarna abu-abu dan menonjol di atas permukaan kornea.

• Keratokonjungtivis Sika
Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea an konjungtiva. Kekeringan ini dapat disebabkan kurnagnya komponen lemak, kurangnya air mata, kurangnya komponen musin, penguapan berlebihan dll. Penderita akan mengeluh mata gatal, fotofobia, berpasir, dll.

• Keratitis Rosasea
Keratitis yang didapat pada orang yang menderita acne rosasea, yaitu penyakit dengan kemerahan dikulit, disertai akne di atasnya.

• Keratitis lagoftalmos
Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip. Umumnya bagian yang terkena adalah kornea bagian bawah

Faktor-faktor Resiko
Faktor-faktor resiko yang memicu terjadinya keratitis termasuk segala lesi yang mengenai permukaan epitel dari kornea. Penggunaan dari kontak lensa meningkatkan resiko terjadinya keratitis, terutama jika cara penggunaannya tidak baik. Selain itu, penurunan kualitas dan atau kuantitas dari air mata juga dapat memicu timbulnya keratitis. Gangguan fungsi imun seperti pada penyakit AIDS atau penggunaan kortikosteroid dan kemoterapi juga dapat meningkatkan perkembangan munculnya keratitis.


3.Etiologi dan faktor pencetus
Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe 1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik (Mansjoer, 2001).


4.Epidemiologi Keratitis

Menurut Murillo-Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena keratitis bakteri per tahun. Kejadian keratitis bakteri bervariasi, dengan lebih sedikit pada negara-negara industri yang secara signifikan lebih sedikit memiliki jumlah pengguna lensa kontak dan karena insiden keratitis jamur bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan berkisar dari2% dari kasus keratitis di New York untuk 35% di Florida. Spesies Fusarium merupakan penyebab paling umum infeksi jamur kornea di Amerika Serikat bagian selatan (45-76% dari keratitis jamur), sedangkan spesies Candida dan Aspergillus lebih umum di negara-negara utara. tu, secara signifikan lebih sedikit yang berkaitan dengan infeksi lensa kontak.
















5.Patofisiologi Keratitis


Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai pertahanan imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah mengalami dilatasi, kemudian terjadi kebocoran scrum dan clemen darah yang meningkat dan masuk kedalam ruang ekstraseluler. Elemen-elemen darah makrofag, leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein C-reaktif imunoglobulin pada permukaan jaringan yang utuh membentuk garis pertahanan yang pertama. Karena tidak mengandung vaskularisasi, mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau di kornea terjadi vaskularisasi. Rangsangan untuk vaskularisasi rupa-rupanya timbul oleh adanya jaringan nekrosis, mungkin dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal kornea yang avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi vaskularisasi terjadi juga pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel. Reaksi imunologik di kornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai dengan kegiatan imunologik dalam nodus limfe yang masuk Limbus, kornea perifer dan sklera letaknya berdekatan dapat ikut terkaitdalam sindrom iskhemik kornea perifer, suatu kelainan yang jarang terjadi, tetapi merupakan kelainan yang serius. Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, barangkali hubungan kornea dengan sklera di limbus dapat bertindak sebagai nodulus limfe aksesorii yang ikut terkait dalam menimbulkan penyakit imunologik. Antigen cenderung ditahan oleh komponen polisakarida di membrana basalis. Dengan demikian antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lama akan menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di limbus. Sel-sel ini bergerak ke arah sumber antigen di kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat dimulai oleh berbagai stimuli. Bahwa pada proses imunologik secara histologik terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatan dengan ulkus penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Pada keratitis herpetika yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan timbul limfosityang sensitif terhadap jaringan kornea.

6.Manifestasi Klinik 

Secara umum:
Ø  Photofobia
Ø  Discomfort
Ø  Rasa berpasir
Ø  Nyeri hebat
Ø  Lakrimasi ekstensif
Ø  Discharge (jika konjungtiva inflamasi)
Ø  Penurunan ketajaman penglihatan
Ø  Blepharospasme (spasme kelopak mata/ tidak bisa membuka mata)
Ø  Pada inspeksi tampak ulserasi kornea
Keratitis virus

·         Keratitis herpetik : manifestasi klinik seperti infeksi herpes simpleks

·         Keratitis herpes zoster Daerah mata :
rasa sakit pada daerah terkena dan badan terasa hangat.Penglihatan berkurang dan merah. Pada kelopak akan terlihat vesikel daninfiltrat pada kornea.

·         Keatitis dendritik 
Bermanifestasi dalam bentuk keratitis dengan gejala ringan sepertifotopobia,kelilipan,tajam penglihatan menurun,konjungtiva hiperemia disertaidengan sensitibilitas kornea yang hipestesia.

Keraokonjungtiva epidemi
Umumnya pasien demam,merasa seperti ada benda asing, kadang-kadang disertainyeri periorbita. Akibat keratitis penglihatan akan menurun. Ditemukanedema kelopak dan folikel konjungtiva, pseudomembran padakonjungtivatarsal yang dapat membentuk jaringan parut

Keratitis filamentosa
Gejalannya berupa rasa kelilipan,sakit silau,blefarospasme dan epifora. Dapat berjalan menahun ataupun akut.
Mata merah dan terdapat defek epitel kornea

7.Diagnosis dan Pemeriksaan

Ophtalmoscopy
            Digunakan untuk melihat bagian dalam mata dan memeriksa adanya tumor, peningkatan tekanan, dan kelainan di dalam pembuluh darah.
Optotipe Snellen
Tajam penglihatan ditentukan dengan menggunakan optotipe snellen. Optotipe Snellenmerupakan optotipe dengan huruf yang ukurannya berbeda pada setiap barisnya.Ditempatkan pada jarak tertentu ( 6m) didepan pasien yang akan diperiksa. Tajam
 
 penglihatan normal pada jarak ini ditentukan dengan visus 6/6.

Gangguan tajam penglihatan dapat disebabkan karena:
Kelainan media refraksi: miopia ( rabun jauh), hipermetropia ( rabun dekat),astigmant atau silindris.
Kelainan media refrakta : kornea, akuous humor, lensa, badan kaca/ korpusvitreus.
Retina atau saraf optik 
Pusat penglihatan di otak 

Alat : - Optotipe SnellenTrial LensTrial frame

Tehnik pemeriksaan :Pasien duduk menghadap optotipe Snellen dengan jarak 6 mPasang trial frame pada mataSatu mata ditutup dengan ocluder.
Biasanya yang ditutup adalahmata kiri dan yang diperiksa adalah mata kanan dahulu
Pasien diminta untuk membaca huruf pada optotipe Snellendimulai dari huruf yang terbesar sampai ke huruf terkecil pada baris-baris selanjutnya yang masih dapat terbaca

Menilai hasil pemeriksaan
Tajam penglihatan dicatat sebagai AV OD ( acuity visual ocular dextra ) / UVA ( uncorrected visual acuity ) untuk tajam penglihatan mata kanan. AV OS ( acuity visual ocular sinistrauntuk tajam penglihatan mata kiri.

Bila huruf terkecil yang masin dapat dibaca pada baris dengantanda 6, dikatakan tajam penglihatan 6/6. Artinya orang dengantajam penglihatan normal melihat obyek pada jarak 6 m dandemikian halnya dengan penderita

Bila pasien tidak dapat membaca huruf terbesar pada OptotipeSnellen, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan uji hitung jari.

Uji Hitung JariJari
dapat dilihat dengan tajam penglihatan normal pada jarak 60 m. Dilakukan bila pasien tidak dapat melihat huruf terbesar pada optotipe snellen.


Teknik pemeriksaan :
Pasien duduk Mata diperiksa satu-persatuPasien diminta untuk menghitumg jumlah jari pemeriksa yangdimulai dari jarak 5 m hingga jarak terdekat 1 m dengan pasien.

Hasil pemeriksaan :
Bila jari yang tterlihat dan dapat dihitung jumlahnya tanpa salah pada jarak 3 m maka tajam penglihatan pasien adalah 3/60Bila pasien tetap tidak dapat melihat dan menghitung jari hingga jarak 1 m, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan uji lambaiantangan

Uji Lambaian Tangan
Uji Proyeksi Sinar 
Uji Lubang Kecil ( Pin Hole Test )
Uji Malingering
Pemeriksaan Tekanan Intra Okular mataPemeriksaan Funduskopi -Direct Ophthalmoscop

Ø  Diagnosis banding


Konjungtivitis
Keratitis
Uveitis Anterior
Glaukoma Kongestif Akut
Visus
Normal
Tergantung letak infiltrat
Menurun perlahan, tergantung letak radang
Menurun mendadak
Hiperemi
Konjungtiva
perikornea
siliar
Mix injeksi
Epifora, fotofobia
-
+
+
-
Sekret
Banyak
-
-
-
Palpebra
Normal
Normal
normal
Edema
Kornea
Jernih
Bercak infiltrat
Gumpalan sel radang
Edema, suram (tidak bening), halo (+)
COA
Cukup
cukup
Sel radang (+)
dangkal
H. Aquous
Normal
normal
Sel radang (+), flare (+), tyndal efek (+)
Kental
Iris
Normal
normal
Kadang edema (bombans)
Kripta menghilang karena edema
Pupil
Normal
normal
miosis
Mid midriasis (d:5mm)
Lensa
Normal
normal
Sel radang menempel
Keruh








Ø  Diagnosa Banding Tipe Konjungtivitis yang lazim

Klinik&sitologi
Viral
Bakteri
Alergi
Gatal
Minim
Minim
Hebat
Hiperemia
Profuse
Sedang
Sedang
Eksudasi
Minim
Menguncur
Minim
Adenopati preurikular
Lazim
Jarang
Tidak ada
Pewarnaan kerokan & eksudat
Monosit
Bakteri, PMN
Eosinofil
Sakit tenggorokan
Kadang
Kadang
Tak pernah
Lakrimasi
++
+
+

8.Terapi
Bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea, sambil memperkecil efek merusak akibat respon radang.
1.Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epitelial, karena virus berlokasi di dalam epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea, namun epitel terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Yodium atau eter topikal tidak banyak manfaat dan dapat menimbulkan keratitis kimiawi. Obat siklopegik seperti atropi 1 % atau homatropin5% diteteskan kedalam sakus konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumny adalah 72 jam. Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan karena tidak perlu ditutup, namun ada kemungkinan pasien menghadapi berbagai keracunan obat (Vaughan, 2009).
2.Terapi obat
Agen anti virus topikal yang di pakai pada keratitis herpes adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir. Trifluridine dan acyclovir jauh lebih efektif untuk penyakit stroma dari pada yang lain. Idoxuridine dan trifluridine sering kali menimbulkan reaksi toxik. Acyclovir oral ada mamfaatnya untuk pengobatan penyakit herpes mata berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif (eczema herpeticum). Study multicenter terhadap efektivitas acyclovir untuk pengobatan kerato uveitis herpes simpleks dan pencegahan penyakit rekurens kini sedang dilaksanakan ( herpes eye disease study) (Vaughan, 2009).
Replikasi virus dalam pasien imunokompeten, khususnya bila terbatas pada epitel kornea, umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga mempermudah perlunakan kornea, yang meningkatkan risiko perforasi kornea. Jika memang perlu memakai kortikosteroid topikal karena hebatnya respon peradangan, penting sekali ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus (Vaughan, 2009).
3. Bedah
Keratolasti penetrans mungkin diindentifikasi untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens (Vaughan, 2009).
Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma atau superinfeksi bakteri atau fungi mungkin memerlukan keratoplasti penetrans darurat. Pelekat jaringan sianokrilat dapat dipakai secara efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft “petak” lamelar berhasil baik pada kasus tertentu. Keratoplasi lamelar memiliki keuntungan dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan terjadi penolakan transparant. Lensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat padakeratitis herpes simplek (Vaughan, 2009).
4. Pengendalian mekanisme pemicu yang mengaktifkan kembali infeksi HSV
Infeksi HSV rekurens pada mata banyak dijumpai kira – kira sepertiga kasus dalam 2 tahun serangan pertama. Sering dapat ditemukan mekanisme pemicunya. Setelah denga teliti mewawancarai pasien. Begitu ditemukan, pemicu itu dapat dihindari. Aspirin dapat dipakai untuk mencegah demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar UV dapat dihindari. Keadaan – keadaan yang dapat menimbulkan strea psikis dapat dikurangi. Dan aspirin dapat diminum sebelum menstruasi (Vaughan, 2009).

9.Prognosis

Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa.
Keratitis Virus Varisela Zoster
Infeksi virus varicella zoster terjadi dalam 2 bentuk: primer (varicella) dan rekuren (zoster). Manifestasi pada mata jarang terjadi pada varicella namun sering pada zoster ophthalmic. Pada varicella, lesi mata umumnya pada kelopak dan tepian kelopak. Jarang ada keratitis (khas lesi stroma perifer dengan vaskularisasi), dan lebih jarang lagi keratitis epithelial dengan atau tanpa pseudodendrite. Pernah dilaporkan keratitis disciformis, dengan uveitis yang lamanya bervariasi (Vaughan, 2009).
Berbeda dari lesi kornea varicella, yang jarang dan jinak, zoster ophthalmic relatif banyak dijumpa, kerap kali disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan status kekebalan pasien. Komplikasi kornea pada zoster ophthalmic dapat diperkirakan timbul jika terdapat erupsi kulit di daerah yang dipersarafi cabang-cabang Nervus Nasosiliaris (Vaughan, 2009).
Berbeda dari keratitis HSV rekuren, yang umumnya hanya mengenai epithel, keratitis VZV mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. Lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang pada pseudodendrite linear yang sedikit mirip dendrite pada keratitis HSV. Keluhan stroma disebabkan oleh edema dan sedikit infiltrate sel yang pada awalnya hanya subepitel. Keadaan ini dapat diikuti penyakit stroma dalam dengan nekrosis dan vaskularisasi. Kadang-kadang timbul keratitis disciformis dan mirip keratitis disciformis HSV. Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh. Uveitis yang timbul cenderung menetap beberapa minggu sampai bulan, namun akhirnya sembuh. Skleritis dapat menjadi masalah berat pada penyakit VZV mata (Vaughan, 2009).
Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil baik untuk mengobati herpes zoster ophthalmic, khususnya pada pasien yang kekebalannya terganggu. Dosis oralnya adalah 800mg, 5 kali sehari untuk 10-14 hari. Terapi hendaknya dimulai 72 jam setelah timbulnya kemerahan. Peranan antivirus topikal kurang meyakinkan. Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaukoma sekunder. Penggunaan kortikosteroid sistemik masih kontroversial. Terapi ini mungkin diindikasikan untuk mengurangi insidensi dan hebatnya neuralgia paska herpes. Namun demikian keadaan ini sembuh sendiri (Vaughan, 2009).
 Keratitis Fungi
Keratitis jamur dapat menyebabkan infeksi jamur yang serius pada kornea dan berdasarkan sejumlah laporan, jamur telah ditemukan menyebabkan 6%-53% kasus keratitis ulseratif. Lebih dari 70 spesies jamur telah dilaporkan menyebabkan keratitis jamur (Grayson, 1983).
Prognosis
Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa.








































LO VI : MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KESEHATAN MATA DALAM ISLAM
Menjaga Pandangan Mata

Menundukkan pandangan bukan berarti harus menundukkan kepala sehingga berjalan tak fokus arah, atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali. Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau menundukkan pandangan.
Maksudnya adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain, lalu ia tidak mengamat-amati keelokan parasnya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya. Singkatnya, menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala dan Rasul-Nya untuk kita memandangnya.
Dalil Kewajiban Menahan Pandangan
1. Dari al-Qur’an
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur [24]: 30-31)
Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata ‘min’ dalam ‘min absharihim’ maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja.
Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).
Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.
Berkata Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy—rahimahullah, “Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa yang menjadikan mata itu berdosa karena memandang hal-hal yang dilarang berdasarkan firman Allah Subhaanahu Wata’ala yang artinya,
“Dia mengetahui khianatnya (pandangan) mata dan apa yang disembunyikan oleh hati”. (QS. Ghafir: 19).
Ini menunjukkan ancaman bagi yang menghianati matanya dengan memandang hal-hal yang dilarang.”
Imam al-Bukhary—rahimahullah—berkata, “Makna dari ayat (an-Nuur: 31) adalah memandang hal yang dilarang karena hal itu merupakan pengkhianatan mata dalam memandang.” (Adhwa` al-Bayan 9/190).
2. Dalil dari Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
Dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya.” (HR. Muslim).
Maksudnya, jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian (selimut), dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian (selimut).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Ali Radhiyallahu Anhu, “Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan dinyatakan hasan oleh al-Albani).
Imam An-Nawawy mengatakan, “Pandangan kepada selain mahram secara tiba-tiba tanpa maksud tertentu pada pandangan pertama maka tak ada dosa. Adapun selain itu, bila ia meneruskan pandangannya maka hal itu sudah terhitung sebagai dosa.”
الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ
“Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang.” (Muttafaq ‘alaih).
Imam Bukhari dalam menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa selain kemaluan, anggota badan lainnya pun dapat berzina.
Akibat Negatif Memandang yang Haram
1 Rusaknya hati
Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Segala peristiwa bermula dari pandangan, dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa maka akan ada satu noda hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan berlepas dari dosanya maka hatinya akan menjadi bersih, namun jika dosanya bertambah maka noda hitam tersebut akan semakin bertambah hingga menutupi hatinya, itulah noda yang disebutkan oleh Allah Azza Wajalla dalam al-Qur`an (artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya dosa yang mereka perbuat itu menutupi hati mereka.”
2. Terancam jatuh kepada zina
Ibnul Qayyim—rahimahullah—berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina).
Akses terhadap pornografi yang begitu mudah, hingga kalangan anak-anak sekalipun telah menjadi pemicu meningkatnya pemerkosaan dan seks bebas. Semuanya berawal dari mata yang khianat terhadap larangan-larangan Allah Azza Wajalla.
3. Lupa ilmu
Imam Waki’ bin Jarrah salah seorang guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”
Kebiasaan seseorang menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan akan menjadikan hatinya bersih. Kebersihan hati memudahkan masuknya nur atau cahaya petunjuk dari Allah Subhaanahu Wata’ala kedalamnya.
Sebaliknya kebiasaan memandang hal-hal yang diharamkan Allah, seperti aurat orang lain maka akan menjadikan hatinya kotor dengan kemaksiatan dan dosa yang lama-kelamaan semakin menutupi kebersihan hatinya sehingga sulit ditembus oleh nur hidayah-Nya.
4. Turunnya bala’
Amr bin Murrah berkata, “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Kuharap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”
5. Menambah lalai terhadap Allah Azza Wajalla dan hari akhirat
 6. Rendahnya nilai mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).
Manfaat Menahan Pandangan
Di antara manfaat menahan pandangan adalah:
Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.
Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.
Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi.
Mempertajam firasat dan prediksi
Syuja’ Al-Karmani berkata,
“Siapa yang menyuburkan lahiriyahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah.”
Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (kecintaan dari Allah Subhaanahu Wata’ala).
Al-Hasan bin Mujahid berkata,
غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.
“Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah akan mewarisi cinta Allah.”
Faktor-faktor Penyebab Mampu Menahan Pandangan
Di antara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:
Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.
Menjauhkan diri dari semua penyebab mengumbar pandangan.
Meyakini semua bahaya mengumbar pandangan.
Meyakini manfaat menahan pandangan.
Melaksanakan pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.
Memperbanyak puasa.
Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan).
Bergaul dengan orang-orang shaleh dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rusak akhlaknya.
Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.
Wallahul Musta’an wailaihi at Tu


















DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit Buku Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. 147-6.
2. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes : Opthalmologi. Edisi 9. Jakarta Penerbit Erlangga Medikal Series; 2006. 66-0.
3. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Edis 5. Jakarta. 1990
4. Sherwood, Laralee. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2001
5. www.scribd.com